FASAD KEYAKINAN

December 8, 2011

Oleh: Alia Swastika (Kurator Biennale Jogja XI)

Philosophy is questions that may never be answered.  Religion is answers that may never be questioned.  ~Author Unknown

Dalam buku-buku pelajaran sekolah yang saya baca selama bertahun-tahun masa belajar, saya selalu diingatkan terus menerus tentang betapa kayanya Indonesia akan keragaman etnis dan suku bangsa, kebudayaan dan kepercayaan. Generasi saya, juga generasi yang lahir satu dekade sebelum dan sesudahnya, menerima ‘gagasan ideal’ tentang Indonesia yang penuh keragaman. Dengan peneguhan yang terus menerus  semacam ini, keberagaman latar belakang yang pada akhirnya didefinisikan sebagai sebuah bangsa, lebih dilihat sebagai sebuah fakta yang niscaya dan menjadi sesuatu yang (seolah-olah) terberi , alih-alih dilihat sebagai fakta yang harus dikembangkan menjadi proses bersama (erkait dengan identitas kebangsaan).  Merefleksikan pada pengalaman personal saya, saya sendiri menjadi bagian dari generasi itu, dimana keluarga saya menjelma menjadi kelompok muslim kelas menengah yang baru, tetapi pada saat yang sama sangat terbuka pada gagasan-gagasan modernitas ala Barat. Sebagai muslim, saya dibesarkan di sekolah dasar yang dikelola oleh Yayasan Katholik, dan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan nasrani, yang kemudian hari membantu saya bersikap terbuka pada kepercayaan lain.  Nama saya mengandung sebuah kata Hindu, yang juga dengan mudah ditemukan pada nama teman muslim lainnya. Sahabat saya semasa di sekolah menengah adalah seorang Bali dengan tradisi Hindu yang sangat kuat.

Di luar meta-fiksi yang lain mengenai keberhasilan pembangunan selama tiga puluh tahun, gagasan bahwa masyarakat Indonesia “hidup berdampingan dengan damai” merupakan bagian dari slogan-slogan yang dilancarkan untuk mempertahankan stabilitas politik, meskipun, pada sisi yang lain, mengorbankan prinsip-prinsip demokrasi. Situasi inilah yang sekiranya memuncak pada berbagai fenomena yang membawa serta nama Tuhan dan agama, di tengah konflik-konflik antar masyarakat dan antara Negara-masyarakat. [ Read more ]

biennale Yogyakarta

Oleh : Suman Gopinath

 Jogja XI: Biennale Equator mengambil fokus pada dua negara yang terletak di khatulistiwa – India dan Indonesia – dan disebut Shadow Lines (Garis Bayang).

Diambil dari judul buku-nya Amitav Ghosh Shadow Lines, frase ini menandai banyak pengertian: ia merujuk pada garis imajiner yang mengelilingi dunia, yang tampak jelas di satu perspektif, namun tidak ada bagi perspektif lain; mungkin ia juga merujuk pada terbentuknya negara modern di Asia Selatan dan batasan geo-politik yang rentan atau pada garis yang menyatukan orang dan yang memisahkan mereka. Sebagai kiasan, Shadow Lines juga merujuk pada tema yang memayungi bienalle ini, ‘religiusitas, spiritualitas, dan kepercayaan,’ dan garis tipis yang mengantarainya. Gagasan-gagasan ini menjadi kerangka bagi bienalle Jogja dan juga merupakan kacamata untuk merefleksikan persoalan kedua bangsa tersebut di hari ini.

Sementara dalam biennale ini perjumpaan antara India dan Indonesia berlangsung dalam pengertiannya yang kontemporer, kaitan antara kedua negara ini terjalin sejak beberapa milenia lalu, mulai dari rute perjalananlaut dan darat yang menghubungkan kedua negara melalu perdagangan dan agama. Meskipun Indonesia adalah negara yang kini adalah mayoritas Muslim, masa lalu Hindu-Budha yang sudah hadir sejak 1400 tahun sebelum menyebarnya Islam (di abad 15) masih bertahan dengan banyak bentuk “separuh terhapus, sedikit misterius, namun masih mempesona seperti Borobudur itu sendiri”[1]. Pada pergantian abda 20, penyair Rabindranath Tagore, yang dianggap sebagai salah satu perintis yang membangun jembatan antara kedua negara, adalah salah satu orang India pertama yang melakukan upaya serius dalam mendirikan lalu lintas dua arah untuk studi keilmuan dan seniantara India dan Indonesia. Pada1955,   Jawaharlal Nehru dan Sukarno, pimpinan dari kedua negara yang barusan merdeka ini menandatangani “Perjanjian Bandung” yang dianggap sebagai titik balik bagi politik anti-kolonial dan hubungan internasional modern. Konferensi Asia-Afrika ini mengajukan cita-cita yang idealis bagi negara-negara yang berlokasi di kawasan ini, yang mencakup nilai-nilai seperti ko-eksistensi damai, saling menghargai dan kerjasama. Namun seiring dengan dekolonisasi dan globalisasi, perjanjian ini semakin kehilangan maknanya: cita-cita ideal tentang multiplisitas dan ko-eksistensi damai telah sedemikian terancam dengan kekuatan-kekuatan fundamentalis yang memiliki pandangan sempit dan reduksionis atas dunia –  ‘Hindutva’ [2] seperti yang berlangsung dalam konteks India, atau ‘Islamisme’ di konteks Indonesia. Tapi kekuatan demokrasi dan undang-undang sekuler di India lebih berhasil mengatasi gejolak-gejolak tersebut ketimbang di Indonesia di mana ‘‘demokrasi terus menerus muncul sebagai cameo’’,[3] (Indonesia pertama kali memiliki pemerintahan yang terplij secara demokratis pada 1999). [ Read more ]

biennale Yogyakarta

Oleh : Agung Jenong

Biennale Jogja adalah perhelatan akbar yang diadakan tiap dua tahun sekali dan telah berlangsung sejak tahun 1988 dan saat ini telah mencapai usia yang ke 22.

Seni rupa merupakan event yang cukup bergengsi dan Biennale Jogja telah menjadi acuan dalam perkembangan seni rupa di Indonesia.

Pada Biennale Jogja XI kali ini, Yayasan Biennale Yogyakarta berfokus pada usaha untuk mengorganisir Biennale yang berskala internasional untuk membangun dialog, kerjasama dan kemitraan antarbangsa.

Selain event seni rupa, biennale Jogja juga mengadakan lomba untuk meramaikan acara di kota pelajar ini antara lain: Lomba Blog, Lomba Foto Ponsel, Lomba Kostum Lawa Kusa, Lomba Family Day.

Lomba Blog, dimana blog yang dilombakan memuat artikel tentang acara Biennale Jogja XI 2011. Hasil jeprat-jepret melalui ponsel kamu juga bisa diikut sertakan dalam Lomba Foto Ponsel. Tentunya fotomu memiliki cerita yang berhubungan dengan Biennale Jogja XI 2011.

Lomba Kostum Lawa Kusa, merupakan lomba kreasi kostum yang terbuat dari sambah plastik. Hari-hari bersama keluarga memang mengasyikkan, entah itu memasak, bermain bersama atau kegiatan yang lainya. Biennale Jogja memberikan ruang dan tempat sekaligus hadiah bagi keluarga yang beruntung dalam Lomba Family Day.

biennale Yogyakarta

Oleh : Agastaya Tapha

Mari menyebutnya mengambil sisa persediaan, refleksi atau retrospeksi, yang paling mendasar selalu disebabkan oleh jarak. Menjadi kritis membutuhkan jarak. Tetapi, bagaimana kita menciptakan jarak dari yang sesuatu yang kontemporer? Dalam istilah “menyusun sejarah”, tampaknya selalu ada kebutuhan mendesak  untuk mendokumentasikan, mengarsipkan, merekam dan mendata. Karenanya, munculnya lembaga seperti Asian Art Archive pada awal abad ke 21 (2000) dengan projek seperti Bahan-bahan untuk Masa Depan: Mendokumentasikan Seni Kontemporer Cina tahun 1980 hingga 1990 (2000) harus dilihat sebagai peristiwa penting yang membawa serta banyak implikasi. Peristiwa ini tidak hanya menyebabkan peningkatan seri produksi seni di wilayah Asia, tetapi juga menunjukkan pertumbuhan seni rupa Asia di tingkatan dunia. Ini merupakan poin penanda menuju tautan yang dekat antara fenomena global yang menonjol dan produksi seni. Tautan yang terperkirakan ini dapat membawa kita untuk mengafirmasi secara penuh keyakinan, dan, pada cara tertentu, dengan cara lebih reduktif, kepercayaan bahwa awalan menuju abad 21 sejauh ini menunjukkan perkembangan baik bagi seni India. Jika kita menimbang berbagai debat terbuka yang sering terasa melemahkan dan rangkaian upaya yang secara kritis mematikan sifat dan makna dari kata ‘baik’ itu sendiri, disini kita bisa melihat ada keterlihatan dan keberdayaan seni India  dalam satu kelonggaran baru, yang global. Seni India sudah masuk pada ‘yang global’. Bisa juga disebut Seni India sekarang menjadi kontemporer dengan terbukanya India sebagai bagian dari dunia seni global, taruh kata dengan banyaknya seniman India yang sekarang menjadi seniman internasional yang sukses. Sukses ini bisa mencakup mereka yang menjual karya dengan nilai uang yang sangat tinggi, atau mereka yang karyanya dikoleksi oleh kolektor dan museum penting. Dapat dikatakan, seni kontemporer India telah menjadi bagian dari proses yang lebih besar yang membangun struktur keseluruhan yang luas, yang diidentifikasi sebagai momen kontemporer di India. Seni kontemporer India harus dikaitkan dengan representasi senimannya pada berbagai biennale, triennale dan festival seni internasional, dan dalam wilayah lokal, dengan diselenggarakannya art fair seperti India Art Summit pada 2008. Antisipasi atas biennale internasional India yang akan diselenggarakan pada 2012 juga harus diperhitungkan. Dengan demikian, seni kontemporer India sekarang ini merupakan jejaring luas dari galeri-galeri, kolektor dan ruang seni yang diinisiasi oleh seniman. Kesukacitaan ini juga semakin ditambah dengan adanya penghargaan-penghargaan untuk seniman kontemporer, didirikannya museum-museum pribadi dan yayasan seni kontemporer serta inisiatif dari pemerintah. [ Read more ]

biennale Yogyakarta

Oleh: Eko Prawoto, Anggota Dewan Pembina Yayasan Biennale Yogyakarta

 

Biennale Jogja mencoba untuk memandang ke depan, mengembangkan perspektif baru yang sekaligus juga membuka diri untuk melakukan konfrontasi  atas ‘kemapanan’ ataupun konvensi bagi event sejenis.

Wacana seni kontemporer sangatlah dinamis, namun dikotomi sentral/pusat dan periferi/pinggiran agaknya masih sangat nyata.  Ada kebutuhan untuk mencari peluang baru dalam memberikan makna lebih atas event ini. Diangankan untuk mereka adanya suatu common platform yang sekaligus mampu memberikan  provokasi atas munculnya berbagai keragaman dalam perspektif untuk menghadirkan alternatif-alternatif baru atas wacana yang hegemonik.

Pilahan geo-politik utara selatan, pilahan atas tingkat kemajuan kesejahteraan ataupun kedekatan teritori dalam stereotype etnisitas telah memberi kontribusi tertentu dalam perkembangan budaya kontemporer selama ini. Kami mengangankan suatu yang sedikit berbeda, tentunya dengan pengharapan akan menjadi pemicu dan pemacu kemunculan relasi dan interelasi alternative atas pengoperasian kesenian dalam kehidupan.

Katulistiwa diangankan untuk menjadi semacam bingkai yang mewadahi kesamaan namun sekaligus juga menjadi garis menerus yang menembus merangkai dan bersaksi atas pengejawantahan berbagai keragaman. [ Read more ]

biennale Yogyakarta
  • Sponsorship


    Untuk mendukung Biennale Jogja XI silahkan menghubungi kantor Yayasan Biennale Yogyakarta, Telp. +62 (0) 274 587712 atau email ke

    yayasan@biennalejogja.org

  • Contact Info


    Media Center

    Elga Ayudi
    Email:
    - the-equator@biennalejogja.org


    Commitee Equator Office

    d.a Taman Budaya Yogyakarta
    Jl. Sri Wedani No. 1 Yogyakarta
    Telp. (0274) 587712 – kontak Dewi

    Email : the-equator@biennalejogja.org

  • Penyelenggara

  • Pendukung Utama

  • Dipersembahkan Oleh