Monthly Archives: November 2013

Parallel Events BJXII Program: Colliq Puji’e Art Movement

Colliq Pujie POSTER large

Titik Balik
Interactive workshop, painting exhibition, installation project, mural, ancient script exhibition and art performance
28 November 2013 – 5 December 2013, 9 AM – 8 PM
Pendhopo Art Space, Jalan Lingkar Selatan, Tegal Krapyak, RT 01, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Opening: 28 November 2013, 7 PM

Initiated by COLLIQ PUJI’E

 

There are a number of groups from different backgrounds taking part in Biennale Jogja XII Equator #2 Parallel Events program. One of the participating groups are Colliq Puji’e, an independent art and culture discussion group whose members come from diverse scientific backgrounds. Colliq Puji’e in this program is collaborating with Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah (local archive and library) of South Sulawesi to work on Serang and Bilang-bilang characters: hybrid Arabic characters used in South Sulawesi.

In Titik Balik project for Parallel Events program, Colliq Puji’e will present interactive workshop, painting exhibition, installation project, mural, ancient script exhibition and art performance. Titik Balik art event is meant to show one form of the encounters between the Arab culture and the people of South Sulawesi, which gives birth to hybrid knowledge and culture. Colliq Puji’e tries to interpret the phenomenon of Islam in South Sulawesi into art form. The project Titik Balik will be on view from 28 November through 5 December 2013.

Program Parallel Events BJXII: Colliq Puji’e Art Movement

Colliq Pujie POSTER largeTITIK BALIK
Lokakarya Interaktif, Pameran Seni Lukis, Proyek Instalasi, Mural, Pameran Naskah Kuno, dan Pertunjukan Seni
28 November – 5 Desember 2013, jam 9.00 – 20.00
Pendhopo Art Space, Jalan Lingkar Selatan, Tegal Krapyak RT 01, Panggungharjo, Sewon Bantul, Yogyakarta
Pembukaan: 28 November 2013, jam 19.00

Diinisiasi oleh COLLIQ PUJI’E

 

Pada Parallel Events Biennale Jogja XII Equator #2 terdapat beberapa macam kelompok dari beragam latar belakang yang ikut serta di dalamnya. Salah satu kelompok yang ikut serta adalah Colliq Puji’e. Colliq Puji’e merupakan kelompok diskusi seni dan budaya independen yang anggotanya berasal dari berbagai latar belakang keilmuan. Colliq Puji’e dalam program Parallel Events ini berkolaborasi dengan Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Sulawesi Selatan, mengangkat proyek Aksara Serang dan Bilang-bilang: aksara variasi Arab di Sulawesi Selatan.

Colliq Puji’e dengan judul Titik Balik mengisi program Parallel Event dengan lokakarya interaktif, pameran seni lukis, proyek instalasi, mural, pameran naskah kuno dan pertunjukan seni. Pagelaran seni rupa Titik Balik ini dimaksudkan untuk menunjukkan salah satu bentuk perjumpaan antara Arab dengan masyarakat Sulawesi Selatan, yang melahirkan pengetahuan dan kebudayaan hibrida. Colliq Puji’e berusaha menginterpretasikan fenomena Islam di Sulawesi selatan ke dalam bentuk lain yaitu seni. Proyek Titik Balik ini dimulai dari tanggal 28 November – 5 Desember 2013.

 

Colliq Puji’E Art Movement
(berkolaborasi dengan Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Sulawesi Selatan)

TITIK BALIK

Menghadirkan :
1. Performing art Barazanji
2. Pameran seni rupa dan 61 arsip kuno salah satunya potongan naskah I La Galigo (salah satu naskah terpanjang di dunia)
3. Diskusi dan pemutaran video dokumenter

Dimeriahkan dengan performance dari Sulawesi Selatan:
Pertunjukan Tari
Tari Toraja
Pertunjukan Akustik

 

Biennale Jogja XII Equator #2 Opening, 16 November 2013

Program Parallel Events BJXII: Kelompok Belajar 345

Renbo Quran

RENBO QUR’AN

Pertunjukan Jathilan
1 Desember 2013, jam 10.00
Lapangan Karang, Kotagede, Yogyakarta

Pameran Seni Rupa
6 – 11 Desember 2013, jam 10.00 – 21.00
Misty, Jalan Kaliurang Km. 5,8, Kompleks Pogung Baru, Yogyakarta
Pembukaan: 6 Desember 2013, jam 19.00

Pemutaran Film Dokumenter
8 Desember 2013, jam 19.00
Misty

Diinisiasi oleh Kelompok Belajar 345

Kelompok Belajar 345 merupakan kelompok seni yang sebagian besar anggotanya adalah mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dalam program Parallel Events BJXII, Kelompok Belajar 345 akan mengurai penelusuran terhadap penggabungan Islam formal dengan budaya populer dan budaya lokal masyarakat di Yogyakarta. Kelompok Belajar 345 akan melakukan penelitian tentang pertemuan antara agama dan budaya populer serta antara agama dan budaya lokal, yang kemudian dipresentasikan dalam bentuk pertunjukan seni, film dokumenter, dan pameran seni rupa.

Guyonan Cerdas yang Me-Mabrur-kan: Pembukaan Bersama Parallel Events Biennale Jogja XII

Minggu sore, 24 November 2013, peserta Parallel Events Biennale Jogja XII (tiga belas kelompok), para tamu undangan mengikuti prosesi ziarah yang diinisiasi oleh Biennale Jogja XII.  Mereka memenuhi dua bus yang telah disediakan panitia bertuliskan “Semoga Menjadi Peziarah Mabrur” dengan menggunakan huruf ‘Arab Pegon’ (huruf Arab yang berkembang di Nusantara, sama sekali berlainan dengan huruf-huruf yang berkembang di negara-negara Arab, dahulu banyak digunakan untuk menuliskan kitab-kitab lama). Rombongan peziarah dilepas oleh Yustina Neni, ketua Yayasan Biennale Yogyakarta dari Taman Budaya Yogyakarta menuju Gumuk Pasir, Pantai Parangkusumo, pukul 15.00.

Mendadak Penyandraan Laskar Biennale
Sebagaimana ziarah pada umumnya, para peserta Parallel Events Biennale Jogja XII dan tamu undangan berusaha menikmati perjalanan. Mereka mulai membetulkan sandaran kursi, menempatkan punggung di tempat semestinya, kemudian bersiap untuk mendengarkan musik sambil terkantuk-kantuk. Sesekali menoleh jendela, melihat kebahagian kecil di luar sana. Namun, di tengah-tengah perjalanan, sekitar Kampus ISI Yogyakarta (KM 7), gerombolan bersenjata lengkap, berpakaian ala militer, lengkap dengan sorban menutupi wajah mencegat bus. Mereka segera naik bus dan menyadera para penumpangnya, “Ibu dan bapak tidak perlu takut! Anda semua hanya harus mematuhi perintah saya! Paham?!” teriak mereka. Tak ada yang menjawab mula-mula. “Paham?!” ulang mereka. Tetap tak ada yang menjawab. Para penumpang kaget, tertegun, tak tahu apa yang terjadi. Apalagi dua seniman Arab di tempat duduk deretan ketiga. Mukanya pucat, cemas kaget sekaligus pasrah. “Sekali lagi, paham?!” bentaknya. Dan para penumpang menjawab bersama-sama “Paham….”

“Sejak detik ini, bus ini kami kuasai. Kami dari Laskar Biennale mendengar berita dari intelijen bahwa Biennale Jogja hendak mengarabisasi Indonesia, membuat Indonesia sub-ordinat dari bangsa lain? Betul? Jawab?!” teriak salah seorang yang bertindak sebagai pemimpin. Mendengar ucapan ini, para penumpang segera tersadar bahwa penyandraan ini hanyalah akal-akalan panitia Biennale Jogja XII, peristiwa yang sengaja dibuat untuk memberi pengalaman perjalanan para peziarah. Dua seniman Arab segera meredakan kekhawatirannya, sebagian peserta lain segera mengeluarkan kamera untuk merekam peristiwa, sementara sisanya asyik masuk dalam peristiwa teaterikal sambil cekikikan.

Para penyandera semakin menjadi ketika para penumpang ikut dalam permainan. Mereka membentak-bentak sambil mengacungkan senjata, mencari penanggungjawab Biennale Jogja XII. Tentu saja Yustina Neni (Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta) dan Farah Wardani (Direktur Artistik Biennale Jogja XII) segera menjadi pelengkap penderita. Mereka ditanyai alasan memilih tema pameran, negara kawan dalam Biennale Jogja XII, dan pertanyaan-pertanyaan seputar negara-negara Arab. Mendengar jawaban yang tidak diharapkan, para penyandera segera beralih menginterograsi penumpang lainnya: para peserta Parallel Events Biennale Jogja XII dan tamu.

Peristiwa teaterikal penyanderaan di dalam bus bertambah meriah karena para korban (penumpang yang diinterograsi) mempermainkan para penyandera: kadang menjawab serius, kadang menjawab sekenanya, beberapa kesempatan menawarkan minuman.  Sungguh pengalaman yang menghibur.

Ngamen Marawis: Peserta Parallel Events Biennale Jogja XII Mandiri
Belum selesai dikocok perut oleh para penyandera yang aduhai lihainya, para penumpang diganggu oleh pengamen Marawis berlogat Betawi. Pengamen mengucap salam, menyapa penumpang dengan sebutan ‘Enyak-Babe’, berpantun, mirip lenong. Katanya, mereka ngamen karena berencana membangun Baitul Biennale, Rumah Bienalle. Membangun Rumah Bienalle membutuhkan biaya tidak sedikit maka dibutuhkan uluran tangan para penumpang. Peristiwa ngamen ala lenong ini tak kalah menghibur dengan adegan penyanderaan.

Para penumpang bus yang telah mengetahui akal-akalan panitia Biennale Jogja XII segera terlibat, bahkan mengerjai tiga pengamen Marawis yang mukanya masih sangat culun itu. Berkali-kali skenario ngamen Marawis terhenti gara-gara para penumpang menimpali, mengerjai, dan pura-pura bego (tentu mengerjai juga), sehingga para pengamen mati kutu, “Mengapa eh mengapa berkesenian itu haram? Karena eh karena, penumpang gak kasih sumbangan…. Lalalala,” penggalan syair itu dibuat untuk membalas para penumpang (sebagian terbesarnya adalah seniman) yang mengerjai dan tidak memberi uang, bahkan sekadar recehan.

Dalam peristiwa ini, panitia Biennale Jogja XII mengirim pesan bahwa senyatanya para peserta Parallel Events Biennale Jogja XII adalah kelompok-kelompok inisiator yang mendiri. Menginisiasi peristiwanya sendiri, menelisik ide awal, membiayai peristiwanya, serta menggerakkan para penikmat seni dan masyarakat untuk terlibat dalam proyeknya. Kita patut memberi apresiasi tinggi padanya. Karena hasrat dan upaya semacam inilah maka di Yogyakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya menjadi sebuah masyarakat yang mandiri, kreatif, dan segar.

Gumuk Pasir: Kekokohan, Keterbukaan, dan Daya Kreatif
Sesampai di Parangkusumo,  para penumpang turun dari bus, melanjutkan perjalanan ke Gumuk Paris, di kawasan para calon jemaah haji berlatih (manasik  haji). Para peserta Parallel Events Biennale Jogja XII memberi keterangan proyek seninya dengan latar belakang replika Ka’bah, salah satu simbol dunia Arab yang dikenal masyarakat Indonesia.  Satu persatu peserta Parallel Events Biennale Jogja XII berbicara tentang latar belakang idenya, tempat pelaksanaan, tanggal penyelenggaraan, dan terutama keberpihakannya pada situasi-situasi kontemporer yang terjadi di Indonesia–kawasan Arab–Katulistiwa. Aksi ini meneguhkan jalur yang diambil oleh Biennale Jogja selama ini, bahwa dalam mencerap kebudayaan dari luar, kita musti kokoh, terbuka, dan memiliki daya kreatif.

Dengan wicara tiga belas perwakilan peserta, Parallel Events Biennale Jogja XII dibuka di Gumuk Pasir, Pantai Parangkusumo pada sekitar pukul 15.00. Para peziarah (penumpang bus) diharapkan sudah mabrur, mendapatkan kebaikan seperti yang diharapkan.

Parallel Events adalah salah satu program pengiring Biennale Jogja XII Equator #2 (Biennale Equator #2), yang berupa ajang kompetisi penciptaan peristiwa seni rupa. Parallel Events Biennale Equator #2 ini diikuti tiga belas kelompok yang akan menyelenggarakan pameran di lebih dari tiga belas lokasi yang berbeda.

Prosesi ziarah ini sekaligus menjadi undangan kepada masyarakat untuk turut menziarahi situs atau lokasi para peserta Parallel Events Biennale Jogja XII melakukan kegiatannya.

Peserta Parallel Events Biennale Jogja XII  adalah  HIDE PROJECT INDONESIA, COLLIQ PUJI’E, DEKA-EXI(S), HABITUS AINUN, O2, KNYT SOMNIA, KANDANG JARAN, INSIGNIA INDONESIA, Kelompok Belajar 345, MAKCIK PROJECT, Kelompok PEREKs, Kaneman, Paguyuban Kali Jawi dan Arkomjogja (ARKOM). Ketiga belas kelompok tersebut akan berkegiatan dan berpameran di sejumlah lokasi yang mereka tentukan sendiri. Kalender kegiatan Parallel Events Biennale Jogja XII ini bisa dilihat di Taman Budaya Yogyakarta atau di situs resmi Biennale Jogja (http://www.biennalejogja.org/2013/).

Talk & Discussion: Giuseppe Moscatello, Prilla Tania, Mobius, HONF

Biennale Jogja XII Equator #2 invites you to attend talk and discussion with Giuseppe Moscatello (Head Curator, Maraya Art Centre, Sharjah, U.A.E.) and BJ XII artists Prilla Tania (IDN), Mobius (ARE) and HONF (IDN). In this talk, Giuseppe will present about Maraya Art Centre and the art scene in United Arab Emirates, while Prilla will share her residency experience at Maraya, as Mobius and HONF will tell about their collaboration for BJ XII.

Location: SaRanG Building
Dusun Kalipakis, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
Time: Tuesday, 26 November 4 p.m.–6 p.m.

Giuseppe Moscatello is an Italian-born video artist who have also worked using photography, painting and istallation. Giuseppe has previosly participated in numerous exhibitions, as well as produced videos and documentaries about artists, also curated a number of exhibitions. Moscatello was born in Botrugno, in Lecce Apuglia area, Italy in 1979. He received his BFA from Accademia delle Belle Arti, Rome in 2003. He now lives and works in Sharjah and Italy.

Prilla Tania was born in Bandung on 1 April 1979. She graduated from Bandung Institute of Technology (ITB), Art and Design Faculty , Fine Art Department, Sculpture Studio in July 2001. Prilla Tania has been actively involved in the local art scene since 2003. She makes soft sculptures, installations, videos and photographs. She is also a performance artist. Prilla Tania tends to use simple material for her artworks; fabric, chalks, paper, or everyday objects, even ingridients from the kitchen, in a seemingly simple visual language. Since the beginning Prilla has explored themes on issues faced by human and discovered that everything comes back to survival. The modern culture has made life so complicated that the simple issue of survival has turned complex, i.e. on the subject of food. Prilla Tania’s artworks began with waste and energy issues, and later shifted its focus to the basic human energy fulfilment; food. Because of her concerns, Prilla had changed her diet into a simple one to reduce waste and save energy.

Mobius Design Studio is based in Dubai and run by Hadeyeh Badri, Hala Al-Ani and Riem Hassan. The founders graduated from the College of Art, Architecture and Design at the American University of Sharjah in 2009 and they have been balancing their time between studio research and making projects either commercial or independent ever since. Their latest design research explores both Typography and Spatial Design. Mobius is in constant pursuit of collaborations with like-minded designers to engage in diversed design processes and material studies. Mobius initiated and became the curator of the Design House at the Sikka Art Fair in Dubai (2013), a concentrated center for design that shows a selection of chosen works within a space that is carefully examined. The Design House intends to be a catalyst for people to explore design beyond the commercial boundary.

The House of Natural Fiber (HONF) is a New Media art laboratory, founded in 1999. They concentrate on the principles of critique and innovation. It starts as a young community, with various backgrounds and ideals, they want to do whatever they wish, but with a natural inclination to create by the spirit of togetherness. There is no ambition to work simply for personal profit. They create for themselves, their family, and their environment. This is the basis for the first actions and commitment between them.

Temu Wicara & Diskusi: Giuseppe Moscatello, Prilla Tania, Mobius, HONF

Biennale Jogja XII Equator #2 mengundang Anda untuk menghadiri acara temu wicara dan diskusi dengan Giuseppe Moscatello (Head Curator Maraya Art Centre, Sharjah, U.E.A.) dan seniman-seniman BJ XII Prilla Tania (IDN), Mobius (ARE), HONF (IDN). Di dalam temu wicara ini, Giuseppe akan bercerita tentang Maraya Art Centre dan skena seni di Uni Emirat Arab, sementara Prilla Tania akan memaparkan pengalaman residensinya di Maraya, serta Mobius dan HONF akan bertutur soal kolaborasi mereka membuat karya untuk BJ XII ini.

Tempat: SaRanG Building
Dusun Kalipakis, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
Waktu: Selasa, 26 November 2013 pukul 16.00–18.00

Giuseppe Moscatello adalah seniman video asal Italia, yang kerap juga bekerja menggunakan medium fotografi, lukisan, dan instalasi. Selain pernah mengikuti banyak pameran, Giuseppe telah membuat video dan dokumenter tentang beberapa seniman, serta mengurasi sejumlah pameran. Moscatello lahir di Botrugno, wilayah Lecce Aplugia, Italia pada 1979. Dia mendapatkan gelar BFA dari Accademia delle Belle Arti, Roma pada 2003. Kini tinggal dan bekerja di Sharjah dan Italia.

Prilla Tania dilahirkan di Bandung tanggal 1 April 1979. Ia lulus dari Studio Seni Patung, Departemen Seni Rupa, Fakultas Seni dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Juli 2001. Prilla Tania telah aktif di skena seni lokal semenjak tahun 2003. Karyanya mencakup patung lunak, instalasi, video dan foto. Ia juga adalah seorang seniman performans. Prilla Tania cenderung menggunakan bahan yang mudah dalam karyanya; kain, kapur, kertas atau benda sehari-hari, bahkan bumbu dapur, dalam bahasa visual yang nampak sederhana. Sejak awal Prilla mengeksplorasi tema berdasarkan permasalahan yang dihadapi manusia dan menemukan bahwa semuanya hal adalah persoalan bertahan hidup. Budaya modern telah membuat hidup menjadi sangat rumit sehingga permasalahan bertahan hidup yang sederhana pun menjadi masalah kompleks, misalnya mengenai makanan. Karya-karya Prilla berangkat dari isu-isu limbah dan energi, kemudian bergeser fokus pada kebutuhan pemenuhan energi manusia; makanan. Karena kepeduliannya tersebut, Prilla bahkan mengubah pola makannya menjadi sangat sederhana untuk mengurangi limbah dan menghemat energi. Di dalam Biennale Jogja XII ini, Prilla sempat menjalani residensi di Maraya Art Centre, Sharjah, U.E.A.

Mobius Design Studio terletak di Dubai dan dimotori oleh Hadeyeh Badri, Hala Al-Ani dan Riem Hassan. Sejak lulus dari College of Art, Architecture and Design di American University of Sharjah pada 2009, para pendiri Mobius membagi waktu mereka antara melakukan riset studio, dan membuat proyek-proyek komersial dan independen. Riset desain terakhir mereka mengeksplorasi tipografi dan rekaan spasial. Mobius terus-menerus melakukan kolaborasi dengan para desainer yang punya pemikiran serupa untuk melibatkan diri dalam beragam proses perekaan dan pembelajaran bahan. Mobius menginisiasi dan mengkurasi Design House pada Sikka Art Fair di Dubai (2013), sebuah pusat desain yang memamerkan karya terpilih dalam ruang yang dikurasi dengan seksama. Design House dimaksudkan sebagai katalis bagi publik di dalam mengeksplorasi desain melampaui batas-batas komersial.

The House of Natural Fiber (HONF) adalah sebuah laboratorium seni media baru yang didirikan tahun 1999. Mereka berkonsentrasi pada prinsip-prinsip kritisisme dan inovasi. Dimulai sebagai komunitas yang masih sangat muda, dengan berbagai idealisme dan latar belakang, mereka ingin melakukan apa pun yang diinginkan tetapi dengan kecenderungan mencipta berdasarkan semangat kebersamaan. Tidak ada ambisi untuk bekerja demi keuntungan pribadi. Mereka mencipta untuk dirinya sendiri, keluarga dan lingkungan. Ini adalah dasar aksi pertama dan komitmen di antara mereka.

Pasar Glagah: Perjumpaan Subuh

Poster Pasar Glagah Perjumpaan SubuhS

Sebagai bagian dari Festival Equator: Budaya Bergerak Biennale Jogja XII Equator #2, ketjilbergerak mempersembahkan Pasar Glagah: Perjumpaan Subuh, sebuah acara yang akan merayakan bentuk-bentuk perjumpaan Indonesia dan Arab di desa Glagah, Kulon Progo, bersama-sama dengan warga Glagah. Pasar Glagah dipilih sebagai tempat sebab pasar adalah sumber hidup masyarakat Glagah.

Di pasarlah mereka mendapatkan kebutuhan sehari-hari. Di pasar jugalah mereka menjual hasil tani dan hasil laut milik mereka. Dengan kata lain, acara ini coba menggabungkan makna filosofis dan fungsi pasar yang menjadi sumber panguripan bagi para pedagangnya dan sumber kebutuhan bagi pembelinya. Sumber-sumber ini diibaratkan sebagai sebagai tuk atau mata air penghidupan yang banyak memberikan manfaat bagi manusia, oleh sebab itu perlu dijaga, dirawat, dan dirayakan.

’Perjumpaan Subuh’ sendiri menyimbolkan beberapa hal. ‘Perjumpaan’ bisa mewakili pertemuan budaya Indonesia dan Arab yang ada di sana. ‘Perjumpaan’ juga bisa jadi simbol bagi pasar sebagai tempat beragam orang berjumpa. Sedang ‘Subuh’ bisa jadi wakil dari waktu dimulainya pasar dan aktivitas warga Glagah. Pun ‘Subuh’, seperti yang sudah diketahui, punya makna religius jika dikaitkan dengan kebudayaan Arab, khususnya Islam.

 

Pasar Glagah: Perjumpaan Subuh mengambil ruang di depan Pasar Glagah Kulon Progo, berlangsung mulai pukul 05.00 pagi hingga 08.00 pagi. Akan ada Hadrah Rebana Nurul Dholam,  merangkai gunungan bersama warga, Kembul Bujana (makan bersama) dan Jathilan Turangga Muda. Sampai berjumpa di Pasar Glagah, kawan!

*Pasar Glagah terletak di persimpangan Glagah, 1.5 kilometer dari TPR Pantai Glagah, Temon, Kulon Progo, DIY. Denah Pasar Glagah:

peta-festival-Equator+bendera

 

Info lebih lanjut tentang acara:
CP: Sita Magfira
HP: +6282220130610
Email: ketjil.bergerak@gmail.com

Info lebih lanjut tentang penginapan:
CP: Mantoyo, Ketua Desa Wisata Glagah
HP: +628157936502

 

Belajar Bahasa Waria Lewat Film

Ditulis oleh Brigitta Engla Aprianti (Peserta Program Magang Penulisan Seni dan Kewartawanan)

“Mbak, ngerti nggak sama terjemahan di film itu?” tanya Alona.

Paris is Burning menjadi film terakhir yang ditayangkan oleh Makcik Project di Oxen Free pada Selasa, 12 November 2013 pukul 16.00. Film tersebut menjadi pemantik dalam pembukaan pameran Parallel Events kelompok Makcik Project. Yang kemudian dipertontonkan adalah pemberian subtitle bahasa waria (makcik) dalam film. Bahasa makcik merupakan bahasa Indonesia yang ‘diplesetkan’. Hanya kelompok waria dan orang yang biasa berkumpul dengan waria dapat paham bahasa makcik.

“Bahasa Makcik muncul dalam percakapan sehari-hari. Dalam tiap komunitas waria, ada beberapa kosa kata yang sama dan berbeda. Tergantung dari kreativitas para waria,” ungkap Alona, salah satu waria yang berkolaborasi dalam Makcik Project. Selama pemutaran film terlihat  beberapa waria membantu penonton untuk memahami bahasa makcik. Bicara bahasa adalah bicara manusia. Bahasa pun menjadi salah satu unsur identitas dan eksistensi manusia. Waria ingin menunjukan bahwa idenitas dan eksistensi mereka tercermin melalui bahasa makcik.

Makcik Project Episode #2 diinisiasi oleh tiga seniman yaitu Ferial Afiff, Lashita Situmorang, dan Jimmy Ong serta dua komunitas yaitu X-CODE Film dan Broken Mirror Project. Proyek yang dikurasi oleh Grace Samboh ini berangkat dari pertanyaan bagaimana pekerja seni dapat memberikan kontribusi untuk wanita transgender.

Ide menonton film dicetuskan oleh Lashita Situmorang, yang sebelumnya sudah memutarkan delapan film dengan judul berbeda tiap minggunya. Film-film yang dipertontonkan selalu dalam konteks kehidupan waria. Harapannya adalah setiap film dapat menginspirasi masyarakat umum dan waria itu sendiri.

Dalam sesi ini juga diputar film berjudul Air Terjun Buanci hasil karya Wacan Management. Ide dan proses pembuatan film diproduksi sendiri oleh para waria. Mereka membuat mitos tentang air terjun yang dapat mengubah seseorang menjadi wanita seutuhnya.  Lashita ingin mengajak waria untuk keluar dari zona nyamannya dengan cara membawa mereka ke ruang-ruang publik. Mereka dibiarkan untuk duduk di mana saja selama film berlangsung. Tujuannya adalah agar waria bisa berbaur dengan masyarakat umum. “Karena pada dasarnya orang kebanyakan tidak mendiskriminasi kaum waria, tetapi para waria yang mendiskriminasi dirinya sendiri,” tambah Grace Samboh.

Pameran Makcik Project Episode #2 yang berjudul We Are All Human berlangsung mulai Rabu, 13 November hingga Selasa, 26 November 2013 di Kedai Kebun Forum. Film-film yang telah dialihbahasakan ini dapat diunduh secara gratis selama pameran berlangsung.

(Foto diambil dari http://makcikproject.tumblr.com/post/61075875614/malam-makcik-makcik-night-oxen-free-yk-has)

Biennale Jogja XII Artist’s Talk: UBIK

Artist’s talk: UBIK—Biennale Jogja XII Equator #2 Residency Artist
Dates: Saturday, November 23rd, 2013 1 p.m.
Venue:  Pelataran Joko Pekik, Dusun Sembungan, Kasihan, Bantul
Speaker: UBIK
Moderator: Setu Legi

Residency is one of the programs held during Biennale Jogja XII. The program invites artists from partner countries to visit Yogyakarta and have creative process here. One of the participating artists of the program is Vivek Premachandran, who also goes under the name UBIK. Born in India, UBIK now resides and works in Dubai, United Arab Emirates. UBIK spent his childhood under the communist regime which ruled India at the time. His past has influenced UBIK’s art practices. Many of his conceptual works are presented through manipulation, text appropriation and images that are put together in installations, sculptures, sound and performance.

UBIK’s residency program started on 29 October 2013 and will end on 29 November 2013. His activities in Yogyakarta include meetings with other artists such as Indieguerillas, Terra Bajraghosa and Prihatmoko Moki. For Biennale Jogja XII, UBIK produced a work titled “Unity in Diversity [Study]” which consists of black painted steel Garuda Pancasila, flour sacks, organization badges, etc. He tried to dig about identity through used and found objects from his exploration in second hand markets in Yogyakarta.

The process of finding the meaning of identity went on through the used objects by linking and reproducing them based on his personal reading and experience. Before undergoing his residency in Yogyakarta, UBIK tried to explore the system and structure that had taken place in Indonesia. It was interesting for him that a regime could fade someone’s identity. These are the things UBIK will address in his talk.

***

Vivek Premachandran was born in Trivandrum, Kerala, India in October 1985. He’s more known as UBIK, a pseudonym he adopted from the namesake Philip K. Dick novel. UBIK grew up between a Communist State [Kerala] and a Monarchical Country [UAE], and this upbringing is an essential and important aspect often addressed in his artistic practice. UBIK has exhibited in India, United Arab Emirates and Europe, including solo exhibition “Dissident” at Galería Sabrina Amrani, Madrid, Spain (2012), “With A Little Help from My Friends” at The Pavilion Downtown, Dubai (2012) and “Satellite Broadcast 001: Tahrir Sq. Satellite” in Dubai (2011). He also exhibited in group exhibitions, among them are Kochi-Muziris Biennale in Kochi, India (2012), “A Most Precarious Relationship” in Maraya Art Centre, Sharjah (2012) and “Text ME” at Lawrie Shabibi, Dubai (2012). UBIK has also participated in various art fairs, among them are Artissima in Turin, Italy (2013), Art Dubai (2011- 2013), Abu Dhabi Art Fair (2012) and Beirut Art Fair (2012).

Ubik’s practice concerns the manipulation and appropriation of text, images and environments, through a variety of forms including print, installation, sculpture, sound and performance. His works explore the possibility of constructing a narrative whose aesthetics sample from everyday objects, so as to further explore the viewer’s relationship with the object. By situating the works within the context of specific sites, they are conceptually framed in a way to address the passing curiosity of the viewer while allowing room for them to question their relationship to the work – this interaction between the viewer and the work eventually disassembles into what the viewer sees as being a spectacle; further morphing the artwork into a performance in which the viewer is involved. His use of humor and irony is an important and deliberate aspect of his practice, allowing him to explore the societal matters that consume our contemporary lives.

Wicara Seniman Biennale Jogja XII: UBIK

Wicara Seniman: UBIK—Seniman Residensi Biennale Jogja XII Equator #2
Hari/Tanggal: Sabtu, 23 November 2013 Pukul. 13.00 WIB
Tempat: Pelataran Joko Pekik, Dusun Sembungan, Kasihan, Bantul
Pembicara: UBIK
Moderator: Setu Legi

Residensi merupakan salah satu program yang diselenggarakan dalam rangakaian Biennale Jogja XII. Program ini mengundang seniman-seniman asal negara mitra untuk singgah ke Yogyakarta dan melakukan proses kreatifnya di sini. Salah satu yang menjadi partisipan program ini adalah Vivek Premachandran atau yang lebih dikenal dengan nama UBIK. Pria keturunan India tersebut saat ini menetap dan berkarya di Dubai, Uni Emirat Arab. UBIK menghabiskan masa kecilnya ditengah rezim komunisme yang saat itu sedang bergulir di India. Hal itulah yang sedikit banyaknya mempengaruhi UBIK dalam praktik berkeseniannya. Karya-karya konseptualnya banyak dihadirkan melalui manipulasi, apropriasi teks, serta gambar yang dituangkan dalam medium seperti instalasi, patung, suara, dan pertunjukan.

Program residensi UBIK berlangsung dari tanggal 29 Oktober hingga 29 November 2013. Dalam aktivitasnya di Yogyakarta, ia banyak menemui seniman serta komikus seperti Indieguerillas, Terra Bajraghosa, dan Prihatmoko Moki. Dalam Biennale Jogja XII, UBIK menelurkan sebuah karya bertajuk “Unity in Diversity [Study]” berbentuk Garuda Pancasila berbahan dasar baja yang diselubungi cat hitam, kantung terigu, lencana organisasi, dan sebagainya. Ia berusaha menggali identitas melalui benda-benda bekas atau found object, hasil eksplorasinya terhadap pasar barang bekas di Yogyakarta.

Proses pemaknaan identitas tersebut berlangsung melalui benda-benda bekas—menautkannya, dan direproduksi kembali atas bacaan dan pengalaman personalnya. Sebelum melakukan proses residensinya di sini, UBIK berusaha mengeksplorasi sistem serta struktur yang pernah berlangsung di Indonesia. Merupakan persoalan yang menarik bagi UBIK bahwa sebuah rezim dapat melunturkan identitas yang dimiliki seseorang. Hal inilah yang akan banyak disampaikan oleh UBIK dalam Program Wicara Seniman Biennale Jogja XII mendatang.

***

Vivek Premachandran dilahirkan di Trivandrum, Kerala, India, pada Oktober 1985. Lebih dikenal sebagai UBIK, sebuah samaran yang dia adopsi dari novel Philip K. Dick. UBIK tumbuh di antara negara bagian komunis (Kerala) dan negara monarki (Uni Emirat Arab), dan asuhan ini merupakan aspek inti dan penting yang kerap dia garap di dalam praktik keseniannya. UBIK telah berpameran di India, Uni Emirat Arab, dan Eropa, termasuk pameran tunggal “Dissident” di Galeria Sabrina Amrani, Madrid, Spanyol (2012), “With A Little Help from My Friends” di The Pavillion Downtown, Dubai (2012), dan “Satelite Broadcast 001: Tahrir Sq. Satellite” di Dubai (2011). Dia juga mengikuti pameran kelompok, di antaranya Kochi-Muziris Biennale di Kochi, India (2012), “A Most Precarious Relationship” di Maraya Art Centre, Sharjah (2012), dan “Text ME” di Lawrie Shabibi, Dubai (2012). UBIK telah berpartisipasi di dalam sejumlah art fair, di antaranya Artissima di Turin, Italia (2013), Art Dubai (2011–2013), Abu Dhabi Art Fair (2012), dan Beirut Art Fair (2012).

Praktik UBIK menyangkut manipulasi dan apropriasi teks, gambar, dan lingkungan, melalui bentuk yang beragam, termasuk cetak, instalasi, patung, suara, dan pertunjukan. Karyanya mengeksplorasi kemungkinan membangun narasi yang estetikanya diambil dari benda sehari-hari, sehingga mengeksplorasi lebih jauh hubungan pemirsa dengan objek. Dengan menempatkan karyanya di dalam konteks tapak yang khusus, karya itu dibingkai secara konseptual untuk menunjukkan perlintasan keingintahuan pemirsa sambil memberi mereka kesempatan untuk mempertanyakan hubungan mereka dengan karya itu — interaksi di antara pemirsa dengan karya ini pada akhirnya membongkar karya menjadi tontonan; lebih jauh lagi mengubah karya menjadi pertunjukan di mana pemirsa terlibat. Caranya menggunakan humor dan ironi merupakan aspek yang penting dan disengaja dari praktiknya, memberinya kesempatan untuk mengeksplorasi hal sosial yang menyita kehidupan kita kini.

Program Parallel Events BJXII: Perek Project

INNER RESISTANCE

Pembukaan Pameran Personal Perek
23 November 2013, jam 19.00 – 22.00
Ascos, Asmara Art & Coffee Shop, Jl. Tirtodipuran no. 22, Yogyakarta

Pembukaan Pameran Inner Resistance
24 November 2013, jam 19.00 – 22.00
Kersan Art Studio, Ds. II Kersan no. 154 Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta

Performance Perek #1
27 November 2013, jam 19.00 – 21.00
Kersan Art Studio, Ds. II Kersan no. 154 Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta

Performance Perek #2
30 November 2013, jam 19.00–21.00
Kersan Art Studio

Wicara Seniman
7 Desember 2013, jam 16.00 – 20.00
Kersan Art Studio

Penutupan Pameran
7 Desember 2013, jam 20.20 – 23.30
Ascos, Asmara Art & Coffee Shop

Diinisiasi oleh Kelompok PEREKs

Kelompok PEREKs merupakan kelompok seni perempuan yang peduli dengan isu-isu perempuan. Dalam program Parallel Events BJXII, Kelompok PEREKs mengangkat permasalahan para TKW, dengan melakukan dokumentasi dan penelitian tentang para tenaga kerja wanita Indonesia yang selama ini terpinggirkan dan dianggap rendah. Hasilnya akan dipresentasikan dalam sebuah pameran seni rupa.

INNER RESISTANT POSTER

Program Parallel Events BJXII: KNYT SOMNIA

KNYT SOMNIA poster

GENESIS OF TERROR

Pameran, Instalasi Seni, Video, Pertunjukan Musik, Photobox
19 – 25 November 2013
Gedung Situs Patung Jogja National Museum

Pembukaan: 19 November 2013, jam 19.00

Lokakarya dengan TK Komimo
18 November 2013, jam 8.00
Gedung Situs Patung Jogja National Museum

Diinisiasi oleh KNYT SOMNIA (Merajut Mimpi)

KNYT SOMNIA adalah kelompok multidispliner yang terdiri dari seniman, musisi, dan beberapa individu yang memiliki ketertarikan pada sejarah, budaya, seni, dan spiritual. Melalui proyek “Genesis of Terror” di program Parallel Events BJXII kali ini, KNYT SOMNIA mengangkat persoalan pengalaman sejarah. Dalam proyek ini, KNYT SOMNIA mengambil penggalan peristiwa sejarah Indonesia dengan Mesir, khususnya peran pimpinan kedua negara tersebut dalam menggagas tatanan dunia baru dan menjadi pionir dalam menjaga keseimbangan dunia melalui Gerakan Non-Blok. Dideklarasikannya Gerakan Non-Blok adalah awal terjadinya teror bagi kedua negara tersebut, serta negara pendiri lainnya.

 

Jogja Nasional Museum

[column size=”1/1″]
Lihat Jogja National Museum di peta yang lebih besar[/column] [column size=”1/3″]

Denah Lantai 1

Denah JNM Lantai 1 upload

1. Wael Shawky

2. Basim Magdy

3. Tiong Ang

4. Handiwirman Saputra

5. Eko Nugroho

6. Agus Suwage

[/column][column size=”1/3″]

Denah Lantai 2

Denah JNM Lantai 2 upload

1. Prilla Tania

2. Leonardiansyah Allenda

3. F.X. Harsono

4. Take to The Sea

5. Jasmina Metwaly

6. Ahmed Mater

7. Salwa Aleryani

8. Otty Widasari

[/column] [column size=”1/3″]

Denah Lantai 3

Denah JNM Lantai 3 upload

1. Dina Danish

2. UBIK

3. Syagini Ratna Wulan

4. Reza Afisina

5. Restu Ratnaningtyas

6. Hassan Khan

7. Duto Hardono

[/column]

Langgeng Art Foundation

[column size=”1/1″]
Lihat Langgeng Art Foundation di peta yang lebih besar[/column][column size=”1/4″]

LAF Facade

Denah LAF Facade upload

1. Radhika Khimji

2. Mohamed Abdelkarim

[/column][column size=”1/4″]

LAF Lantai 2

Denah LAF Lantai 2-upload

1. Ayman Yousri

2. Nasir Nasrallah

3. Magdi Mostafa

4. Dina Danish

[/column][column size=”1/4″]

LAF Lantai 1

Denah LAF Lantai 1-upload

1. Pius Sigit Kuncoro

2. Restu Ratnaningtyas

3. Syagini Ratna Wulan

[/column][column size=”1/4″]

Basement LAF

Denah LAF Bawah Tanah-upload

1. Wael Shawky

2. Venzha Christiawan

[/column]

Saranng Building

[column size=”1/1″]
Lihat SARANG BUILDING di peta yang lebih besar[/column][column size=”1/3″]Denah SaRanG Building-upload[/column][column size=”2/3″]

1. Tintin Wulia

2. Agung Kurniawan

3. Salwa Aleryani

4. Agus Suwage

5. Syagini Ratna Wulan

6. Restu Ratnaningtyas

[/column]

 

Program Parallel Events BJXII: DEKA EXI(S)

DEKA EXIS poster

ARABIAN PASAR KLIWON

Pameran Dokumentasi, Performance, Lokakarya: Tari, Kaligrafi, Musik, Seni Instalasi, Pameran Video Seni
17 – 30 November 2013, jam 9.00–17.00
Panggung Krapyak, Jl. D.I. Panjaitan, Yogyakarta

Pembukaan: 17 November 2013, jam 20.00

Diinisiasi oleh DEKA-EXI(S)

DEKA-EXI(S) merupakan kelompok beranggotakan perorangan dari berbagai disiplin ilmu dan profesi seni, yang dipertemukan kembali dalam sebuah forum ketika bersama-sama menempuh program pascasarjana pendidikan seni di Yogyakarta. Kelompok ini mengkhususkan diri dalam penelitian dan kegiatan yang menggunakan medium seni rupa sebagai bahasa sekaligus medianya.

Berdasarkan penelitian atas warga keturunan Arab yang tinggal di sebuah perkampungan keturunan Arab terbesar di Solo, dalam program Parallel Events BJXII kali ini, DEKA-EXI(S) mengangkat tema “Arabian Pasar Kliwon”. Dalam proyek ini, DEKA-EXI(S) memusatkan perhatian pada kebudayaan warga keturunan Arab yang tinggal di seputaran wilayah Solo, kemudian menampilkannya kembali melalui pameran dokumentasi, pertunjukan, dan pameran seni rupa.

 

Wael Shawky (EGY)

Wael Shawky (b. 1971) studied fine art at the University of Alexandria before receiving his MFA from the University of Pennsylvania in 2000. With his multidisciplinary practices, Wael Shawky explored political, cultural and religious transitions in the Arab world. This can be seen for example in his video Cabaret Crusades: The Path to Cairo (2012), inspired by Amin Maalouf’s book The Crusades through Arab Eyes (1983). The video uses marionettes of historical figures enacting Wael Shawky’s surreal approach to the time between the two Crusades in the year of 1099 to 1147. The video showed how history of the past can be seen in the current modern context. In 2010 Wael Shawky established the studio space and study program MASS Alexandria, an independent space to for art studies in Egypt.

In this Biennale Jogja XII, Wael Shawky presenting his video installation ‘Al Araba Al Madfuna’ which depicts a group of boys dressed up like grown-up men, complete with fake moustaches. With adult voices the children tells a story written by Mohamed Mustagab, while one of them digging a hole in the room. Al Araba Al Madfuna is a village located in the Upper Egypt. The area has a long history of treasure hunting, using sheikhs, a type of shaman believed to be able to foretell the location of a buried ancient Egypt tomb, as the area is estimated to be on top of the ancient Abydos, one of ancient Egypt prominent necropolises worshipping the god Osiris. The people would invite a sheikh who would point out the place where they have to dig, and they would dig continously with hopes of discovering treasures. Once or twice people discovered treasure, but more often they don’t. Mohamed Mustagab’s story is an interesting parable about a credulous society who permits itself to be manipulated by its spiritual leaders.

Wael Shawky2

Al Araba Al Madfuna
2012
Video, black-and-white, sound, 21 min 21 sec
Video still
Images courtesy of the artist and Sfeir-Semler
Gallery, Beirut / Hamburg

Wael Shawky (EGY)

Al Araba Al Madfuna
2012
Video, black-and-white, sound, 21 min 21 sec
Video still
Images courtesy of the artist and Sfeir-Semler
Gallery, Beirut / Hamburg

Wael Shawky (b. 1971) belajar seni rupa di Universitas Alexandria, kemudian mendapatkan gelar Master untuk Seni Rupa dari Universitas Pennsylvania di tahun 2002. Dengan praktik multidisiplinernya, ia mengeksplorasi transisi politik, budaya dan agama di dunia Arab. Hal ini misalnya, dapat dilihat dalam karya videonya Cabaret Crusades: The Path to Cairo (2012), yang terinspirasi oleh sebuah buku berjudul The Crusades through Arab Eyes tulisan Amin Maalouf (1983). Karya tersebut menggunakan figur boneka tokoh sejarah yang melakonkan pendekatan Wael Shawky yang sureal atas peristiwa di antara dua perang Salib tahun 1099 hingga 1147. Video tersebut menggambarkan bahwa sejarah masa lalu dapat sesuai dengan konteks di masa kini. Tahun 2010 Wael Shawky mendirikan ruang seni dan program belajar MASS Alexandria, sebuah ruang independen untuk pembelajaran seni di Mesir.

Untuk Biennale Jogja XII ini, Wael Shawky akan akan mempresentasikan sebuah karya instalasi video dengan judul Al-Araba Al-Madfuna, yang menggambarkan sekelompok bocah lelaki berpakaian seperti orang dewasa lengkap dengan kumis palsunya. Dengan suara orang dewasa, anak-anak tersebut mengisahkan cerita yang ditulis oleh Mohamed Mustagab, sementara salah satu dari mereka menggali sebuah lubang di lantai ruangan tersebut. Al Araba Al Madfuna adalah nama sebuah desa yang terletak di Upper Egypt (Tepi bagian selatan lembah sungai nil). Wilayah tersebut memiliki sejarah panjang kisah perburuan harta karun, dengan menggunakan jasa para syekh, sejenis dukun yang dipercaya dapat meramalkan lokasi Pemakaman Mesir kuno yang terkubur. Wilayah tersebut diperkirakan berada di atas Abydos, sebuah kompleks pemakaman kuno yang dipersembahkan untuk Dewa Osiris. Penduduk akan mengundang seorang syekh yang akan menunjukkan titik mana yang harus digali, kemudian mereka akan menggali terusmenerus berharap menemukan harta karun. Satu-dua kali memang ditemukan harta, tetapi lebih sering tidak. Cerita Mohamed Mustagab ini sendiri merupakan sebuah pengandaian menarik tentang sebuah masyarakat yang patuh yang membiarkan dirinya ditipu oleh pemimpin spiritual mereka.

Wael Shawky2

Al Araba Al Madfuna
2012
Video, black-and-white, sound, 21 min 21 sec
Video still
Images courtesy of the artist and Sfeir-Semler
Gallery, Beirut / Hamburg

Venzha Christiawan (IDN)

Immortal: The Mind Beyond Self
A research project based on Ancient Alien Phenomenon, Egypt
Biennale Jogja XII, 2013

 

Vincensius ‘Venzha’ Christiawan was born 1975 in Indonesia. He graduated from the Interior Design Faculty (BA) at the Indonesia Institute of the Arts (ISI) in 1996. His works focuses on new media art since 1999 when he founded ‘the House of Natural Fiber’(HONF), a new media art laboratory in Yogyakarta, Indonesia. HONF determined to fuse education, art and technology with local communities, and without cultural limitation. Venzha is interested in exploring local issues of technology and science research while bringing up social and political issues at the same time. Venzha is also the founder of HONF FabLab, 10:05 news project, an electrocore sound project where he produced and organized many projects such as public art installations, media performances, media art festivals, technology research, videowork festival, workshops, discussions, DIY gatherings, electronic and media culture movements and so on. Together with his community, he has presented Indonesian media art projects in many places and countries worldwide. Through HONF, Venzha has produced special projects in the media art field called Education Focus Program (EFP). The goal of the Education Focus Program (EFP) is to build connections and interactions between local/creative communities (whose interest and focus is on new media), scientists, and creators/artists. A second innovative aim is to make a connection between universities with expertise in technology and media artists/ theorists who are interested in new media art and technology.

Here, he tries to reinforce the interest in and analysis of technology in artistic production and theory. He tends to focus on building new bridges between art and technology in Indonesia together with HONF. Venzha is also a conceptor and director for YIVF (Yogyakarta International Videowork Festival) and CELLSBUTTON (Yogyakarta International Media Art Festival), which produced and organized by HONF every year. For Biennale Jogja XII, Venzha will present his findings related to the realtionship between aliens and the pyramids during his residency in Cairo.

Venzha Christiawan (IDN)

Immortal: The Mind Beyond Self
A research project based on Ancient Alien Phenomenon, Egypt
Biennale Jogja XII, 2013

 

Vincensius ‘Venzha’ Christiawan lahir tahun 1975 di Indonesia. Ia lulus dari jurusan Desain Interior ISI Yogyakarta pada tahun 1996. Sejak tahun 1999, karyanya berfokus pada bidang seni media baru, saat ia membangun The House of Natural Fiber (HONF), sebuah laboratorium media seni baru di Yogyakarta, Indonesia. HONF bertekad untuk memadukan pendidikan, seni, dan teknologi dengan komunitas lokal tanpa batasan budaya. Venzha tertarik untuk memasukkan isu lokal ke dalam teknologi dan penelitian ilmiah, sembari membawa isu politik dan sosial di waktu bersamaan. Selain salah satu pendiri HONF, Venzha juga mendirikan 10:05 News Project dan Electrocore Sound Project, di mana ia memproduksi dan mengorganisir banyak proyek seni berupa seni instalasi, performans media, media-art festival, riset teknologi, festival video, lokakarya, diskusi, pertemuan DIY, pergerakan budaya media dan elekronik, dan sebagainya. Venzha bersama komunitasnya mempresentasikan Indonesia dalam proyek media art di berbagai tempat dan negara di seluruh dunia. Melalui HONF, Venzha menciptakan sebuah proyek khusus dalam bidang media art berjudul “Education Focus Program” (EFP). EFP bertujuan membangun koneksi dan interaksi antara komunitas kreatif lokal, yang tertarik dan berpusat pada bidang media baru, dengan peneliti dan seniman. Tujuan inovatif kedua-nya adalah menciptakan hubungan antar-universitas yang berpengalaman dalam teknologi dengan seniman media yang tertarik pada seni media baru dan teknologi.

Di sini, ia mencoba memperkuat minat dan analisa teknologi dalam produksi artistik dan teori. Ia cenderung berpusat pada upaya membangun jembatan baru antara seni dan teknologi di Indonesia bersama HONF. Selain itu, Venzha juga konseptor dan direktur untuk YIVF (Yogyakarta International Videowork Festival) dan CELLSBUTTON (festival internasional seni media di Yogyakarta), yang diadakan oleh HONF setiap tahunnya. Untuk Biennale Jogja XII, Venzha akan mempresentasikan temuannya yang berkaitan dengan hubungan alien dengan piramida, selama residensinya di Kairo.

Ugo Untoro (IDN)

Deru (Roar)
2013
43 pcs horse feet
Dimensions variable

Ugo Untoro was born in Purbalingga, Central Java, Indonesia in 1970. He graduated from Indonesia Art Institute, Yogyakarta. Ugo Untoro is one of the artists who brought contemporary Indonesian art to a new level. He has been recognized across the archipelago for his strong character and persistence in creating art works that reflect the conditions of existence, both at the level of being an artist as well as a human being, which showcase Indonesian contemporary culture for what it is, turbulent but also a pure and simple part of everyday reality. Over the past decade, Ugo Untoro’s works have encompassed an elaborate collection of paintings, drawings, poems and writings. Among his many solo exhibitions, he was known for his dramatic solo exhibition that explored intricate installation projects, titled “Poem of Blood”. “Poem of Blood” was exhibited in Indonesia (2007), Shanghai (2008), and Italy (2009). Considered one of Indonesia’s key contemporary artists, Untoro has exhibited widely in Indonesia as well as Malaysia, China, Singapore, and France. Hailing from a street background, Untoro’s work is related to the boundless nature of graffiti art, his signature style is raw and spontaneous rather than pleasant. He won several Phillip Morris Award in the 1990s and in 2007, he became one of Tempo magazine’s Man of the Year 2007 and was awarded “Best Artist and Work” by Langgeng Gallery in the Quota exhibition at the National Gallery in Jakarta.

In his work, “Deru”, he explores man’s discovery and conquest of horses as a vehicle, seen as the beginning of human revolution for themselves and civilization. With the fast moving, agile and strong horses, human began to change the world and conquer unknown areas. Civilisations rise and fall, power changes hands. Associations depend on who is capable of conquering and ruling. Later culture is carried and spread as a way to ease the reign and at the same time guard it. The roar of thousands of invading horses might be just as terrifying as the rapid tank movements and fighter jets now. Human have always had the same instinct, now and forever.

Ugo Untoro (IDN)

Deru (Roar)
2013
43 pcs horse feet
Dimensions variable

 

Ugo Untoro lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, Indonesia pada tahun 1970. Ia menamatkan S1-nya di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Ugo Untoro adalah salah satu seniman yang membawa seni kontemporer Indonesia ke level baru. Ia telah dikenal di berbagai belahan dunia karena kekuatan karakter dan kegigihannya dalam menciptakan karya seni yang menggambarkan kondisi nyata, baik sebagai seniman maupun sebagai manusia pada umumnya, yang menunjukkan kondisi Indonesia saat ini sebagaimana adanya—bergejolak namun juga murni dan sederhana sebagai bagian dari realitas sehari-hari. Dalam beberapa dekade belakangan ini, karya Ugo Untoro menunjukkan koleksi berkesinambungan antara gambar, lukisan, puisi, dan tulisan. Di antara banyak pameran tunggalnya, “Poem of Blood” merupakan satu yang dramatis dan penuh intrik. “Poem of Blood” pernah dipamerkan di Indonesia (2007), Shanghai (2008), dan Italia (2009). Sebagai salah satu seniman kunci dalam ranah seni rupa kontemporer Indonesia, Ugo Untoro telah berpameran di berbagai tempat, dari Indonesia sampai Malaysia, Cina, Singapura, hingga Perancis. Latar belakang jalanan dan seni grafiti membuat karyanya cenderung terlihat kasar dan spontan daripada terlihat indah. Telah memenangi beberapa penghargaan Phillip Morris di tahun ‘90-an, pada tahun 2007 ia masuk dalam daftar Man of the Year majalah Tempo, serta dinobatkan sebagai seniman terbaik yang meraih karya terbaik dalam pameran “Quota” di Galeri Nasional, diadakan oleh Galeri Langgeng di Jakarta.

Dalam ‘Deru’, ia melakukan eksplorasi atas penemuan dan penaklukan manusia atas kuda menjadi kendaraan, yang bisa dikatakan sebagai titik awal revolusi manusia atas diri dan kebudayaannya. Dengan kuda-kuda yang cepat, gesit, dan tangguh, manusia mulai mengubah dunia, menaklukkan wilayah-wilayah yang belum dikenal. Kebudayaan lahir dan musnah, silih berganti. Mata rantai perubahan ini terjadi bergantung pada siapa yang mampu menaklukkan dan menguasai. Di kemudian hari, kebudayaan dibawa dan disebarkan sebagai cara untuk menaklukkan dan melanggengkan kekuasaan. Deru invasi ribuan kuda sama mengerikannya dengan laju panser atau pesawat tempur saat ini. Manusia tetap sama nalurinya, sejak saat ini sampai kapan pun.

UBIK (IND)

Unity is Diversity [Study]
2013
4 Found metal emblems, Enamel paint,
Wooden emblem
Dimensions Variable

Vivek Premachandran was born in Trivandrum, Kerala, India in October 1985. He’s more known as UBIK, a pseudonym he adopted from the namesake Philip K. Dick novel. UBIK grew up between a Communist State [Kerala] and a Monarchical Country [UAE], and this upbringing is an essential and important aspect often addressed in his artistic practice. UBIK has exhibited in India, United Arab Emirates and Europe, including solo exhibition “Dissident” at Galería Sabrina Amrani, Madrid, Spain (2012), “With A Little Help from My Friends” at The Pavilion Downtown, Dubai (2012) and “Satellite Broadcast 001: Tahrir Sq. Satellite” in Dubai (2011). He also exhibited in group exhibitions, among them are Kochi-Muziris Biennale in Kochi, India (2012), “A Most Precarious Relationship” in Maraya Art Centre, Sharjah (2012) and “Text ME” at Lawrie Shabibi, Dubai (2012). UBIK has also participated in various art fairs, among them are Artissima in Turin, Italy (2013), Art Dubai (2011- 2013), Abu Dhabi Art Fair (2012) and Beirut Art Fair (2012).

Ubik’s practice concerns the manipulation and appropriation of text, images and environments, through a variety of forms including print, installation, sculpture, sound and performance. His works explore the possibility of constructing a narrative whose aesthetics sample from everyday objects, so as to further explore the viewer’s relationship with the object. By situating the works within the context of specific sites, they are conceptually framed in a way to address the passing curiosity of the viewer while allowing room for them to question their relationship to the work – this interaction between the viewer and the work eventually disassembles into what the viewer sees as being a spectacle; further morphing the artwork into a performance in which the viewer is involved. His use of humor and irony is an important and deliberate aspect of his practice, allowing him to explore the societal matters that consume our contemporary lives.

UBIK (IND)

Unity is Diversity [Study]
2013
4 Found metal emblems, Enamel paint,
Wooden emblem
Dimensions Variable

Vivek Premachandran dilahirkan di Trivandrum, Kerala, India, pada Oktober 1985. Lebih dikenal sebagai UBIK, sebuah samaran yang dia adopsi dari novel Philip K. Dick. UBIK tumbuh di antara negara bagian komunis (Kerala) dan negara monarki (Uni Emirat Arab), dan asuhan ini merupakan aspek inti dan penting yang kerap dia garap di dalam praktik keseniannya. UBIK telah berpameran di India, Uni Emirat Arab, dan Eropa, termasuk pameran tunggal “Dissident” di Galeria Sabrina Amrani, Madrid, Spanyol (2012), “With A Little Help from My Friends” di The Pavillion Downtown, Dubai (2012), dan “Satelite Broadcast 001: Tahrir Sq. Satellite” di Dubai (2011). Dia juga mengikuti pameran kelompok, di antaranya Kochi-Muziris Biennale di Kochi, India (2012), “A Most Precarious Relationship” di Maraya Art Centre, Sharjah (2012), dan “Text ME” di Lawrie Shabibi, Dubai (2012). UBIK telah berpartisipasi di dalam sejumlah art fair, di antaranya Artissima di Turin, Italia (2013), Art Dubai (2011–2013), Abu Dhabi Art Fair (2012), dan Beirut Art Fair (2012).

Praktik UBIK menyangkut manipulasi dan apropriasi teks, gambar, dan lingkungan, melalui bentuk yang beragam, termasuk cetak, instalasi, patung, suara, dan pertunjukan. Karyanya mengeksplorasi kemungkinan membangun narasi yang estetikanya diambil dari benda sehari-hari, sehingga mengeksplorasi lebih jauh hubungan pemirsa dengan objek. Dengan menempatkan karyanya di dalam konteks tapak yang khusus, karya itu dibingkai secara konseptual untuk menunjukkan perlintasan keingintahuan pemirsa sambil memberi mereka kesempatan untuk mempertanyakan hubungan mereka dengan karya itu — interaksi di antara pemirsa dengan karya ini pada akhirnya membongkar karya menjadi tontonan; lebih jauh lagi mengubah karya menjadi pertunjukan di mana pemirsa terlibat. Caranya menggunakan humor dan ironi merupakan aspek yang penting dan disengaja dari praktiknya, memberinya kesempatan untuk mengeksplorasi hal sosial yang menyita kehidupan kita kini.

 

Tisna Sanjaya (IDN)

The works of Tisna Sanjaya have always been a re-evaluation of social, moral, religion, politics, ethics and esthetics problems. For him, art must always reflect the critical awareness and provide inspiration on actual matters surrounding the artist. Tisna is scheduled to conduct a residence program in Saudi Arabia for Biennale. The art project that he proposed has something to do with the ‘Samagaha’ and ‘Ngabungbang’ ritual that are still practiced by the muslim people in the village. The first ritual is held whenever there is a moon eclipse, while the second is held during a full moon. Tisna understood both of these two traditions as an effort to achieve balance in life. He often utilizes various idioms in the society, connecting facts with philosophical, textual and utopian ideas and put all of them into wild and even paradoxical associations, merely to provoke our awareness about uneven social matters.

Tisna Sanjaya was born in Bandung in 1958 as the third child of sixteen siblings. He studied Graphic Art in Institut Teknologi Bandung, took his masters degree at Hohschuele Fur Bildende Kunste Braunschweig, and received his doctorate at Institut Seni Indonesia, Yogyakarta in 2011. Tisna Sanjaya’s artworks are characterized by his Sundanese identity besides his graphic art printing techniques, especially etching. Tisna Sanjaya also uses other medium such as installation, performance art, theatre, poetries and etcetera. His art creation process can be considered as “ritualistic public performance” because he often creates his artwork in public, interactively and with ritual-like process. He is known to be critical towards socio-political issues, many of his works speaks of the injustice and oppression by the government towards the people around him, such as the Cigondewah and Babakan Siliwangi case in Bandung, and the Lapindo case in Sidoarjo, East Java.

Earlier in 2013, because of his concerns and efforts in environmental issues regarding Babakan Siliwangi (Baksil), Tisna Sanjaya was awarded the title of Abah Baksil (father of Baksil in Sundanese). When he’s not busy teaching in his campus or creating artworks, Tisna Sanjaya hosts a regular TV show in the local TV station, Kabayan Nyintreuk, mainly discussing about local social-cultural issues. Tisna Sanjaya, an avid soccer fan, lives and works in Bandung. For this exhibition, Tisna is going to present a performance using traditional amusement vehicle, combined with a Javanese syncretic ritual.

Dwi Oblo__MG_5672 (1)

Tisna Sanjaya (IDN)

Doa Kora-kora
2013

 

Karya-karya Tisna Sanjaya selalu merupakan pengujian kembali masalah-masalah sosial, moral, agama, politik, etika, dan estetika. Baginya karya seni selalu harus merefleksikan kesadaran kritis dan memberikan inspirasi tentang persoalan- persoalan aktual yang ada di sekitar seniman. Untuk Biennale ini, Tisna dijadwalkan untuk melakukan residensi di Arab Saudi. Proyek dan lokakarya yang dia ajukan berhubungan dengan ritual Samagaha dan Ngabungbang yang masih dipraktikkan oleh masyarakat Muslim di desanya. Ritual pertama dilakukan ketika terjadi gerhana bulan, sementara yang kedua dilakukan ketika bulan purnama. Tisna memahami kedua tradisi ini sebagai upaya untuk mencari keseimbangan dalam hidup. Dia memang kerap kali memanfaatkan berbagai idiom yang ada di masyarakat, menghubungkan fakta-fakta dengan gagasan filosofis, teks, utopia, dan menempatkan semua itu ke dalam asosiasi-asosiasi yang liar, bahkan paradoks, semata-mata untuk memprovokasi kesadaran kita tentang kenyataan-kenyatan sosial yang timpang.

Tisna Sanjaya lahir di Bandung tahun 1958 sebagai putra ketiga dari enam belas bersaudara. Ia belajar Seni Grafis di Institut Teknologi Bandung, menempuh pendidikan master di Hohschuele Fur Bildende Kunste Braunschweig, dan mengambil gelar doktor di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 2011. Karya-karyanya kental dengan identitas kesundaannya selain teknik-teknik seni grafis, terutama etsa. Tisna juga menggunakan media lain dalam berkarya misalnya instalasi, pertunjukan, teater, puisi, dan sebagainya. Prosesnya berkarya dapat dianggap sebagai pertunjukan ritual publik karena ia kerap menciptakan karyanya di depan umum secara interaktif dan dengan langkah- langkah seperti ritual. Terkenal kritis pada isu-isu sosial politik, karyanya menyuarakan ketidakadilan dan penindasan oleh birokrasi pemerintahan yang dialami masyarakat di sekelilingnya, misalnya pada kasus Cigondewah dan Babakan Siliwangi di Bandung, serta peristiwa Lapindo Sidoarjo di Jawa Timur.

Awal tahun 2013 karena perhatian dan upayanya mengangkat isu lingkungan berkaitan dengan Babakan Siliwangi, Tisna Sanjaya dianugerahi julukan Abah Baksil. Saat sedang tidak mengajar di almamaternya atau membuat karya, Tisna membawakan acara berkala pada saluran televisi setempat berjudul Kabayan Nyintreuk, membahas permasalahan sosial budaya setempat. Tisna yang sangat menggemari sepak bola kini tinggal dan bekerja di Bandung. Untuk pameran kali ini, Tisna akan menampilkan sebuah performans dengan wahana permainan tradisional rakyat yang digabung dengan ritual sinkretik Jawa.

Dwi Oblo__MG_5672 (1)

Tiong Ang (NLD)

My Name is Pencil (Potlood! Pensil! Potlot!)
2009 – 2013
3 channel video, HDV video, colour and black-and-
white, sound, wall drawing, vitrine with
erasers, pencil models, seats
Installation view at Biennale Jogja XII, 2013

 

Tiong Ang was born in Surabaya, Indonesia in 1961. He studied at the Rietveld Academy and Rijksakademie of Fine Arts, both in Amsterdam where he now live and work. Using media specific to his topic – whether (veiled) painting, films, video installation, social environments or curatorial projects – Ang poses general and specific questions about how we negotiate our ethically and culturally hybridized world. In a process of ‘playing’ and ‘role-playing’ Tiong Ang uses and recycles images and events in order to open up the practice of the solitary artist, thus exploring themes of identity, community and dislocation. His work has been included in exhibitions all around the world. He participated in Manifesta 8, Murcia 2010, the 2004 and 2008 Shanghai Biennale, the 2001 Venice Biennale, the 1995 Istanbul Biennale and the 1994 Havana Biennale.

His work, “Mijn Naam is Potlood” (“My Name is Pencil”, 2009) returns to Indonesia with a new delivery and context on the theme of homecoming. Tiong Ang combines documentary observation with manipulated imagery to blur the line between fact and fiction. This combination of fact and fiction is an attempt to describe how the mass media filters and distorts reality. He questions how we have become so dependent on this complex technology. “Information flows in invisible ways and seeps into our thinking, taking control over our decisions, with no regard for our youth, our memories,’ he says. Nonetheless, his work continually re-examines the question of how we might stay vigilant to keep our minds open.

Tiong Ang (NLD)

My Name is Pencil (Potlood! Pensil! Potlot!)
2009 – 2013
3 channel video, HDV video, colour and black-and-
white, sound, wall drawing, vitrine with
erasers, pencil models, seats
Installation view at Biennale Jogja, 2013

 

Tiong Ang lahir di Surabaya, Indonesia, tahun 1961. Ia belajar di Rietveld Academy dan Rijksakademie of Fine Art, keduanya terletak di Amsterdam, tempat di mana ia kini tinggal dan bekerja. Menggunakan medium yang sesuai dengan topik yang diangkatnya—baik lukisan, film, video, instalasi, lingkungan sosial, atau proyek kuratorial—Ang memiliki pertanyaan yang umum sekaligus spesifik tentang bagaimana kita bernegosiasi dalam dunia hibrida ini, baik secara budaya maupun etika. Dalam proses ‘bermain-main’ dan ‘bersandiwara’, Tiong Ang menggunakan dan mendaur ulang gambar dan peristiwa untuk membuka kedok atas praktik para seniman penyendiri, mengeksplorasi tema identitas, komunitas, dan dislokasi. Karyanya telah banyak ditampilkan dalam berbagai pameran di dunia. Ia juga mengikuti Manifesta 8, Murcia 2010, dan Shanghai Biennale pada tahun 2004 dan 2008, Venice Biennale 2001, Istanbul Biennale 1995, dan Havana Biennale 1994.

Karyanya “Mijn Naam is Potlood” (“My Name is Pencil”, 2009) dibawa kembali ke Indonesia dalam konteks dan cara penyampaian baru tentang tema kepulangan. Tiong Ang menggabungkan antara pengamatan dokumentatif dengan penggambaran manipulatif untuk menghasilkan garis yang kabur antara fiksi dan fakta. Penggabungan antara yang fiksi dan yang nyata ini merupakan upayanya untuk menggambarkan bagaimana media massa menyaring dan mendistorsi kenyataan. Ia mempertanyakan bagaimana kita bisa menjadi begitu bergantung pada teknologi yang kompleks. “Informasi mengalir dalam bentuk yang tidak terlihat dan telah menyusup ke dalam pikiran kita, mengambil alih kendali atas keputusan kita, tanpa menghargai masa muda dan kenangan-kenangan yang ada,” katanya. Walaupun demikian, karyanya secara terus menerus mempertanyakan bagaimana cara kita menjaga pikiran tetap terbuka.

Tintin Wulia (IDN)

Babel
2013
16-channel synchronised sound installation
Duration 15 min, at the hour

Tintin Wulia is an artist and film maker. She was born in Denpasar, 1972. Aside of being trained on architecture at Parahyangan Catholic University of Bandung, she also studied music at the Berkley College of Music, USA. Tintin currently receive a PhD on art from the RMIT University of Australia. Tintin Wulia had made an exhibition in Sharjah Biennial, Istanbul Biennial, Yokohama Triennial, Jakarta Biennale, Institute of Contemporary Art London, Liverpool Biennial, Clermont-Ferrand Short Film Festival and the International Film Festival in Rotterdam. Several of her works has become the collection of Stedelicjk Van Abbemuseum of the Netherlands, Singapore Art Museum, and the Queensland Art Gallery / Gallery of Modern Art in Australia. `

Tintin’s project for Biennale Jogja XII was generated from her one month residence program in Sharjah, United Arab Emirates. Verging on sound poetry, ‘Babel’ explores languages and their social perception as a kind of boundary, while peering into the hidden network of global nomadism across the borders which channels thousands of lives. Its starting point is the Egyptian poet Hisham El Gakh’s controversial poem, Al Taashira (The Visa, 2011) recited at the finals of Prince of Poets on Abu Dhabi TV, that criticises the Arab leaders for their sellouts that disunite the Arab states. By way of this poem, Babel creates spaces in which the voices of the modern-day Arabic nomads, the landless/stateless Arabs, are pronounced through other poems including Jawaz Al Safar (Passport, 1971) by the renowned Palestinian poet Mahmoud Darwish (1941-2008), Min Mu’adalat Al Hurreyya (From the Formulas of Freedom, 1986) by the revered Syrian poet Nizar Qabbani (1923-1998), and several short poems by a stateless Sharjah-born poetess of Palestinian origin, Hamsa Yunus. Together with translations and readings by the esteemed Indonesian poet Landung Simatupang and emerging poetess Khairani Barokka, the poems are built into a rich composition of calls and responses that interweaves sentiments, sounds and meanings through different languages. Like these modern- day nomads, a reality of globalisation that forms a strong – but often unacknowledged – undercurrent, the composition is regularly heard but is never seen.

Featuring works by poets: Hisham El Gakh, Nizar Qabbani, Mahmoud Darwish, Hamsa Yunus, Landung Simatupang, Khairani Barokka | Research assistants and translators: Uns Kattan, Nada Al Jasmi | Additional research: Aya El Gergawy, Hanan Arab, Abdullah Mohammed Alomari| Voice talents: Hamsa Yunus, Landung Simatupang, Khairani Barokka, Sataan Al Hassan, Uns Kattan, Nada Al Jasmi, Lana Samman, Hanan Arab, Abdullah Mohammed Alomari, Khairiah Al Kassab, Haia Haj Morad| With thanks for the recordings: Clément Vincent, Abdullah Mohammed Alomari (American University of Sharjah), Marzuki Mohamad (Jogja Hiphop Foundation), Griya Musik Irama Indah Bilad Al Orbi Awtani performed by Hani Mitwasi at Bands Across Borders concert, Amman, Jordan, 2013 The poems, song and music are copyright their respective authors and/or performers Commissioned by the Jogja Biennale Foundation in collaboration with the Sharjah Art Foundation

Tintin Wulia (IDN)

Babel
2013
16-channel synchronised sound installation
Duration 15 min, at the hour

 

Tintin Wulia adalah seniman yang lahir di Denpasar tahun 1972. Selain belajar arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, ia juga belajar mengenai musik di Berklee College of Music, Amerika Serikat. Saat ini Tintin merupakan kandidat doktor di bidang seni dari Universitas RMIT di Australia. Ia pernah berpameran di Sharjah Biennial, Istanbul Biennial, Yokohama Triennial, Jakarta Biennale, Institute of Contemporary Art London, Liverpool Biennial, Clermont-Ferrand Short Film Festival, dan International Film Festival Rotterdam. Beberapa karyanya menjadi koleksi Stedelijk Van Abbemuseum Belanda, Singapore Art Museum, dan Queensland Art Gallery/Gallery of Modern Art Australia. `

Proyek Tintin untuk Biennale Jogja XII dihasilkan dari residensinya selama satu bulan di Sharjah, Uni Emirat Arab. Pada ambang antara puisi dan bunyi, ‘ Babel ‘ mengeksplorasi bahasa dan persepsi sosial sebagai semacam batas, seraya mengintip ke dalam jaringan tersembunyi nomadisme global yang melintasi perbatasan saluran yang menyalurkan kehidupan manusia. Titik awalnya adalah puisi kontroversial penyair Mesir Hisham El Gakh, Al Taashira (Visa, 2011) yang dibacakan pada final Prince of Poets di Abu Dhabi TV, yang mengkritik para pemimpin Arab untuk kampanye mereka yang memecah belah negara-negara Arab . Dengan cara puitik ini, Babel menciptakan ruang di mana suara-suara zaman modern nomaden Arab, orang Arab tak bertanah-air (stateless), yang diucapkan melalui puisi lain, termasuk ‘Jawaz Al Safar’ (Paspor, 1971) oleh ternama Palestina Mahmoud Darwish penyair ( 1941 -2008 ), ‘Min Mu’adalat Al Hurreyya’ (Dari Rumus Kebebasan, 1986) oleh penyair Suriah yang dihormati Nizar Qabbani (1923-1998), dan beberapa puisi pendek oleh pujangga Sharjah asal Palestina, yang tak berkebangsaan, Hamsa Yunus. Bersama dengan terjemahan dan pembacaan oleh terhormat Indonesia penyair Landung Simatupang dan penyair muda Khairani Barokka, puisi yang dibangun ke dalam komposisi yang sarat dengan panggilan dan tanggapan yang menjalin sentimen, suara dan makna melalui bahasa yang berbeda-beda. Menyerupai nomaden modern, realitas globalisasi yang telah secara kuat membentuk — tetapi sering tidak terlihat sebagai — kekuatan terpendam, komposisi ini secara teratur terdengar, tetapi tidak pernah terlihat .

Take to The Sea (EGY/ ITA/ IND)

The Eastern Telegraph Co. System and its
general connections. Map of submarine
telegraph cable routes, showing the global
reach of telecommunications at the beginning
of the 20th century

 

Take to the Sea was founded by  Nida Ghouse, Lina Attalah and Laura Cugusi. Nida Ghouse is an artist who was born in Bombay and has lived in Cairo; Lina Attalah is a print journalist and audio producer based in Cairo who works in the field of media, culture and technology; and Laura Cugusi is a researcher living between Cairo and Sardinia, working as a freelance photographer and journalist as well as in the field of cultural management and artistic production.

In its beginnings, Take To The Sea sought to explore the phenomenon of ‘irregular’ migration; an ambiguous term that generally refers to the cross-border movement of people through unlawful means with a particular interest in those who choose to migrate via a dangerous seaborne route, made possible by smugglers and under-equipped boats. In 2009, Take To The Sea presented a lectureperformance at the Manifesta Coffee Breaks in Murcia, which took the form of a series letters, some pre-recorded and some readout, some actual and some fictional. Unwilling to resort to mere documentation, unsatisfied by the overuse of academic and artistic forms of cultural production, yet still driven by the desire to disseminate information, Take To The Sea strives to push the boundaries of form and explore alternative ways in which to exhibit their engagement with the concepts they come into contact with.

Take to The Sea (EGY/ ITA/ IND)

The Eastern Telegraph Co. System and its
general connections. Map of submarine
telegraph cable routes, showing the global
reach of telecommunications at the beginning
of the 20th century

 

Take to the Sea didirikan oleh Nida Ghouse, Lina Attalah, dan Laura Cugusi.  Nida Ghouse adalah seorang seniman yang lahir di Bombay dan tinggal di Kairo; Lina Attalah adalah seorang jurnalis media cetak dan produser audio yang berbasis di Kairo, bekerja di bidang media, budaya, dan teknologi; sementara Laura Cugusi adalah seorang periset yang tinggal di antara Kairo dan Sardinia, dan bekerja secara bergantian sebagai fotografer dan jurnalis paruh waktu, sekaligus di bidang manajemen budaya dan produksi artistik.

Pada awalnya, Take to the Sea berusaha mengeksplorasi fenomena ‘migrasi tidak biasa’— sebuah istilah ambigu yang biasanya mengacu pada pergerakan lintas batas melalui cara yang melanggar hukum—khususnya mereka yang memilih untuk bermigrasi melalui laut yang berbahaya, melalui jasa para penyelundup yang menggunakan kapal-kapal dengan perlengkapan tidak standar. Pada tahun 2009, Take to the Sea mempresentasikan performans kuliah di Manifesta Coffee Breaks di Murcia. Perfomans itu berupa pembacaan dan pemutaran ulang rekaman atas surat-surat berseri, berisi peristiwa rekaan dan beberapa peristiwa nyata.

Take to the Sea berusaha mendorong batasan bentuk dan mengeksplorasi cara alternatif yang menunjukkan hubungan mereka dengan konsep yang dipilih. Mereka berusaha untuk tidak sekadar mengacu pada dokumentasi, dan menyatakan ketidaksetujuan pada penggunaan berlebihan bentuk-bentuk akademik dan artistik dari produksi kebudayaan, sembari tetap memiliki dorongan untuk menyebarkan informasi.

Syagini Ratna Wulan (IDN)

100 Moving Numbers
2013
100 pcs of steel lockers
40 x 40 x 64 cm each

 

Syagini Ratna Wulan was born in 1979. She finished studying Printmaking at the Fine Art Department of Bandung Institute of Technology in 1997. In 2005, she attained a MA in Cultural Studies from Goldsmith College, University of London. Her works has been known for her non-linear visual idioms. She often plays with issues of fantasies and human unconsciousness that feels idiosyncratic and sometime absurd. This playful side approach is often used to make commentaries on superficial middle-class behavior. Using items that she encounters in her daily life, she creates artworks that feel somehow feminine and are often characterized by criticism of contemporary culture. In her previous solo project, ‘BiblioTea’ (2011) for ArtHK, Hong Kong; she invite the audience to join in and let them enter the fake bookshop/ tea-house where she displayed fictitious art books and flavored teas. In this project, she lead the audience to believe that the content of the art books has been infused into the teas so that one can gain knowledge by drinking the tea. This work portrayed both the Asian scholarly tradition of tea and its relationship to philosophical and aesthetic contemplation while at the same time offerning a critical view on consumerist culture where people expect instant gratification with minimal effort. In 2011, she was granted with a residency at Art Intiative Tokyo. Her works are held in public collections in Singapore Art Museum and Indonesian Exchange.

For this exhibition, Syagini presents ‘100Moving Numbers’ (2013). In this works she invites the audiences are invited to join in to play, let numbered postcards and lockers lead their way, and create their own version of narration. The 100 all-white lockers display different objects and installations that suggest a juxtapostion between numbers and existentialist terms. Syagini plays with various associations of words, numbers and objects, and invite the audience to perform from one exhibition venue to another.

Syagini Ratna Wulan (IDN)

100 Moving Numbers
2013
100 pcs of steel lockers
40 x 40 x 64 cm each

 

Syagini Ratna Wulan lahir tahun 1979. Tahun 1997, ia menyelesaikan pendidikan Seni Grafis Fakultas Seni Murni ITB. Delapan tahun kemudian, pada 2005, ia mendapat gelar Master di bidang Studi Budaya dari Goldsmith College, University of London. Karyanya banyak dikenal karena idiom-idiom visual yang tidak linear. Ia kerap bermain-main dengan isu fantasi dan ketidaksadaran manusia yang kadang terasa ganjil, kadang absurd. Sisi dirinya yang suka bermain-main ini sering kali merupakan komentar atas sikap-sikap palsu kelas menengah. Dalam berkarya, ia kerap menggunakan benda sehari-hari. Hasilnya tak jarang terlihat feminin, di samping memiliki karakter kritis atas budaya kontemporer. Dalam proyek tunggalnya sebelumnya, “BiblioTea” (2011) di ArtHK, Hong Kong, ia mengundang pemirsa untuk turut serta masuk ke dalam toko buku dan kedai teh palsu, di mana ia menampilkan buku seni fiktif dan teh aneka rasa. Dalam proyek ini, ia mengajak penonton untuk memercayai kebenaran bahwa isi buku seni yang telah disarikan dalam teh dapat membuat peminumnya mendapatkan pengetahuan tentang isinya. Karya ini menggambarkan tradisi para budayawan Asia yang menghubungkan teh dengan filosofi dan kontemplasi keindahan, sementara di saat bersamaan menampilkan cara pandang kritisnya atas budaya konsumerisme, di mana orang kerap menginginkan pengakuan yang instan dengan usaha minimal. Pada tahun 2011, ia mendapatkan peluang residensi di Art Initiative Tokyo. Beberapa karyanya menjadi koleksi publik di Singapore Art Museum dan Indonesian Exchange.

Untuk Biennale Jogja XII, Syagini menampilkan “100 Moving Numbers” (2013). Dalam karya ini ia mengundang para pemirsa untuk turut serta bermain-main, membiarkan kartu-kartu pos bernomor dan 100 loker membimbing jalan mereka, untuk menciptakan narasi sendiri. Seratus buah loker berwarna putih berisi berbagai objek seni berbeda serta instalasi yang menggambarkan jukstaposisi antara angka dengan istilah-istilah dalam eksistensialisme. Syagini bermain-main dengan berbagai asosiasi kata-kata, angka-angka dan benda-benda dan membiarkan penontonnya melakukan performans dari satu lokasi pameran ke lokasi lainnya.

Samuel Indratma (IDN)

Pocung
Banana trees, coal, installation view
Biennale Jogja, 2013

 

Samuel Indratma was born in Gombong, Central Java, Indonesia in 1970. He graduated from Graphic Art in Indonesian Institute of Art, Yogyakarta, in 1996. He is a community based visual artist and also a muralist. He is one of thea prominent members of an artist’s activist group, Apotik Komik, operating between 1997 and 2005, creating public art in Yogyakarta, Indonesia. The group used the public art as a tool of social communication. Samuel also co-founded the Jogjakarta Mural Forum, which established in 2005. He held several solo exhibitions in Indonesia since 1997 to 2012, in Singapore Esplanade (2004), and Australia (2007). In 2003, he received a residency grant in Clarion Alley Mural and in ArtPlay Melbourne and Tasmania from Asia Link and Kelola in 2007. Since 1997 until today, he regularly carry out several prominent group exhibitions, Biennale, and art projects all around the world.

Samuel’s artwork for this Biennale utilizes found objects, mostly construction left over and parts of old Javanese houses that he assemble into a ‘gathering space’. The idea to assemble objects of various sources had something to do with his desire to present a huge collage about diversity. The spaces that he assembled in the exhibition place will function as a space for people to meet, talk, play and other spontaneous activities. Samuel was not only inspired by the public spaces and activities that were organically constructed in the villages, but also by the new spaces created by the social media and virtual communities which aspires the creation of an egalitarian culture.

Samuel Indratma (IDN)

Pocung
Banana trees, coal, installation view
Biennale Jogja, 2013

 

Samuel Indratma lahir di Gombong, Jawa Tengah, Indonesia pada 1970. Ia lulus dari Seni Grafis Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1996. Samuel merupakan seniman visual berbasis komunitas dan juga seorang muralis. Dia merupakan salah satu anggota penting dari kelompok seniman aktivis Apotik Komik, yang bekerja aktif 1997 hingga 2005, menciptakan seni publik di Yogyakarta. Kelompok ini menggunakan seni publik sebagai perangkat komunikasi sosial. Samuel juga merupakan salah satu pendiri Jogja Mural Forum yang berdiri tahun 2005. Ia telah mengadakan berbagai pameran tunggal di Indonesia sejak 1997 hingga 2012, di Singapore Esplanade (2004), dan Australia (2007). Pada tahun 2003, dia menerima hibah residensi di Clarion Alley Mural serta di ArtPlay Melbourne dan Tasmania dari AsiaLink dan Kelola pada tahun 2007. Sejak 1997 hingga sekarang, dia secara rutin mengikuti sejumlah pameran kelompok yang menonjol, biennale, dan proyek seni di seluruh dunia.

Karya Samuel untuk Biennale ini memanfaatkan benda-benda temuan, kebanyakan sisa-sisa konstruksi dan bagian dari rumah-rumah tua di Jawa, yang ia rakit mejadi sebuah ‘ruang bersama.’ Gagasan untuk menggabungkan benda- benda dari berbagai sumber itu berhubungan dengan keinginannya menghadirkan kolase besar tentang keragaman. Ruang-ruang yang ia bangun di ruang pamer akan berfungsi sebagai tempat untuk orang-orang bertemu, mengobrol, bercengkerama, dan melakukan kegiatan-kegiatan secara spontan. Samuel tidak hanya terinspirasi oleh ruang-ruang dan kegiatan publik yang terbentuk secara organik di pedesaan, tetapi juga oleh ruang-ruang baru yang tercipta oleh media sosial dan komunitas virtual yang mencita-citakan terbentuknya kebudayaan yang egaliter.

Salwa Aleryani (YEM)

Sewer Cover
2011
Soil and carpet
55 x 55 x 2.2 cm (soil)
approx. 400 x 350 x 0.5 cm (carpet)

 

Salwa Aleryani was born in 1982. She lives and works in Sana’a, the capital of her native Yemen. Following a BA in Graphic Design from the University of Petra in 2006, she was awarded a Fulbright scholarship and later received her MFA from Savannah College of Art and Design in the US. Aleryani’s recent work explores the intersection of the personal and the public and how the construction and use of public space contributes to the manufacturing of our public self. In 2012, she was artist in residence at the Dar Al-Ma’mûn Foundation in Marrakech, where she created “the workSleeper”

In her work, “Sewer Cover”, a manhole cover is loosely cast in soil and embedded in carpet. As we witness it crumble, it reveals a sequence of thoughts—one being the fact that the very material it is made out of is that from which it sets out to protect us. It is light in weight, but its immobility carries a burden similar to that of a heavy iron cast. Frankly, it suggests that it is no longer reliable, and that at the slightest breeze, it could blow away. Turned upside down, there is a sense of unease that it may spill out of its boundary and recede into the carpet. Although, in every respect, dirt is not alien to carpet, still it intrudes on it. It does so in a way that seems familiar, as it would on a person that neglects to attend to cleaning his household over an extended period of time.

“When the Dust Settles”, follows the traces of road developments, construction, destruction and collapse. Recently witnessing men at work sifting through gravel has often evoked the image of Aleryani’s grandmother conscientously sifting through flour in her kitchen. From the ingredients of dough, Aleryani attempts to knead a mix ashpalt and flour in attempt to unite the two. What remains is the detritus, an impression of the stubborn dough cut into shapes, mapping recent roads that have fell apart and are currently under repair.

Salwa Aleryani (YEM)

Sewer Cover
2011
Soil and carpet
55 x 55 x 2.2 cm (soil)
approx. 400 x 350 x 0.5 cm (carpet)

 

Salwa Aleryani lahir tahun 1982. Saat ini, ia tinggal dan bekerja di Sana’a, ibu kota Yaman, tempat lahirnya. Setelah meraih gelar BA Desain Grafis dari Universitas Petra di tahun 2006, ia mendapat beasiswa Fulbright dan menyelesaikan program pascasarjana di Savannah College of Art and Design, Amerika, yang memberinya gelar MFA. Karya-karyanya yang terkini mengeksplorasi persimpangan antara hal yang pribadi dengan yang publik, serta bagaimana konstruksi area publik dan penggunaannya berkontribusi terhadap fabrikasi kesadaran publik kita. Pada tahun 2012, ia menjadi seniman residensi Dar Al-Ma’mun Foundation di Marrakech, di mana ia membuat karya bertajuk “the workSleeper”.

Untuk Biennale Jogja XII ini, Aleryani akan mempresentasikan “Sewer Cover”, sebuah penutup got dari tanah liat yang dipasang di tengah-tengah hamparan karpet. Karya ini bercerita tentang bagaimana rapuhnya harapanharapan dan rasa aman manusia. Kerapuhan itu tecermin pada sebuah tutup got dari tanah liat, yang ringan dan rapuh namun memiliki karakter ‘sulit dipindahkan’ sebagaimana penutup got dari besi yang berat, dan perasaan aneh yang ditimbulkan ketika kita memiliki harapan akan perlindungan dan keamanan pada sebuah penutup got yang tak bisa diandalkan.

Karya Aleryani yang lain, “When the Dust Settles”, mengikuti jejak pembangunan jalan yang meliputi konstruksi, perataan, dan keruntuhannya. Aleryani melihat seorang pria sedang menyaring kerikil, mengingatkannya pada neneknya yang dengan sepenuh hati mengayak tepung di dapurnya. Dalam upayanya memahami arti “kontaminasi”, Aleryani berusaha mencampur aspal dan tepung sembari berjuang untuk menyatukan keduanya. Yang tersisa adalah sebuah adonan keras yang terpotong-potong dalam bentuk tertentu; sebuah impresi atas jalanan yang rusak dan sedang diperbaiki.

Reza Afisina a.k.a. Asung (IDN)

Guerrilla Organic
2013
Installation comprising
video, mirrors and performance
Variable dimension

 

Reza Afisina, better known as Asung, was born in Bandung. He relocated to Jakarta to study Cinematography, majoring in Sound and Documentary at Jakarta Institute of the Arts, but did not complete. As a child he had to struggle with pain caused by allergies. He learned to control and focus on his personal pain and ever since has been able to transform pain into anything. He often explores the theme of pain in his blog, photographs, performance arts and installations. Asung is fully aware of the issues of contemporary art expressions and its relevance to the community daily lives. Thus his performance works, whether recorded in video as a part of an installation or performed live in public spaces, often aim to create spontaneous reactions from the audience; the most basic empathies like pity, fear, upset, disgust, excitement or sadness. Asung uses these empathies as an effective entrance in creating a discussion for bigger and deeper social issues.

For the work titled What, Asung slaps his own face as he recites passages from the Bible, repeatedly and continuously. In Easy Time with Parenthood (2012), Asung has himself tattoed with prose from a book by Julio Cortazar, while a live feed of the close-up tattooing process is projected to a nearby wall for an enhanced viewing experience.

Active in the artists-initiative-space ruangrupa in Jakarta, Asung is also known as an amateur DJ in local parties and art events.

Reza Afisina a.k.a. Asung1

OpeningBJ_16iyong_MG_3725