Otty Widasari (IDN)

WEB OW Dwi Oblo__MG_1201

Jabal Hadroh, Jabal Al Jannah
2013, Video
Duration 10 min

Otty Widasari dilahirkan pada tahun 1973 di Jakarta. Dia hampir menyelesaikan studinya di Institut Ilmu Sosial dan Politik (Jakarta) jurusan Jurnalisme. Pada rentang 1998-1999, Otty bekerja sebagai pewarta untuk sebuah koran harian dan tabloid mingguan, serta kemudian pada 2000-2002 di sebuah stasiun televisi swasta sebagai pengarah artistik. Otty kini adalah ibu dari seorang putra dan juga pembuat film dokumenter. Ia mendirikan Forum Lenteng (Forlen), sebuah komunitas seniman, jurnalis, pekerja film, dan pegiat media lainnya. Proyekproyek Forlen pada dasarnya menekankan riset dan memperkenalkan pendekatan-pendekatan komunal dan eksperimental terhadap medium gambar bergerak. . Pada 2011, Otty terlibat dalam OK. Video – 5th Jakarta International Video Festival. Dia menjadi salah satu finalis Indonesian Art Award 2008, di Galeri Nasional Indonesia (2008). Otty juga aktif dalam dunia perfilman Indonesia. Pada 2008 ia terlibat dalam proyek film pendek 9808 bersama beberapa sutradara kenamaan Indonesia. Karya-karya filmnya telah diputar di berbagai perhelatan internasional, antara lain di Rotterdam International Film Festival pada tahun; Zinebi International Festival Documentary and Short Film of Bilbao, Spanyol; Experimenta, India; Internationale Kurzfilmtage Oberhausen, Jerman; Entre Utopia y Distopia- Palestra Asia di Museo Universitario Arte Contemporaneo, Meksiko. PAda tahun 2011 ia mengikuti 24 Edition Images Festival (Special Presentation), Toronto Free Gallery, Kanada.

Karya-karya Otty Widasari, baik dalam bentuk tulisan, video, maupun film dokumenter banyak berangkat dari pengalamannya mengamati keseharian orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Baru-baru ini, Otty tertarik mengangkat persoalan hubungan sosial yang memberikan karakter dan identitas tertentu pada sebuah ruang. Karyanya “Jabbal Hadroh, Jabbal al Jannah” adalah sebuah film pendek tentang sebuah desa di daerah Bogor, di mana para pelancong dari Kawasan Arab (kebanyakan dari Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, dan Qatar) biasa berkunjung dan berlibur. Dahulu, di daerah ini banyak terdapat bangunan warung sederhana dengan bahan seng, sehingga dikenal dengan nama Warung Kaleng. Sejak 1998, beberapa perubahan besar terjadi di daerah ini. Sejak dibanjiri oleh pelancong-pelancong Arab, arsitektur kampung ini pun berubah menjadi kearab-araban. Warung-warung itu menjual kebutuhan-kebutuhan khusus pelancong Arab, dari mulai makanan khas Arab, penukaran mata uang, tembakau impor dari Kawasan Arab, hingga pelayanan wanita-wanita penghibur. Perubahan dan pergeseran budaya di tempat ini terjadi setelah Perang Irak, karena banyaknya orang-orang dari Kawasan Arab yang pergi dan menetap sementara di luar negeri. Selain itu, berbagai gejolak politik dan ekonomi setelah krisis moneter Asia pada 1997 dan Reformasi 1998 di Indonesia juga berpengaruh terhadap perubahan yang terjadi di daerah tersebut.