Perjumpaan sebagai Titik Berangkat: Wawancara dengan Agung Hujatnika

Agung Hujatnika and Sarah Rifky in their visit to Barak Seni-photo by Arief Sukardono

Pada kesempatan kali ini, Brigitta Isabella, redaktur The Equator berkorespondensi via e-mail dengan Agung Hujatnika, kurator Biennale Jogja XII, untuk membicarakan visi kuratorialnya serta beberapa pandangannya tentang potensi-potensi kerja sama yang mungkin bisa berkembang dari platform BJXII kali ini.

Dalam presentasi publiknya di KKF (25/07), Sarah Rifky menceritakan pengalamannya datang ke Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung. Melihat kembali arsip-arsip peristiwa tersebut, ia merasa seperti melihat sebuah pertunjukan teater, di mana bahasa dan gestur para pemimpin negara terasa artifisial. Pertanyaannya kemudian, apakah Biennale Jogja, sebagai sebuah peristiwa besar yang rutin 2 tahunan juga sekedar sebuah aktivitas diplomasi formal? Bagaimana anda melihat posisi dan peran BJ XII dalam kerangka geopolitik masa kini?

Dari perspektif kuratorial, BJXII ini jauh dari intensi atau misi-misi diplomatik negara, apalagi diplomasi politik formal yang diniatkan sejak awal. Yayasan Biennale, meskipun bernaung di bawah pemerintah provinsi, bukanlah organisasi yang memiliki agenda semacam itu. Konsep equator yang mereka canangkan dalam penyelenggaraan rangkaian biennale, saya kira, tidak berhubungan langsung dengan mekanisme diplomasi politik formal apapun, termasuk dengan upaya untuk terlibat secara langsung dengan wacana politik selatan-selatan.

Peristiwa KAA bisa kita baca sebagai peristiwa solidaritas simbolik, bukan saja karena arsip-arsip di museum yang kini menjadi artefak beku belaka. Ia juga menjadi simbol yang mati jika kaitkan dengan kenyataan bagaimana hubungan multilateral antar negara-negara Selatan-Selatan, tak pernah benar-benar berlanjut. Gerakan Non- Blok yang menjadi gelombang penerus dari KAA juga telah menyurut (kita tahu istilah ‘blok’ tak lagi relevan dengan situasi politik internasional hari-hari ini). Tapi bukankah setiap simbol sejarah selalu ‘menunggu’ untuk dimaknai kembali secara terus menerus? Fakta bahwa gerakan itu punya gaung besar pada masanya juga tidak bisa dikecilkan. KAA tetap relevan sebagai peristiwa bersejarah yang relevan tidak hanya dengan Biennale Jogja tahun ini, tapi untuk Biennale Jogja Seri Equator secara meyeluruh.

Meskipun demikian, alih-alih mematok KAA sebagai satu-satunya rujukan sejarah, saya lebih suka menjadikannya sebagai salah satu sumber inspirasi saja untuk BJXII. Inspirasi-inspirasi lainnya datang bukan dari peristiwa atau narasi sejarah yang besar, tapi justru dari pengalaman sehari-hari. Saya lebih ingin memulai proses kuratorial pameran ini dari keinginan untuk memahami makna ‘perjumpaan’ (encounter) sebagai titik berangkat, di mana aspek ketaksengajaan, percobaan, spontanitas dan kejutan-kejutan menjadi penting. Dalam percakapan sehari-hari makna perjumpaan berbeda dengan ‘pertemuan’ (meeting) atau ‘konferensi (conference), yang identik dengan agenda-agenda besar.

Bicara tentang proses kuratorial, seperti apa peran kurator dalam BJXII kali ini, sekedar exhibition maker, diplomat ulung, mediator, atau apa? Bisakah anda juga mengelaborasi lebih lanjut mengenai pilihan tema “mobilitas” dari perspektif kuratorial yang anda tawarkan?

Sebagai kurator, saya tak pernah punya bingkai yang memadai untuk bisa melihat peran saya sendiri, kecuali sebagai seorang (curatorial) ‘labor’ — sebagai seseorang yang semata2 bekerja. Seperti halnya seniman yang bekerja untuk memenuhi suatu motif yang sangat personal, saya kira kerja kuratorial juga layak difahami sebagai pekerjaan yang mendatangkan kesenangan subjektif bagi para pelakunya — tentu saja selain tanggung jawab terhadap publik yang notabene sudah terlalu sering dibebankan kepada mereka.

Menurut saya selalu ada beberapa karakter yang bertolak belakang, namun tak bisa kita pisah-pisahkan begitu saja dalam kerja kuratorial (ia adalah pembuat pameran, diplomat, connoisseur, mediator, pustakawan, penulis, dsb., sekaligus). Akan lebih baik jika penilaian terhadap peran dan kerja seorang kurator dilakukan setelah pameran berlangsung, sebagai after-the-(f)act, pada saat dampak dari pameran tersebut dapat dilihat dalam medan seni dalam jangka waktu yang lama.

Tema mobilitas awalnya tidak dimaksudkan sebagai pijakan untuk merumuskan metode kuratorial, tapi lebih dalam kaitan dengan konsep ‘perjumpaan’. Tema ini terinspirasi oleh fenomena perpindahan/pergerakan manusia (terutama para pekerja migran dan peziarah muslim dari Indonesia ke Arab) dan bentuk- bentuk ‘migrasi’ lainnya dalam proses globalisasi secara umum. Afrizal Malna pernah menggunakan metafor migrasi untuk segala bentuk perpindahan, yang tidak hanya berlaku untuk manusia tapi juga benda-benda, bahasa dan gagasan. Biennale ini pada akhirnya mematok mobilitas dan migrasi sebagai dua kata kunci yang penting untuk melihat praktik seni rupa (dan berbagai problematika sosial, politik, ekonomi dan budaya yang digandengnya) di kawasan Arab dan Indonesia.

Salah satu bentuk pertemuan (encounter) yang digagas BJ XII akan diwujudkan dalam bentuk residensi. Mengapa residensi? Apa yang membedakan pertemuan fisik dengan pertemuan virtual di era teknologi yang semakin canggih, khususnya dalam konteks penciptaan karya seni? Bagaimana cara anda mendorong pertemuan yang tidak sekedar pemukaan dan impresi- impresi pendatang (yang biasanya) stereotipikal dalam program residensi yang durasinya hanya 2 bulan?

Saya dan Sarah Rifky beranggapan bahwa khususnya dalam bidang seni rupa kontemporer perjumpaan Indonesia dan kawasan Arab belum pernah benar2 terjadi. Perjumpaan budaya yang sebenarnya justru dilakukan oleh para pekerja migran, pelajar, peziarah muslim, atau para pedagang. Kesenian tak pernah menjadi motif utama dalam perjumpaan Indonesia dan kawasan arab. Melihat sejarah, perdagangan, migrasi dan ziarah agama justru menjadi pendorong munculnya persentuhan, pengaruh, percampuran, hingga kontradiksi kebudayaan yang kita lihat sekarang ini di Indonesia. Kami tidak ingin perjumpaan dalam BJXII (antar karya2 seni yang dipamerkan, antara seniman dengan kawasan yang ia ajak dialog, antara satu seniman dengan seniman yang lain) tidak bisa belajar dari dan merefleksikan kenyataan sosial yang sebenarnya terjadi di antara dua kawasan.

Program residensi seniman di Jogja maupun kawasan Arab hanyalah salah satu dari ‘sarana perjumpaan’ (platform of encounter) yang saya ajukan sebagai upaya untuk mengatasi minimnya interaksi dan komunikasi antara dua medan seni di dua kawasan tersebut. Sarana ini dibuat juga untuk menghindari biennale ini menjadi ‘pertemuan’ yang formal, atau artifisial, belaka, seperti yang sering kita lihat dalam pameran- pameran yang mengatasnamakan seni rupa kawasan.

Residensi pada dasarnya adalah suatu pola kerja sangat biasa dilakukan oleh seniman di mana pun. Sejumlah biennale di dunia juga sudah melakukannya. Bedanya, dalam BJ XII residensi ini diselenggarakan oleh dua pihak di dua kawasan yang bersangkutan — lebih menyerupai mekanisme pertukaran budaya, tapi dengan penekanan pada interaksi langsung dengan suatu lokasi / tempat, kebudayaan dan komunitas setempat. Konsekuensinya pendekatan etnografik (melalui perjumpaan yang bersifat fisikal dan empirik) menjadi bagian yang inheren dalam rencana karya-karya yang akan dibuat. Saya tidak khawatir dengan hasil yang stereotipe karena waktu residensi yang pendek. Dengan kapasitas kreatif mereka, para seniman residen juga pasti sudah menyadari resiko-resiko semacam itu dan sebisa mungkin menghindarinya sejak awal.

Selain residensi yang menuntut seniman berpindah tempat dan bermigrasi untuk bekerja, saya dan Sarah juga mengajukan sarana/platform lain yang lebih banyak memanfaatkan komunikasi virtual. Sarana ini belum punya nama resmi sampai hari ini. Yang kami lakukan adalah menjadi semacam ‘makcomblang’ untuk proyek kolaborasi antara seniman di dua kawasan. Sebisa mungkin proyek-proyek kolaborasi ini menghasilkan suatu perjumpaan dan ‘percampuran’ antara dua pihak. Saya meminta beberapa seniman untuk mengajukan semacam proposal karya, untuk direalisasikan oleh seniman-seniman lain. Kami berupaya menjodohkan seniman-seniman yang punya kecenderungan serupa maupun berbeda sama sekali (beberapa proyek bersifat inter- disiplin). Bagi kami, ini adalah bagian pameran yang paling menantang, sekaligus eksperimental. Kami sadar bahwa platform ini punya resiko kegagalan yang cukup besar.