Kampung Jawi di Tanah Suci: Mobilitas Peziarah Nusantara Abad 19

Seri foto Peziarah karya Mohammad Iqbal 2003

oleh Heru Prasetia (Peneliti)

Pada akhir abad 19, sebelum Sumpah Pemuda dikumandangkan, Bahasa Melayu—yang kemudian menjadi Bahasa Indonesia—adalah bahasa kedua di kota Mekah setelah Bahasa Arab. Mobilitas orang Nusantara dalam ziarah haji pada abad 19 juga bercerita tentang pertukaran pengetahuan yang menandai salah satu babak yang membentuk keislaman di Indonesia. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Begini ceritanya.

Haji, Perjalanan Mencari Ilmu

Mobilitas manusia dalam konteks perjumpaan Arab-Nusantara di abad 18 dan 19 yang punya peran penting dalam membentuk sikap beragama orang Indonesia setidaknya bisa dijumpai dalam dua hal: diaspora orang Arab (kebanyakan kaum Hadrami) di Nusantara dan perjalanan ziarah haji orang-orang Nusantara ke Mekah. Tulisan ini adalah tentang yang kedua.

Mekah adalah pusat ziarah kaum muslim. Sejak dikenalnya Islam di Nusantara sudah ada orang-orang dari Sumatera atau Jawa yang pergi ke Mekah. Tidak ditemukan data statistik mengenai hal itu, namun bisa diduga jumlahnya masih terbatas. Pada akhir abad 19 terjadi peningkatan tajam jumlah orang berziarah haji dari Nusantara ke Mekah. Pernah dalam satu waktu hampir separuh dari seluruh jamaah haji adalah dari Nusantara. Sebuah sumber yang mengutip catatan konsul asing di Jedah menyebut ada 28.000 haji asal Nusantara dari 61.000 jamaah haji yang ada di Mekah pada tahun 1920.

Mobilitas orang Nusantara ke Mekah yang sangat tinggi ini setidaknya didorong oleh dua perubahan penting. Pertama, pada tahun 1869, dibuka terusan sepanjang 163 km yang menghubungkan Suez di laut Merah dengan Port Said di Laut Tengah. Pembukaan terusan Suez ini mempermudah dan mempercepat perjalanan dari Nusantara ke Mekah. Kedua, tumbuhnya kelas menengah di Nusantara. Kendati ada kebiijakan Cultuurstelsel, masih terdapat cukup ruang bagi saudagar lokal untuk mengembangkan usaha seperti pertukangan, galangan kapal, dan transportasi dengan membangun kontak dengan pedagang-pedagang arab di sejumlah kota di Jawa. Hal itu membuat mereka cukup punya duit untuk biaya pergi ke Mekah.

Perjalanan dari Nusantara menuju Jedah berlangsung selama berbulan-bulan. Setelah menempuh perjalanan panjang, para jamaah haji itu tidak semuanya langsung pulang ke tanah air. Tidak sedikit yang bermukim dan tinggal di Mekah dalam waktu yang lama, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Para pemukim ini  membentuk satu komunitas orang-orang Jawi (Jâwiyyîn) atau perkampungan yang dikenal dengan sebutan  “Pemukim Jawah” (Bilâd al-Jâwah). Sebutan jawah atau jawi ini tidak selalu merujuk pada orang-orang dari pulau Jawa, namun juga pada orang-orang dari Nusantara bahkan Asia Tenggara. Dalam hal lain kita juga mengenal huruf jawi atau arab pegon, suatu modifikasi aksara Arab untuk menuliskan bahasa lokal yang dikembangkan komunitas ini. Koloni Jawi ini termasuk yang terbesar dari semua bangsa yang berada di Mekah. Jumlah orang Nusantara yang bermukim di Mekah terus meningkat sejak pertengahan abad 19. Pada pada tahun 1931 setidaknya terdapat 10.000 pemukim Jawah di kota Mekah.

Pada dasarnya komunitas ini adalah komunitas belajar. Orang-orang menetap di Mekah untuk memperdalam ilmu agama. Tak hanya menimba ilmu, sejumlah orang diantaranya juga menjadi guru besar di bidang ilmu agama dan muridnya datang dari berbagai bangsa.  Kita bisa menyebut sejumlah ulama asal Nusantara yang berpengaruh dan menjadi pengajar di Masjidil Haram seperti Syaikh Nawawi al-Bantani (dari namanya, kita tahu ia berasal dari Banten), Syaikh Mahfudz al-Tirmasi (asal Termas, Pacitan), dan Syaikh  Ahmad Khatib al-Minangkabawi (asal Minangkabau). Selain mengajar, mereka juga menulis sejumlah buku yang otoritatif dalam keilmuwan islam. Syaikh Nawawi al-Bantani, misalnya, menulis setidaknya 22 buku dalam Bahasa Arab dan hingga kini tidak hanya dipelajari di pesantren-pesantren di Indonesia.

Mekah, Kota Ilmu di Masa Lalu

Mekah, saat itu, adalah pusat belajar orang Islam. Kota itu masih menjadi pusat belajar para penuntut ilmu dari berbagai mazhab Islam sehingga keragaman cara pandang masih mewarnai dinamika intelektual islam di tanah haram itu.  Hampir semua mazhab Islam mendapat tempat dalam pengajaran agama di Mekah. Di sana terdapat madrasah-madrasah tempat para syaikh dari berbagai mazhab mengajarkan ilmunya.

Dinamisme intelektual kota Mekah yang tidak tunggal itu juga tercermin dari corak keilmuwan yang dibawa oleh para pemukim Jawah itu ketika pulang ke tanah air. Selain menggeluti ilmu-ilmu fikih, terdapat juga ulama-ulama tarekat yang mendalami ilmu tasawuf. Salah satu ulama asal Nusantara yang perlu disebut ketika berbicara tarekat abad itu adalah Syaikh Khatib al-Sambasi. Ia adalah orang pertama yang menggabungkan dua tarekat terkemuka (Qadiriyah dan Naqsyabandiyah)—yang di sebelumnya selalu berbeda— menjadi satu tarekat bernama Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Muridnya datang dari berbagai negeri. Tarekat ini hingga kini menjadi sangat populer dan mempunyai jutaan pengikut di Indonesia dan di berbagai penjuru dunia.

Perkuliahan para syaikh dari Nusantara ini disampaikan dalam Bahasa Melayu yang menjadi bahasa pergaulan orang-orang Nusantara di tanah Arab. Bahasa Melayu juga turut mewarnai bahasa percakapan orang-orang Mekah. Dalam percakapan sehari-hari di Mekah, kerap terdengar kata-kata dari Bahasa Melayu seperti turus (terus) atau burum (burung). Orang dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, selama berbulan (atau bahkan bertahun) saling membangun hubungan dengan bahasa yang sama. Tidak heran jika ada yang menyebut bahwa komunitas Jawi ini memainkan peran sangat penting dalam mengilhami gerakan anti-kolonial di Nusantara.

Para jamaah haji pada masa itu juga menjalin hubungan dengan gagasan-gagasan baru dari dunia Islam lain, sehingga menjadi lebih sadar terhadap kolonialisme dibanding sebelumnya. Perjalanan haji menjadi cara untuk melongok keluar jendela, melihat dunia luar dan mencuri dengar perkembangan negara-negara lain.

Perjumpaan, Pertukaran Pengetahuan

Tak pelak, gelombang ziarah haji tadi membawa perubahan pula pada wajah islam di Nusantara. Orang-orang pergi ke Mekah, bermukim di sana untuk belajar dan mengajar, kemudian pulang dengan membawa ide-ide pembaharuan. Kita bisa menunjuk K.H Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan K.H Hasyim As’yari (pendiri NU) untuk menyebut beberapa contoh.  Gelombang haji yang terjadi sebelumnya, jika merujuk Ricklefs, juga membawa perubahan pada pengajaran agama islam  di Nusantara. Pada abad 19 ini jumlah sekolah agama (pesantren) dan orang yang belajar di sana juga meningkat tajam. Statistik kolonial mencatat pada 1863 terdapat 94.000 santri di pesantren-pesantren Jawa dan meningkat menjadi 162.000 pada tahun 1872.

Semakin banyak orang belajar agama secara formal pada gilirannya mengubah bagaimana agama dipraktikkan dalam keseharian sebagian masyarakat yang pada titik tertentu kemudian menerbitkan pertentangan tajam antara mereka yang ingin menekankan agama formal dengan mereka yang mempertahankan adat—meskipun sesungguhnya adat itu sendiri adalah hasil dari proses perjumpaan panjang dengan Islam yang terjadi sebelumnya (ingat, kata adat itu sendiri berasal dari Bahasa Arab!). Sebagaimana kita tahu, polemik ini memicu munculnya berbagai naskah dan cerita lokal yang menunjukkan keunggulan nilai lokal dibanding Islam dari tanah Arab. Selanjutnya orang-orang yang enggan terhadap corak Islam formal ini mulai mengidentifikasi diri sebagai apa yang kita kenal dengan sebutan “kaum abangan”.  Sementara itu, imajinasi tentang Mekah sebagai pusat kosmis juga disertai dengan munculnya situs-situs ziarah lokal. Kita bisa menyebut Bukit Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, Batu Ampar di Madura, sebuah goa di Pamijahan Tasikmalaya yang dipercaya merupakan lorong menuju Mekah, atau makam-makam wali di sekujur Jawa.

Proses pertukaran—jika bukan pertentangan ini—menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara sesungguhnya bukan penerima pasif pengetahuan yang datang dari luar. Sebagaimana kita ketahui, ekspresi kultural dan keagamaan Islam di Nusantara tidak selalu bercorak Arab karena secara terus-menerus mengalami pergumulan dengan berbagai budaya, baik dengan budaya Arab maupun dengan kebudayaan Persia, India, hingga Cina.Meskipun belakangan, pengaruh agama formal—yang terutama bermula dari gelombang besar jamaah haji abad 19 tadi— semakin tampak lebih menonjol.

Ziarah haji beserta terbentuknya koloni kampung Jawi di abad 19 tersebut, dengan demikian, adalah salah satu penanda penting dalam proses panjang pergumulan Islam di Nusantara. Sekali lagi, terbitnya pertukaran pengetahuan tidak melulu karena perjalanan ziarah haji itu sendiri, namun juga karena hal-hal lain di sekelilingnya seperti situasi sosial politik kota Mekah serta infrastruktur pengajaran keagamaan yang tersedia. Pertukaran pengetahuan dalam mobilitas orang, sebagaimana ditunjukkan jamaah haji abad 19 tadi, hanya dimungkinkan jika ada penopang atas proses pertukaran tersebut. Hal yang sama, bisa jadi, juga berlaku dalam bidang dan urusan yang lain.

 

Sumber Pustaka:

Bruinessen, van Martin. 2012. Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat. Yogyakarta: Gading Publishing

Hurgronje,  C. Snouck. 2007. Mekka in the Latter Part of the 19th Century Daily Life, Customs and Learning. The Moslims of the East-Indian Archipelago. Leiden: Koninklijke Brill NV.

M C Ricklefs.  2007. Polarizing Javanese society : Islamic and other visions, 1830-1930 Singapore : NUS Press.

Foto ilustrasi diambil dari seri foto Peziarah karya Mohammad Iqbal (2003).