Musim Sukun

Prilla Tania

oleh Prilla Tania (seniman)

(Catatan redaksi: Esai pendek ini adalah abstraksi seniman terpilih untuk Biennale Jogja XII, Prilla Tania, yang akan melakukan residensi pada akhir Agustus di Maraya Art Centre, Sharjah, Uni Emirat Arab. Dengan gaya bercerita yang kreatif, Prilla menghadirkan sebuah refleksi atas relasi manusia, alam dan teknologi.)

Sejak lama saya tertarik dengan hubungan manusia dengan tanah(nya). Bagaimana rangkaian peristiwa dalam sejarah membentuk masyarakat (dunia) yang sedemikian rupa sekarang ini. Keterhubungan yang tersisa dan keterputusan yang berlangsung antara manusia dan tanah(nya).

Air
Makhluk hidup baik tanaman, hewan, juga manusia akan hidup di sekitar sumber makanannya dan membentuk rantai makanan. Perpindahan sumber makanan akibat salah (satunya) musim akan diikuti oleh (perpindahan) seluruh komponen rantai makanan terkait. Mungkin itu sebabnya manusa awal (pengumpul dan pemburu) harus terus hidup berpindah (nomaden).

Bahkan disaat manusia mulai mendomestifikasi tanaman pangan mereka masih bergantung pada ladang berpindah karena diperlukan nutrisi tanah yang “segar” bagi penanaman berikutnya. Atau di beberapa wilayah pertanian bergerak mengikuti siklus air. Hingga manusia menemukan teknologi pertanian seperti irigasi dan pupuk akhirnya mereka bisa menetap di suatu wilayah. Kebudayaan dan teknologi lahir dari perpaduan antara tantangan yang dihadapi dan sumber daya (resource) yang tersedia di lingkungan/alam tempat sekelompok manusia (suku) tinggal. Maka lahirlah kebudayaan pantai, gunung, pulau, padang pasir, kutub, padang rumput, dan seterusnya yang masing-masing punya kesesuaian dengan alamnya.

Di manapun manusia hidup ketersediaan air (tawar) menjadi salah satu syarat utama, itu sebabnya pemukiman/desa/kota kuno umumnya terbentuk di sekitar sungai/sumber air. Di zaman modern hal ini hanya berlaku bagi kelompok masyarakat yang bernafas seiring dengan denyut alam, bagi kebanyakan kita teknologi dipercaya mampu (hingga tahap tertentu) mengatasi “persoalan” yang berlaku di alam.

Australia barat, awal musim panas 2007 menjadi titik awal ketertarikan saya dengan persoalan tanah. Waktu itu saya tinggal di sebuah pemukiman (salah satu dari banyak) yang berdiri di atas tanah yang kering, air di tempat ini dialirkan(didatangkan) melalui pipa yang membentang (hingga ujungnya) 530 km jauhnya. Upaya yang begitu besar ternyata dimaksudkan untuk mengairi ladang emas di tepi gurun. Begitu pentingnya air bagi kehidupan kita hingga teknologi diupayakan untuk menghadirkannya di manapun manusia (ingin/perlu) hidup, di tepian gurun sekalipun. Atau begitu pentingnya emas sehingga air pun didatangkan dari tempat yang jauh.

Tanah Yang Subur dan Makmur
Tanah subur dan makmur yang menjadi sumber penghidupan manusia di zaman sekarang mengarahkan kita pada hal yang berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Air, aneka tumbuhan, dan hewan; sinar matahari sebagai ciri tanah yang subur dan makmur adalah cerita masa lampau. Sekarang daerah pertanian atau hutan rimba dianggap sebagai daerah yang tertinggal, terbelakang, dan ditinggalkan penghuninya. Rangkaian peristiwa sepanjang sejarah interaksi bangsa-bangsa di dunia mengantarkan kita pada keyakinan bahwa ilmu pengetahuan modern adalah satu-satunya cara memahami dunia; kemampuan membaca tanda alam dan isinya dianggap sesuatu yang primitif. Orang memilih untuk tinggal di kota, bekerja untuk industri dan “gedung-gedung” ketimbang bekerja untuk ladang dan “kebun-kebun”. Tambang dan industri menjadi “tanah subur” yang melahirkan kota-kota metropolitan. Kota-kota yang menjanjikan kemakmuran bagi penghuninya. Maka berbondong-bondonglah orang dari berbagai tempat merantau ke tanah-tanah yang “subur” dan makmur itu.

Untuk bertahan hidup orang tidak lagi mencari makanan tapi mencari uang (untuk kemudian “ditukarkan” dengan makanan). Uang juga bergeser fungsinya dari alat bantu tukar menukar barang menjadi komoditas itu sendiri. Aliran dan akumulasi uang kini menjadi ciri tanah yang “subur” dan makmur.

Ada Gula Ada Semut, Ada Semut Ada Gula
Orang-orang dengan latar belakang kebudayaan yang beraneka ragam datang ke tanah perantauan. Menarik mengamati bagaimana para perantau ini membawa serta “rantai makanannya”. Komponen “rantai makanan” yang dimaksud adalah toko klontong, mini/super market, dan rumah makan. Di Taipei terdapat kawasan-kawasan yang khusus menjual produk makanan dan kebutuhan sehari-hari khas Indonesia, Filipina, dan Vietnam. Di Den Haag dan Berlin terdapat supermarket yang khusus menjual bahan makanan Asia. Rumah makan Indonesia/Suriname begitu juga dengan toko makanan khas Turki tidak sulit ditemukan.

Muncul pemikiran soal hubungan manusia dengan makanannya. Kini manusia tidak lagi bergerak mengikuti perpindahan makanannya tapi dengan teknologi yang tersedia dan sistem yang berlaku makanan akan “mendatangi” manusia di manapun kita berada, di luar angkasa sekalipun.

(Foto ilustrasi diambil dari dokumentasi karya Prilla Tania, Space Within Time #11: I Am Forever, stop motion video, 2010)