YOGYAKARTA BIENNALE FOUNDATION

Biennale Jogja XIV equator #4

Biennale Equator berangkat dari gagasan untuk menelusuri kembali dan merespon sejarah globalisasi dan relasi antara orang dan Negara dalam konstelasinya dengan seni internasional. Sementara gagasan tentang perpindahan dan meluasnya keragaman seni telah menjadi semakin terbuka dalam dua dekade terakhir, kita tidak menghindar dari adanya hirarki dari apa yang disebut sebagai pusat dan pinggiran. Gagasan untuk mendefinisikan regionalism dengan fokus pada wilayah ekuator diinisiasi sebagai bentuk intervensi terhadap situasi-situasi ketidaksejajaran tersebut.

Setelah bekerja dengan India (2011) dan wilayah Negara Arab—Mesir, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab (2013), dan 2015 dengan Nigeria tahun 2017 Biennale Jogja memilih Brazil sebagai negara mitra. Pilihan pada Brazil datang dari proses memetakan kembali sejarah hubungan antara Indonesia dan Brazil, dari periode kolonial hingga perkembangan terkini. Indonesia dan Brazil mempunyai permasalah yang sama dengan tingkat jumlah penduduk yang besar, persaingan hidup yang panas dan beragam persoalan yang ditimbulkannya.

Kami perkenalkan tim kuratorial Biennale Jogja 14 Equator #4

DODO HARTOKO
Direktur Biennale Jogja XIV Equator #4
Dodo Hartoko adalah seorang seniman serta seorang penulis yang telah mendirikan  “Buku Baik Publishing” di Yogyakarta. Dodo telah dididik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di “Universitas Katolik Atma Jaya” Yogyakarta, tapi dia tidak menyelesaikannya.
Selain mengerjakan sejumlah buku, sejak 2012 sampai sekarang, Dodo telah terlibat dalam Proyek Seni Equator di Gillman Barracks, Singapura, sebagai desainer.

Pameran Solo pertamanya berjudul “Kepala Kepala” di Sangkring Art Space, Yogyakarta, 2012. Dirinyna juga telah memamerkan karya-karyanya di: ARTJOG 11; “Joint Exhibition” di Galeri Langgeng Magelang; “Turning Target # 1” pada acara 25 Tahun Cemeti – One Night Stand Cemeti, 2013; “Peristiwa Sebuah Kelas” bersama dengan Ceblang Ceblung Forum, Sangkring Art Space, 2013; “New Iconolast”, Galeri Abadi Magelang 2014; “Memajang Boleh Apa Saja Asal Ada Artinya”, BKdP 2014.

PIUS SIGIT KUNCORO
Kurator Biennale Jogja XIV Equator #4
Kurator terpilih untuk penyelenggaraan Biennale Jogja XIV Equator #4 adalah Pius Sigit Kuncoro. Dirinya belajar Desain Komunikasi Visual di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Di awal karirnya, Pius Sigit menggunakan video dan seni performans untuk
menyampaikan reaksi dan pemikiran mengenai realitas sosial di lingkungannya. Pada tahun 1999, bersama Bintang Hanggono, dan Wildan Antares, Pius Sigit mendirikan Geber Modus Operandi, sebuah kelompok seni performans interdisipliner yang menggabungkan kompleksitas seni rupa, multimedia,teater, dan suara, dengan tematema tentang identitas dan tubuh.

Pius Sigit kemudian beralih pada drawing dan seni lukis, terutama cat air, sebagai medium ekspresi. Karya-karya Pius Sigit bernuansa kritik satir dengan gaya realis. Ia telah beberapa kali menjalani program residensi internasional, misalnya di CAP house Kobe (2007) dan Fukuoka Asian Contemporary Art Museum (2005) di Jepang. Pius Sigit juga telah memamerkan karyanya di Indonesia, Jepang, dan Inggris. Pada 2011 dia berpameran dalam Jogja Art Share di Jogja Nasional Museum, dan dua pameran tunggal yaitu Nyandhi Wara di Sangkring Art Space Yogyakarta dan Jowo Adoh Papan di Via Via.

JUMALDI ALFI
Koordinator Pra Biennale Jogja XIV Equator #4
Jumaldi Alfi menempuh studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sampai tahun 1999. Jumaldi telah melakukan banyak pameran atau eksebisi, baik di berbagai kota di dalam negeri maupun di luar negeri seperti di Amsterdam, Singapura, Kuala Lumpur, Hong Kong, New York, Shanghai, Beijing, Paris, dan lainnya.

Jumaldi Alfi bersama 20 perupa Indonesia lainnya masuk dalam daftar 500 pelukis terlaris di dunia berdasarkan Top 500 Artprice 2008/2009 yang disusun oleh sebuah lembaga analis perkembangan pasar seni rupa dunia, Artprice, yang berbasis di kota Paris, Perancis.

 
karya harsono Dwi Oblo karya tiong Dwi Oblo 1M karya take to the sea_Dwi Oblo_MG_4913 Dimas_Artist Talk di Bangalore_resize Ferial_Display Karya Pameran di Madagaskar_resize Ferial_Workshop dengan Komunitas di Madagaskar_resize