YOGYAKARTA BIENNALE FOUNDATION

Tak Ada Rotan Akar Punjabi

Pameran :
17-27 Desember 2011
Cafe BALE, Jl. Kaliurang Km. 5,5, Pandega Karya no.290, Yogyakarta

Diinisiasi dan diorganisasi oleh
Sebuah pembacaan subversif atas budaya populer India di Indonesia. Kegandrungan masyarakat Indonesia dengan musik dangdut, fanatisme dengan potongan rambut mullet, kolaborasi gerakan senam aerobik dengan musik pop India, atau kesamaan kuliner Indonesia dengan India adalah beberapa temuan yang didapat pada riset awal proyek ini. Dari hasil riset dan kolaborasi tersebut, Ace House Collective menyuguhkannya dalam bentuk eksplorasi visual yang terangkum dalam sebuah proyek pameran lintas disiplin.
Judul kegiatan Ace House Collective merujuk pada peribahasa Indonesia “Tak ada rotan akar pun jadi”, yang diplesetkan menjadi “Punjabi”. Punjabi adalah keluarga pengusaha keturunan India yang dikenal luas sebagai produser sinema elektronik/sinetron di berbagai stasiun televisi swasta dan film layar lebar di Indonesia.

Ace House Collective adalah laboratorium seni yang terbentuk dari gabungan beberapa seniman muda era 2000an, atas dasar kesamaan pemikiran dan ide dalam berkarya serta latar belakang pola berkesenian yang sama. Konsisten pada gaya visual popular dan konsumerisme visual yang berkembang seiring pengaruh budaya anak muda. Seperti musik, poster, kartun, film, toys, skateboard, bike culture, grafitty, dan komik. Kami meyakini budaya populer sebagai resistensi dan sumber utama dalam berkarya. Dan merupakan respon terhadap perkembangan arus informasi dalam wacana seni rupa global, dimana kami lahir dan hidup di dalamnya. Fenomena ini yang meyakini kami, bahwa kesenian tidak sebatas berkarya dalam ruang studio saja, namun juga persilangannya dalam disiplin ilmu lain.

Perjumpaan budaya populer India di Indonesia dimulai pada awal revolusi kemerdekaan Indonesia. Nasionalisme yang dibangun Soekarno kala itu melarang masuknya budaya barat (baca: Amerika) termasuk film dan musik. Melalui media film, semangat nasionalisme
itu dibangun. Kegembiraan masyarakat Indonesia yang tenggelam dalam suasana gegap gempita kemerdekaan membuat film hasil karya anak bangsa ini semakin
menarik hati. Namun, histeria ini tidak berlangsung lama. Keadaan ekonomi dan politik yang memburuk, menghapus gambaran mimpi kemakmuran atas negara yang sedang berkembang kala itu: termasuk kekecewaan masyarakat pada kualitas perfilman Indonesia yang seolah jalan di tempat. Dalam kondisi terpuruk, eskapisme atas kekecewaan tersebut dipresentasikan atas pemilihan pada film-film produksi ‘luar negeri’, seperti Malaysia, atau Filipina hingga kedatangan film India, tepatnya pada tahun 1952. Dilanjutkan dengan berjayanya film-film buatan Hongkong (China) di bioskopbioskop kota besar Indonesia. Sejarah mencatat, inilah awal perebutan kekuasaan dalam pasar perfilman Indonesia.

Cikal bakal ini yang mengakrabkan telinga kita dengan kata ‘Bollywood’, sebutan untuk film India populer yang  berbasis di Mumbay (dulu Bombay) dengan bahasa Hindi-nya. Bollywood yang merupakan gabungan dari kata Bombay dan Hollywood, adalah produsen film terbesar di India sekaligus di dunia. Istilah Bollywood sendiri lahir pada medio 1970an, ketika produksi film India mengambil alih kedudukan Amerika. Namun pada hakikatnya, di India sendiri, terdapat beberapa sentra produksi film. Seperti misalnya film berbahasa Tamil dengan basis di Kodambakkam, yang lebih dikenal dengan ‘Kollywood’, atau film berbahasa Telugu yang sempat mencatat sejarah sebagai sentra produksi film tertua di India yang berbasis di Hyderabad, ‘Tollywood’.

Melalui perkembangan media massa, kebudayaan  kontemporer India ini ternyata juga turut menyumbang perkembangan budaya populer di Indonesia. Alur cerita yang dipenuhi drama dan heroisme aktor laga yang  diselipi tarian dan nyanyian, membentuk karakteristik khas film India yang lekat di masyarakat Indonesia. Lahirlah idiom yang kerap digunakan dalam percakapan sehari-hari seperti ‘tangisan bombay’ atau ‘inspektur vijay’. Sedangkan pada wilayah musik, percampurannya dengan musik Melayu menjadi fetus musik dangdut yang lebih dikenal sebagai musik Indonesia.

Berawal dari film beserta soundtrack-nya inilah, perjumpaan kami dengan temuan produk budaya populer India di Indonesia kami awali. Tidak hanya ditemukan dalam ranah film dan musik saja, tapi juga persebarannya di bidang lain yang ternyata sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yang kemudian dipresentasikan pada identifikasi subjek-subjek yang terangkum dalam presentasi kali ini. Pada pembacaan selanjutnya, fenomena atas praktik konsumsi ini melahirkan bentuk perubahan budaya dan pemaknaan baru atas identitas masyarakat Indonesia, terutama akan posisi diri mereka dalam tata kehidupan masyarakat kontemporer, di sinilah konsep hibridisasi beroperasi.

 
magang PMPSK Tempo arief sukardono foyer JNM Dwi Oblo pembukaan Dwi Oblo 1M biennale forum_indra arista_DSC_1785 1M karya take to the sea_Dwi Oblo_MG_4905 Haja_resize