Rilisan Pers dan Pengumuman Seniman Partisipan Biennale Jogja XII Equator #2

Exhibition view Biennale Jogja XI-by Dwi Oblo

NOT A DEAD END
Biennale Jogja XII Equator #2
Perjumpaan Indonesia dengan Kawasan Arab
16 November 2013 s.d. 6 Januari 2014
Yogyakarta, Indonesia

Kurator:
Agung Hujatnikajennong (IDN)
Sarah Rifky (EGY)

Direktur Artistik :
Farah Wardani (IDN)

Lokasi:
Jogja National Museum
Langgeng Art Foundation
SaRang Building
HONFablab
Taman Budaya Yogyakarta

Penyelenggara:
Yayasan Biennale Yogyakarta

Seniman Partisipan:
Ahmed Mater (SAU), Agung Kurniawan (IDN), Agus Suwage (IDN), Ayman Yousri (PSE), Basim Magdy (EGY) , Dina Danish (EGY) , Duto Hardono (IDN), Eko Nugroho (IDN), FX Harsono (IDN), Handiwirman Saputra (IDN), Hassan Khan (EGY) , HONF (IDN), Jasmina Metwaly (EGY) , Leonardiansyah Allenda (IDN), Magdi Mostafa (EGY) , Mobius (ARE), Mohamed Abdelkarim (EGY) , Nasir Nasrallah (ARE), Otty Widasari (IDN), Pius Sigit Kuncoro (IDN), Prilla Tania (IDN), Radhika Khimji (OMN), Restu Ratnaningtyas (IDN), Reza Afisina a.k.a. Asung (IDN), Salwa Aleryani (YEM), Samuel Indratma (IDN), Syagini Ratna Wulan (IDN), Take to The Sea (EGY/ ITA) , Tintin Wulia (IDN), Tiong Ang (NLD), Tisna Sanjaya (IDN), UBIK (IND), Ugo Untoro (IDN), Venzha Christiawan (IDN), Wael Shawky (EGY)

Digelar pertama kali sebagai pameran yang merepresentasikan dinamika praktik seni di Yogyakarta pada 1988, Biennale Jogja kini telah menjadi perhelatan seni rupa paling kuat dan konsisten di Indonesia. Dikenal sebagai pameran unggulan yang menghadirkan praktik seni rupa kontemporer sekaligus wacana yang melingkupinya, Biennale Jogja memberikan kontribusi penting bagi dinamika dunia seni, baik lokal maupun regional, di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Dalam persaingan tajam dengan biennale-biennale besar di dunia, reputasi Biennale Jogja secara internasional telah memasuki babak baru pada tahun 2011. Penataan kembali organisasi dan manajemen yang diikuti oleh pendirian yayasan, akan menjamin keberlanjutan Biennale Jogja dengan bertumpu pada azas profesionalitas, transparansi dan akuntabilitas. Pada tanggal 23 Agustus 2010, Yayasan Biennale Yogyakarta diluncurkan sebagai lembaga resmi yang menaungi pameran dua tahunan ini.

Sebagai formulasi ulang gagasan Biennale Jogja, dalam waktu 10 tahun sampai tahun 2022, Biennale Jogja meluncurkan seri Biennale Equator, yang menetapkan lokasi katulistiwa sebagai premis utama dan wilayah kerjanya, yaitu wilayah geografis tertentu di muka bumi yang berkisar antara 23,27° lintang NL dan 23,27° SL. Dalam setiap penyelenggaraannya, Biennale Jogja akan bermitra dengan satu atau lebih negara, dan mengundang para seniman serta komunitas seni dari negara-negara mitra terpilih, untuk berkolaborasi, berkarya, berpameran, bertemu dan berdialog dengan seniman, kolektif, organisasi dan komunitas budaya, di Indonesia, khususnya Yogyakarta. Pada tahun 2011, seri Biennale Equator dimulai dengan pertemuan dengan India.

Biennale Jogja XII akan berfokus pada pertemuan antara Indonesia dan lima negara di kawasan Arab, yaitu Arab Saudi, Mesir, Oman, Uni Emirat Arab, dan Yaman. Dikuratori oleh Agung Hujatnikajennong (Indonesia) dan Sarah Rifky (Mesir), Biennale Jogja XII berangkat dari perspektif yang melihat praktik seni kontemporer sebagai representasi dari moda ‘produksi-distribusi-konsumsi’ yang telah membentuk globalisasi budaya, seperti dinyatakan berikut ini:

“Aliran dan pertukaran modal telah mengubah pemahaman kita mengenai alam dan gagasan. Cara kita menghadapi kenyataan yang berubah dan kemampuan kita untuk berpindah tempat dengan lebih mudah telah mempengaruhi persepsi kita atas banyak hal. Pameran ini akan dilaksanakan melalui jalur kolaborasi, pertukaran dan perjumpaan — di antara karya-karya seni, para seniman dan gagasan-gagasan. Sebagaimana sebuah suatu percakapan, pameran ini tidak didorong sebuah tema, melainkan dipengaruhi oleh karya-karya yang membentuknya. Menjelajahi gagasan-gagasan tentang tanah air, diaspora, tempat asing, migrasi, perjalanan, sirkulasi, keuangan, karya seni, pengalaman, dari garis-garis imajiner yang menghubungkan tempat, melalui ekonomi dan pengalaman buruh migran hingga sirkulasi barang-barang, karya-karya seni dan pameran ini secara menyeluruh menjadi situs sinkretisme – dalam arti linguistik — yang berbicara kepada Yogyakarta, sebuah kota yang sinkretik dalam formasi politik budayanya.” (Agung Hujatnikajennong dan Sarah Rifky, Februari 2013)

Diselenggrakan pada 16 November 2013 hingga 6 Januari 2014, premis kuratorial dalam perhelatan ini mengambil inspirasi dari migrasi berbagai orang dan benda yang sudah berlangsung sepanjang sejarah perjumpaan Indonesia dan wilayah Arab. Biennale Jogja XII tidak hanya menampilkan karya dan seniman dari Indonesia dan wilayah Arab (berdasarkan paspor/kebangsaan). Ini merupakan sebuah konsekuensi dari mengambil ‘mobilitas’ sebagai salah satu satu kata kunci dalam pameran.

Biennale Jogja XII diselenggarakan oleh Yayasan Biennale Yogyakarta dan didukung oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Sahabat Biennale Jogja, Kawan Sukarelawan Biennale Jogja, Djarum Foundation, Goethe Institute, Jogja National Museum, Taman Budaya Yogyakarta, Universe in Universes, dll. Penyelenggaraan Biennale Jogja XII  secara resmi berpartner dengan Beirut in Cairo, Sharjah Art Foundation dan Maraya Art Center di Uni Emirat Arab, Athr Gallery Saudi Arabia, Langgeng Art Foundation, Sarang Building, dan OFCA International.

Info lebih lanjut, silahkan hubungi:

Ratna Mufida
Email: the-equator@biennalejogja.org

Yayasan Biennale Yogyakarta
Taman Budaya Yogyakarta
Jl. Sri Wedani No.1 Yogyakarta, Indonesia
Telp: +62 274 587712
Surel: the-equator@biennalejogja.org
www.biennalejogja.org