Guyonan Cerdas yang Me-Mabrur-kan: Pembukaan Bersama Parallel Events Biennale Jogja XII

Opening Parallel Event BJXII_Photo by Wisnu Ajisatria

Minggu sore, 24 November 2013, peserta Parallel Events Biennale Jogja XII (tiga belas kelompok), para tamu undangan mengikuti prosesi ziarah yang diinisiasi oleh Biennale Jogja XII.  Mereka memenuhi dua bus yang telah disediakan panitia bertuliskan “Semoga Menjadi Peziarah Mabrur” dengan menggunakan huruf ‘Arab Pegon’ (huruf Arab yang berkembang di Nusantara, sama sekali berlainan dengan huruf-huruf yang berkembang di negara-negara Arab, dahulu banyak digunakan untuk menuliskan kitab-kitab lama). Rombongan peziarah dilepas oleh Yustina Neni, ketua Yayasan Biennale Yogyakarta dari Taman Budaya Yogyakarta menuju Gumuk Pasir, Pantai Parangkusumo, pukul 15.00.

Mendadak Penyandraan Laskar Biennale
Sebagaimana ziarah pada umumnya, para peserta Parallel Events Biennale Jogja XII dan tamu undangan berusaha menikmati perjalanan. Mereka mulai membetulkan sandaran kursi, menempatkan punggung di tempat semestinya, kemudian bersiap untuk mendengarkan musik sambil terkantuk-kantuk. Sesekali menoleh jendela, melihat kebahagian kecil di luar sana. Namun, di tengah-tengah perjalanan, sekitar Kampus ISI Yogyakarta (KM 7), gerombolan bersenjata lengkap, berpakaian ala militer, lengkap dengan sorban menutupi wajah mencegat bus. Mereka segera naik bus dan menyadera para penumpangnya, “Ibu dan bapak tidak perlu takut! Anda semua hanya harus mematuhi perintah saya! Paham?!” teriak mereka. Tak ada yang menjawab mula-mula. “Paham?!” ulang mereka. Tetap tak ada yang menjawab. Para penumpang kaget, tertegun, tak tahu apa yang terjadi. Apalagi dua seniman Arab di tempat duduk deretan ketiga. Mukanya pucat, cemas kaget sekaligus pasrah. “Sekali lagi, paham?!” bentaknya. Dan para penumpang menjawab bersama-sama “Paham….”

“Sejak detik ini, bus ini kami kuasai. Kami dari Laskar Biennale mendengar berita dari intelijen bahwa Biennale Jogja hendak mengarabisasi Indonesia, membuat Indonesia sub-ordinat dari bangsa lain? Betul? Jawab?!” teriak salah seorang yang bertindak sebagai pemimpin. Mendengar ucapan ini, para penumpang segera tersadar bahwa penyandraan ini hanyalah akal-akalan panitia Biennale Jogja XII, peristiwa yang sengaja dibuat untuk memberi pengalaman perjalanan para peziarah. Dua seniman Arab segera meredakan kekhawatirannya, sebagian peserta lain segera mengeluarkan kamera untuk merekam peristiwa, sementara sisanya asyik masuk dalam peristiwa teaterikal sambil cekikikan.

Para penyandera semakin menjadi ketika para penumpang ikut dalam permainan. Mereka membentak-bentak sambil mengacungkan senjata, mencari penanggungjawab Biennale Jogja XII. Tentu saja Yustina Neni (Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta) dan Farah Wardani (Direktur Artistik Biennale Jogja XII) segera menjadi pelengkap penderita. Mereka ditanyai alasan memilih tema pameran, negara kawan dalam Biennale Jogja XII, dan pertanyaan-pertanyaan seputar negara-negara Arab. Mendengar jawaban yang tidak diharapkan, para penyandera segera beralih menginterograsi penumpang lainnya: para peserta Parallel Events Biennale Jogja XII dan tamu.

Peristiwa teaterikal penyanderaan di dalam bus bertambah meriah karena para korban (penumpang yang diinterograsi) mempermainkan para penyandera: kadang menjawab serius, kadang menjawab sekenanya, beberapa kesempatan menawarkan minuman.  Sungguh pengalaman yang menghibur.

Ngamen Marawis: Peserta Parallel Events Biennale Jogja XII Mandiri
Belum selesai dikocok perut oleh para penyandera yang aduhai lihainya, para penumpang diganggu oleh pengamen Marawis berlogat Betawi. Pengamen mengucap salam, menyapa penumpang dengan sebutan ‘Enyak-Babe’, berpantun, mirip lenong. Katanya, mereka ngamen karena berencana membangun Baitul Biennale, Rumah Bienalle. Membangun Rumah Bienalle membutuhkan biaya tidak sedikit maka dibutuhkan uluran tangan para penumpang. Peristiwa ngamen ala lenong ini tak kalah menghibur dengan adegan penyanderaan.

Para penumpang bus yang telah mengetahui akal-akalan panitia Biennale Jogja XII segera terlibat, bahkan mengerjai tiga pengamen Marawis yang mukanya masih sangat culun itu. Berkali-kali skenario ngamen Marawis terhenti gara-gara para penumpang menimpali, mengerjai, dan pura-pura bego (tentu mengerjai juga), sehingga para pengamen mati kutu, “Mengapa eh mengapa berkesenian itu haram? Karena eh karena, penumpang gak kasih sumbangan…. Lalalala,” penggalan syair itu dibuat untuk membalas para penumpang (sebagian terbesarnya adalah seniman) yang mengerjai dan tidak memberi uang, bahkan sekadar recehan.

Dalam peristiwa ini, panitia Biennale Jogja XII mengirim pesan bahwa senyatanya para peserta Parallel Events Biennale Jogja XII adalah kelompok-kelompok inisiator yang mendiri. Menginisiasi peristiwanya sendiri, menelisik ide awal, membiayai peristiwanya, serta menggerakkan para penikmat seni dan masyarakat untuk terlibat dalam proyeknya. Kita patut memberi apresiasi tinggi padanya. Karena hasrat dan upaya semacam inilah maka di Yogyakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya menjadi sebuah masyarakat yang mandiri, kreatif, dan segar.

Gumuk Pasir: Kekokohan, Keterbukaan, dan Daya Kreatif
Sesampai di Parangkusumo,  para penumpang turun dari bus, melanjutkan perjalanan ke Gumuk Paris, di kawasan para calon jemaah haji berlatih (manasik  haji). Para peserta Parallel Events Biennale Jogja XII memberi keterangan proyek seninya dengan latar belakang replika Ka’bah, salah satu simbol dunia Arab yang dikenal masyarakat Indonesia.  Satu persatu peserta Parallel Events Biennale Jogja XII berbicara tentang latar belakang idenya, tempat pelaksanaan, tanggal penyelenggaraan, dan terutama keberpihakannya pada situasi-situasi kontemporer yang terjadi di Indonesia–kawasan Arab–Katulistiwa. Aksi ini meneguhkan jalur yang diambil oleh Biennale Jogja selama ini, bahwa dalam mencerap kebudayaan dari luar, kita musti kokoh, terbuka, dan memiliki daya kreatif.

Dengan wicara tiga belas perwakilan peserta, Parallel Events Biennale Jogja XII dibuka di Gumuk Pasir, Pantai Parangkusumo pada sekitar pukul 15.00. Para peziarah (penumpang bus) diharapkan sudah mabrur, mendapatkan kebaikan seperti yang diharapkan.

Parallel Events adalah salah satu program pengiring Biennale Jogja XII Equator #2 (Biennale Equator #2), yang berupa ajang kompetisi penciptaan peristiwa seni rupa. Parallel Events Biennale Equator #2 ini diikuti tiga belas kelompok yang akan menyelenggarakan pameran di lebih dari tiga belas lokasi yang berbeda.

Prosesi ziarah ini sekaligus menjadi undangan kepada masyarakat untuk turut menziarahi situs atau lokasi para peserta Parallel Events Biennale Jogja XII melakukan kegiatannya.

Peserta Parallel Events Biennale Jogja XII  adalah  HIDE PROJECT INDONESIA, COLLIQ PUJI’E, DEKA-EXI(S), HABITUS AINUN, O2, KNYT SOMNIA, KANDANG JARAN, INSIGNIA INDONESIA, Kelompok Belajar 345, MAKCIK PROJECT, Kelompok PEREKs, Kaneman, Paguyuban Kali Jawi dan Arkomjogja (ARKOM). Ketiga belas kelompok tersebut akan berkegiatan dan berpameran di sejumlah lokasi yang mereka tentukan sendiri. Kalender kegiatan Parallel Events Biennale Jogja XII ini bisa dilihat di Taman Budaya Yogyakarta atau di situs resmi Biennale Jogja (http://www.biennalejogja.org/2013/).