Pengumuman Pemenang Pareallel Event BJ XII Equator #2

Arief Sukardono DSC_1464 rez

MEMBACA EQUATOR, MENDEFINISKAN MOBILITAS

Biennale Jogja XII: Equator 2 adalah lanjutan, namun bisa pula “kebaruan” sejarah perjumpaan dengan wilayah (kultural) Arab. Indonesian Encounters the Arab Region. Tema besar, narasi besar, dan juga memori historis yang panjang. Equator dalam sebuah kisah adalah narasi tentang garis geografis, namun juga bisa menjelma menjadi kisah tentang mobilitas kultural yang penuh pertarungan kuasa ataupun kontradiksi.Tak pelak, membaca narasi perjumpaan tak bisa dibatasi oleh peristiwa atau kategori waktu. Justru perjumpaan menampilkan ketak-terbatasan imajinasi. Demikianlah, pembacaan perjumpaan akan (kultur) Arab telah menerobos dinding-dinding waktu, menghablurkan kelampauan dan kekinian. Hal ini bisa ditengok dalam kasus-kasus yang merentang dari perjumpaan awal dengan Islam sampai ironi para TKI, perempuan yang hidup dalam batas-batas harapan dan penderitaan.

Proses pembacaan-pembacaan narasi inilah yang menyebabkan “Parallel events dari Biennale Equator XII” memperoleh hak-hak kesetaraan estetik dari “Main Exhibition”.  Seperti diuarkan oleh Boris Groys (2008), otonomi seni tidak mengandaikan suatu hierarki selera yang otonom—melain­kan penghapusan setiap hierarki semacam itu dan penciptaan rezim hak-hak estetik yang setara untuk segala karya seni. Medan seni seharusnya dilihat sebagai manifestasi yang ter­kodi­fikasi secara sosial dari kesetaraan funda­mental di antara semua bentuk, obyek, dan media visual. Hanya dengan mengandaikan kesetaraan fundamental dalam estetika dapatlah setiap penilaian, setiap penyingkiran atau perangkulan, berpotensi untuk diakui sebagai hasil resapan heteronom ke dalam ranah otonom seni.

Kekuatan Parallel Events, masih mengikuti Groys, dapatlah dijejak pada narasi perjumpaan seni di luar museum,  pembebasan dari kebaruan yang dipahami sebagai pembebasan dari sejarah seni, namun  justru terserak dalam narasi-narasi rakyat, yang hidup dalam tradisi, keseharian dan hadir di luar lingkaran tertutup dunia seni yang mapan, di luar dinding museum. Di sinilah kita menemukan keagungan teks-teks “Aksara Serang dan Bilang-Bilang”, Dunia keseharian “Arab Pasar Kliwon”, “Kisah Naik Haji”, “Kegamangan buruh perempuan migran”, sampai pertunjukan “Jathilan”.

Kisah-kisah yang terentang dari Makasar sampai Gunungkidul tersebut telah merepresentasikan perjumpaan-perjumpaan dengan budaya Arab. Di setiap perjumpaan-perjumpaan itu, samar maupun eksplisit, kita bisa menemukan “proses negosiasi” dan “konflik kuasa” yang demikian dinamis, serta menampilkan mobilitas kultural yang tak berujung. Inilah, kiranya, sumber penciptaan seni yang tiada henti.

Persoalannya, bagaimanakah realitas sebagai sumber penciptaan tersebut mampu diolah, dibongkar, disusun kembali menjadi sebuah karya seni yang menarik? Atau, jika diterjemahkan lewat aspek-aspek penilaian yang meliputi teknis (kebaruan dan kreativitas), substantif (kebaruan, kreativitas dan kesesuaian tema), managerial (bersangkut dengan keberlanjutan dan pengelolaan sumber daya), serta dimensi spasial (yang bersangkut dengan publik), manakah karya yang menampilkan karya seni menarik? Tidak mudah menilainya.

Meski demikian, toh, dewan yuri, mesti memutuskan “Pemenang Terbaik Perancangan Peristiwa Seni Rupa.” Melalui perdebatan yang alot, akhirnya kami memilih dua pemenang terbaik, yang kiranya mampu memenuhi dimensi-dimensi penilaian di atas, yaitu “Colliq Pujie” dan “Pereks”. Selanjutnya, karya-karya kelompok “Knyt Somnia”, “Kaneman Forum,” “ Habitus dan Ainun,” “Deka-Exi(s),” “Kelompok Belajar 345”, “Kandang Jaran” dan “Makcik Project” sebagai kelompok yang layak untuk hadir dalam Post event katalog Biennale Jogja XII Equator #2.

Akhirnya, terima kasih atas semua partisipasinya. Selamat melanjutkan kerja-kerja kreatif.

 

Salam Seni.

Dewan Juri:

  1. Bambang Kusumo
  2. FX. Woto Wibowo (Wok The Rock)
  3. Hanindawan
  4. Heru Prasetiya
  5. Mella Jaarsma