YOGYAKARTA BIENNALE FOUNDATION

Kabar dari Jogja

Biennale Jogja Khatulistiwa #3: Indonesia bertemu Nigeria

Yayasan Biennale Yogyakarta telah menetapkan arah dan tim kerja baru untuk edisi Biennale Equator #3 yang akan berlangsung pada 2015.

Dimulai sejak 2011, Biennale Equator berangkat dari gagasan untuk menelusuri kembali dan merespon sejarah globalisasi dan relasi antara orang dan Negara dalam konstelasinya dengan dunia seni internasional. Sementara gagasan tentang perpindahan dan meluasnya keragaman seni telah menjadi semakin terbuka dalam dua dekade terakhir, kita tidak menghindar dari adanya hirarki dari apa yang disebut sebagai pusat dan pinggiran. Gagasan untuk mendefinisikan regionalism dengan fokus pada wilayah ekuator diinisiasi sebagai bentuk intervensi terhadap situasi-situasi ketidaksejajaran tersebut.

Setelah bekerja dengan India (2011) dan wilayah Negara Arab—Mesir, Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab (2013), pada 2015 Biennale Jogja akan bekerja dengan Nigeria sebagai negara mitra. Pilihan pada Nigeria datang dari proses memetakan kembali sejarah hubungan antara Indonesia dan Afrika, dari periode kolonial hingga perkembangan terkini. Nigeria dan Indonesia telah membangun relasi diplomatis, politik dan dagang, serta berbagai beragam kesamaan dan perbedaan dalam konteks sejarah dan budaya. Yayasan Biennale Yogya juga melihat Nigeria sebagai titik masuk untuk membuka dialog dengan Negara Afrika lainnya, terutama di wilayah Barat.

Kami memperkenalkan Alia Swastika sebagai Direktur Biennale Jogja 13, yang kembali masuk ke dalam tim kami setelah keterlibatannya sebagai Kurator dalam edisi tahun 2011 bersama dengan Suman Gopinath. Alia Swastika adalah seorang kurator yang berbasis di Yogyakarta, dan telah bekerja dengan lingkup dengan seni di kota tersebut selama 15 tahun. Selain projek-projeknya di Indonesia, Alia Swastika telah bekerja pada beberapa proyek seni dan pameran internasional: Marker focus IndonesiaArt Dubai 2012, Gwangju Biennale ke 9: ROUNDTABLE di Gwangju, Korea Selatan bersama 5 kurator lain, dan pameran-pameran lain. Sekarang Alia menjadi salah satu anggota dewan Pendiri pada International Biennale Association (mewakili Jogja Biennale).

Dalam tim kurator, peran Direktur Artistik dilakoni oleh Rain Rosidi sementara kurator pada penyelenggaraan kali ini adalah Woto Wibowo aka Wok The Rock. Rain Rosidi, adalah kurator seni rupa dan dosen di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia. Bekerja sebagai pengelola dan kurator di ruang alternatif Gelaran Budaya (2000). Tahun 2003 mengikuti program residensi Manajemen Seni di Queensland Art Gallery, Brisbane, dan di Asian Australian Art Centre, Sydney. Kerja kuratorial antara lain: Neo Iconoclasts, Magelang (2014), Future of Us, Yogyakarta (2012), Jogja Agro Pop, Yogyakarta (2011), Indonesian Disjunction, Bali (2009), Utopia Negativa, Magelang (2008), Jawa Baru, Jakarta (2008).

Wok The Rock (Lahir di Madiun, 1975). Lulus dari Program Studi Disain Komunikasi Visual, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Wok The Rock adalah seniman lintas disiplin yang menghasilkan karya seni berbasis kolaborasi yang melihat gabungan penciptaan ruang, penyelidikan spekulatif dan eksperimentasi medium sebagai praktik artistiknya. Penciptaan ruang dan platform kerja juga berlanjut pada aktivitasnya di berbagai komunitas seni dan budaya. Saat ini ia menjabat sebagai direktur Ruang MES 56, sebuah artist-run-space fotografi kontemporer. Ia tinggal dan bekerja di Yogyakarta.

 
karya Tisna Sanjaya Doa Kora-Kora Dwi Oblo karya Venzha Christiawan Dwi Oblo 1M karya jasmina_Dwi Oblo__MG_0740 Dimas_Studio Seni di College of Fine Arts _resize Resize3000_Indra Arista _Suman Gopinath dalam Presentasinya, Para Penggiat Intervensi Resize5000_Inda Arista_Presentasi Membayangkan Poso oleh Lian Gogali (1)