YOGYAKARTA BIENNALE FOUNDATION

BIENNALE JOGJA XII EQUATOR #2

maskot biennale

Pada 2013 ini, BJ XII Equator #2 akan bekerja sama dengan negara-negara Arab, yaitu Mesir, Saudi Arabia, dan Uni Emirat Arab. Dikuratori oleh Agung Hujatnikajennong (Indonesia) dan Sarah Rifky (Mesir), pameran utama BJ XII Equator #2 akan mengolah tema mobilitas, untuk melihat perluasan medan dan praktik seni rupa kontemporer di era globalisasi. Pameran BJ XII Equator #2—yang disertai dengan program residensi seniman, akan melibatkan  40 orang perupa dari Indonesia, Mesir, Saudi Arabia, dan Uni Emirat Arab.

Konsep Kuratorial: Mobilitas 

Di era global seni rupa kontemporer menjadi bagian dari praktik kebudayaan yang turut menegaskan corak kehidupan masyarakat di milenium baru khususnya di lingkungan urban / perkotaan. Masyarakat urban di berbagai belahan dunia saat ini tidak saja terhubung secara luar biasa melalui sistem ekonomi dan politik, tetapi juga sistem kebudayaan global yang yang memungkinkan dua atau lebih kebudayaan menempati jukstaposisi, bertemu dan bercampur satu sama lain. Globalisasi dicirikan oleh terciptanya hubungan-hubungan tak terduga antara  antara arus uang, teknologi media, gagasan dan migrasi para agen. Ia melibatkan gerakan dinamis dari kelompok-kelompok budaya, pertukaran informasi melalui teknologi, transaksi keuangan, dll., yang tidak bergantung pada satu rencana besar (master plan) yang ideal dan harmonis. Dalam pengertian ini, metafora ketidakpastian, kontingensi dan kekacauan justru relevan untuk menjelaskan proses globalisasi yang menjauhi prinsip-prinsip stabilitas  sosial.

Sebagai konsep kuratorial, gagasan ‘mobilitas’ berangkat dari perspektif yang melihat praktik seni rupa kontemporer sebagai manifestasi dari pola-pola produksi – distribusi – konsumsi yang berlaku dalam medan seni rupa global. Globalisasi menawarkan rute-rute mobilitas baru untuk proses perpindahan, pertukaran, dan pelintasan para agen, gagasan maupun material (estetik). Sebagai akibatnya, medan seni rupa mengalami ekspansi secara signifikan. Daur hidup seni—sebagai gagasan maupun objek—pun menjadi lebih kompleks. Bagi para seniman, situasi ini menjadi memudahkan sekaligus menantang. Di satu sisi, kemungkinan-kemungkinan untuk melakukan eksperimentasi estetik melalui persentuhan dengan ranah-ranah sosial baru menjadi semakin terbuka. Tapi, di sisi lain, seniman juga dihadapkan pada mekanisme multiplikasi, ekspansi, intensifikasi, dan akselerasi global yang tak terduga, dan berpotensi menggerus otonomi kultural mereka sebagai individu. Melalui ‘mobilitas’, seniman-seniman berhadapan dengan urgensi untuk memikirkan kembali fungsi dan posisi seni dalam masyarakat.

Konsep mobilitas akan dimanifestasikan ke dalam aktifitas-aktifitas yang menyasar dua tujuan utama:

  1. Memahami dan memetakan pola-pola penciptaan/kreasi/produksi seni yang selama ini telah berlangsung melalui migrasi para seniman Indonesia dan negara-negara Arab
  2. Menciptakan sarana-sarana baru yang memungkinkan terjadinya migrasi baru para seniman dari Indonesia maupun negara-negara Arab, yang bertujuan mendorong eksperimentasi estetik, penciptaan/kreasi/produksi yang baru pula

Program-program Biennale Jogja XII Equator #2

  1. Pameran Utama disertai program residensi seniman
  2. Program Pengiring:
    – Parallel Events: Program kompetisi penciptaan peristiwa seni rupa
    – Festival Equator: Festival kota yang mengakomodasi geliat kreatif masyaraka
  3. Program Pendukung yang terdiri dari simposium internasional, artist talk, dan workshop
  4. Program Penghargaan BJ Awards
  5. Program Magang dan Kesukarelawanan

Perjumpaan Indonesia dengan Negara-negara Arab

Interaksi antara Indonesia dan negara-negara Arab sudah berlangsung sejak abad ke-7 ketika jalur pelayaran internasional yang ramai melalui Selat Malaka terbentuk. Jalur tersebut menghubungkan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda (antara lain Cina, Sriwijaya dan Banni Ummayah). Penyebaran kebudayaan Arab dan Islam dilakukan melalui hubungan perdagangan. Tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah persentuhan masyarakat lokal dengan Islam, melalui kebudayaan Arab pada masa itu, melatari terbentuknya Indonesia—negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia saat ini.

Sekarang, isu-isu hubungan Indonesia dan negara-negara Arab menjadi semakin penting didiskusikan. Dalam konteks kebudayaan global, perkembangan seni rupa kontemporer di Arab dan Asia Tenggara justru menjadi faktor yang paling menonjol untuk dijadikan sebagai motif pembangunan hubungan yang lebih erat dan mendalam di antara kedua kawasan tersebut. Kedua kawasan tersebut bukanlah bagian dari wilayah arus utama seni rupa modern yang berpusat di Eropa dan Amerika. Menyusul perubahan-perubahan ekonomi dan politik global, muncul kesadaran baru di antara para pelaku seni wilayah-wilayah non-pusat, termasuk Asia-Pasifik dan Arab, untuk melakukan inisiatif-inisiatif dalam bentuk kegiatan pameran internasional, art fair, dan program-program residensi seniman yang pada akhirnya membentuk topografi baru seni rupa internasional. Seni rupa kontemporer di Indonesia dan negara-negara Arab memiliki potensi sebagai suatu kategori baru yang menyela stereotip—misalnya ‘seni rupa dari negara-negara Islam’—yang selama ini dihasilkan oleh sistem representasi dominan yang berlaku dalam medan seni rupa global.

Sejak 2000-an, penyelenggaraan pameran-pameran berskala internasional, baik di Indonesia maupun negara-negara Arab, tidak lagi sekadar upaya mandiri untuk membangun sarana-sarana baru bagi pertumbuhan medan seni rupa lokal. Pameran-pameran tersebut harus dilihat sebagai salah satu strategi untuk melakukan negosiasi identitas di tengah dinamika dan kompleksitas medan seni rupa global. BJ (di Indonesia) dan sejumlah kegiatan besar seperti Art Dubai dan Biennale Sarjah (di kawasan Arab, seperti Mesir, Uni Emirat Arab, Dubai dan Qatar) adalah upaya yang sangat penting untuk mendefinisikan kelokalan masing-masing kawasan di tengah masih maraknya pameran-pameran internasional di Eropa dan Amerika. Inisiatif-inisiatif itu harus dipahami sebagai modal yang sudah cukup kuat di tingkat lokal. Mereka harus dikembangkan menjadi program-program yang lebih konkrit yang dapat mempertemukan seni rupa dari kedua kawasan itu dengan lebih intens dan mendalam. BJ XII Equator #2 adalah sarana menuju cita-cita itu.

 
karya ubik Dwi Oblo karya reza asung Indra Arista 1M biennale forum_indra arista_DSC_1740 1M FE BJXII meet DGTMB_Dwi Oblo_MG_6930 Ferial_Workshop dengan Komunitas di Madagaskar_resize Resize5000_Indra Arista_Para Peserta SK 2014 di Lobby Ruang Seminar Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, Sesaat Sebelum Acara Dimulai