Monthly Archives: December 2013

Festival Budaya Bergerak Biennale Jogja XII

Festival Budaya Bergerak bekerjasama dengan rangkaian Festival Equator #2 Biennale Jogja XII yang dipersembahkan untuk warga Yogyakarta, di Plaza Pasar Ngasem, Taman Sari, salah satu situs warisan budaya yang terletak di pusat kota.

Festival ini dikemas dalam satu acara sehari untuk keluarga, anak-anak dan kalangan muda Jogja.  Acara ini mencakup hiburan, bazaar, kuliner dan seni tradisi dan pentas musik, diisi oleh sejumlah komunitas dan performer yang sudah tak asing lagi bagi masyarakat Yogyakarta.  Tema dari Festival Budaya Bergerak adalah pasar malam tradisional yang secara artistik juga mengambil inspirasi dari kisah Wayang Menak yang menjadi ikon acara ini.

Acara keluarga: Family Day: Lomba menggambar layang-layang, Unjuk bakat, Hiburan anak-anak, Sulap oleh Kadir.

Bazaar dan Kuliner menampilkan antara lain: Klinik Kopi, Komunitas Pasar Kutu, dan komunitas Jajanan Pasar Ngasem.

Pengisi Acara antara lain: Tari Tradisi Golek Menak. Hadrah,  Dongeng Ludruk Cak Tohir, Doni dan Orkes Keroncong Binaria, Jasmine Akustik, WVLV, Blues Gambus oleh Ki Slamet Gundono dan Dharma Band.

Kami mengundang anda bersama teman-teman dan keluarga untuk ikut serta dalam acara ini, sampai jumpa di Plaza Pasar Ngasem, Minggu, 22 Desember 2013!

09.00 – 11.00

Lomba lukis anak-anak, Unjuk Bakat Anak-Anak, Sulap Panggung

11.00 – 11.45

Dongeng Cak Tohir

11.45 – 12.15

BREAK DZUHUR

12.15 – 12.40

Pengumuman Pemenang Lomba Lukis

12.40 – 14.45

Break. Kadir’s time

14.45 – 15.45

BREAK ASHAR

15.45 – 16.30

Doni & The OKB

16.30 – 17.15

Jasmine Akustik

17.15 – 17.50

Salawatan

17.50 – 19.00

BREAK MAGHRIB

19.00 – 19.30

Tari Golek Menak

19.30 – 20.15

Slamet Gundono

20.15 – 21.00

WVLV

21.00 – 21.45

Dharma Band

 

 

 

Festival Komik Fotokopi

poster 3 FIX_UK

Dagingtumbuh Komik bekerjasama dengan Biennale Jogja XII, sebagai bagian dari Festival Equator mengadakan acara FESTIVAL KOMIK FOTOKOPI pada tanggal 16 – 22 Desember 2013 di Taman Budaya Yogyakarta.

Era tahun ’90-an Indonesia sangat marak dengan banyaknya pergerakan alternatif komik oleh para komikus indie. Core Comic adalah dedengkot pergerakan komik alternatif di Yogyakarta. Core Comic mengundang rekan-rekan seniman untuk berkarya komik alternatif dan diikutkan dalam kompilasi Core Comic, lalu menerbitkannya dan mendistribusikan secara indie. Gerakan mereka sangat inspiratif sehingga kemudian muncullah beberapa nama komunitas yang berbasis komik: MKI (Masyarakat Komik Indonesia), Apotik Komik, Dagingtumbuh, dan masih banyak lainnya.

Proses produksi komik di komunitas ini sangat unik karena cukup menggunakan jasa fotokopi untuk memproduksi dan mengemas komik. Setelah komik selesai dari jasa fotokopi maka komik siap diedarkan dari tangan ke tangan, begitu seterusnya. Kadang banyak pula dijual pada acara-acara kesenian lainnya. Sungguh sangat menyenangkan.

Tetapi seiring bergulirnya zaman dan berkembangnya teknologi maka komik fotokopi ini semakin langka peredarannya, dikarenakan banyak komikus yang secara lebih cepat membagikan komiknya di media sosial atau online. Hal ini dilakukan agar lebih bisa menjaring publik yang lebih luas. Sangat banyak sisi positif dan menguntungkan. Perlahan tapi pasti,  “roh” dan semangat komik underground menjadi pudar. Bahkan tidak jarang media berkomik online digunakan sebagai “batu loncatan” untuk menuju industri komik mainstream yang lebih besar dan mapan.

Oleh karena itu, Festival Komik Fotokopi ini merupakan sebuah perayaan mengembalikan makna dan atmosfer berkarya komik indie. Baik secara konten komik maupun pengemasan hingga cara distribusi. Festival ini diselenggarakan untuk menjaring, mengumpulkan, dan menyemangati kembali komik-komik fotokopi yang saat ini jarang beredar dari tangan ke tangan. Serta sebagai ajang untuk berkumpul, bertemu, berbagai info diantara para komikus, serta mempertemukan komikus dengan penikmatnya.

Acara ini juga dikemas menarik dengan menghadirkan workshop komik fotokopi, diskusi komik, launching komik fotokopi, barter komik, merchandise komik dan masih banyak keasyikan lainnya. Festival Komik Fotokopi juga mengundang secara terbuka semua komik-komik fotokopi yang ada dimanapun untuk mengikutkan karyanya dalam acara ini karena selain 15 komikus dan komunitas komik yang diundang, juga disediakan area terbuka bagi siapa saja untuk ikut memamerkan komik fotokopinya.

Menampilkan:

Abi Rama, Masdimboy, NIIBII , Underdog, Yellowteeth Comic, Dagingtumbuh, Robotgoblok, Babakbelur, Mulyakarya Yogyakarta, Komisi Solo, Supergunz, Forum Komik Jogja, The Konyol, Kharisma Jati, X-Go

Komik-komik peserta lomba komik fotokopi The Semelah

Rangkaian acara:

Senin, 16 Desember 2013
18.30 Pembukaan Festival Komik Fotocopy. Music oleh Disco Lombok Horor

Selasa, 17 Desember 2013
17.00 – 18.30 Sablonase dari Krack!
18.30 – 21.00 Barter komik dan silaturahmi komikus
18.30 – 19.30 ‘Curhat dan Launching komik kompilasi #5: Pancasila’ oleh Komisi Solo
19.45 – 20.45 Diskusi “Online Marketing dalam Mengembangkan Komik Lokal” oleh Forum Komik Jogja

Rabu, 18 Desember 2013
17.00 – 18.30 Sablonase dari Krack! Studio
18.30 – 21.00 Barter komik dan silaturahmi komikus
18.30 – 19.30 Workshop Komik Fotocopy oleh Robotgoblok & komik Babakbelur
19.45 – 20.45 Comic talk oleh Mulyakarya

Kamis, 19 Desember 2013
17.00 – 18.30 Sablonase dari Krack! Studio
18.30 – 21.00 Barter komik dan silaturahmi komikus
18.30 – 19.30 Gambar bersama tekhnik suka-suka by X-Go Surabaya|
19.45 – 20.45 Comic talk ‘Content Warning’ by K. Jati

Jumat, 20 Desember 2013
17.00 – 18.30 Sablonase dari Krack! Studio
18.30 – 21.00 Barter komik dan silaturahmi komikus
18.30 – 19.30 Diskusi ‘Distribusi & Jaringan Komik Fotocopy” by Dagingtumbuh
19.45 – 20.45 Comic talk / Diskusi / Launching

Sabtu, 21 Desember 2013
17.00 – 18.30 Sablonase dari Krack! Studio
18.30 – 21.00 Barter komik dan silaturahmi komikus
18.30 – 20. 45 Seminar Komik. Narasumber: Beng Rahadian, Hikmat Darmawan, Eko Nugroho & Terra Bajraghosa, Moderator: Grace Samboh

Minggu, 22 Desember 2013
19.00 – 21.00 Dagingtumbuh Award featuring LELAGU
Pengumuman pemenang lomba komik The Semelah, serta Award dan penghargaan kepada peserta FKF: Pemenang koper terharu, Pemenang komik terharu, Pemenang komik terkemas, Pemenang komik paling berlendir (pilihan pengunjung), Pemenang koper paling berlendir (pilihan pengunjung).

poster 1-FIX_UK

Program Parallel Events BJXII: Kandang Jaran

Kandang Jaran Poster

HAJI BACKPACKER

Pameran Foto dan Artefak, Diskusi dan Dramatic Reading
17 – 20 Desember 2013, jam 15.00 – 21.00
Klinik Kopi Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma

Pembukaan: 16 Desember 2013, jam 19.00 – 22.00

Diinisiasi oleh KANDANG JARAN

Kandang Jaran merupakan kelompok yang beranggotakan mahasiswa, seniman, dan peneliti.

Dalam program Parallel Events BJXII, Kandang Jaran akan mengangkat proyek haji ilegal dan beberapa keunikannya. Tidak hanya ibadah haji ilegal yang menjadi nilai ganjil dari penyelenggaraan ibadah haji itu sendiri, tetapi banyak peristiwa unik mengiringi pelaksanaan ibadah haji. Berangkat dari sanalah, Kandang Jaran ingin mengulik keganjilan-keganjilan yang kerap dijumpai pada ibadah haji lebih dalam.

 

Download Kompilasi komik

Centroone.com

40 Perupa Arab Ramaikan Biennale Jogja XII

Download (Cetak | Online)

 

Hangat Ruang Pertunjukan Arabian

“Inilah yang dinamakan performance art, ada reaksi seketika dari penonton untuk bergabung di dalamnya.”

Lampu temaram yang menghiasi ruang persegi itu sekaligus menghangatkan malam yang diguyur hujan ringan. Situs Kandang Menjangan, Krapyak, Yogyakarta, yang disampul kain hitam menyerupai Kabbah, menjadi tempat bagi DEKA-EXI(S) dalam menyajikan gagasan kreatif dan mengobarkan semangat berkompetisi. DEKA-EXI(S) merupakan peserta Parallel Events Biennale Jogja XII Equator #2, beranggotakan perorangan dari berbagai disiplin ilmu dan profesi seni, yang dipertemukan kembali dalam sebuah forum ketika bersama-sama menempuh program pascasarjana seni di Yogyakarta.

Dengan sambutan dari ketua kelompok Musik Hadrah Sidoarum, Sleman, Abdul Hadi, disusul ketua DEKA-EXI(S), Triwahyudi, pameran penciptaan peristiwa seni yang berlangsung pada 17–30 November 2013 resmi dibuka. Kehadiran gambar, foto, instalasi, video, dan performance memunculkan dialog bisu yang mengusung tema “Arabian Pasar Kliwon.” Penelitian kebudayaan warga keturunan Arab Indonesia terbesar di Surakarta yang tinggal di perkampungan Pasar Kliwon ditampilkan kembali melalui seni rupa dan seni pertunjukkan.

Terpesona. Begitu ekspresi para pengunjung ketika menyaksikan performance yang dibawakan oleh Mila Rosinta Totoatmodjo dan dua pria dari komunitas seni PENJASKES, Yogyakarta, pada malam pembukaan itu. Keduanya berekspresi dalam lantunan musik rebana dari kelompok Musik Hadrah Sidoarum.

Masuk dengan memegang tiga buah hio yang lalu ditaruh di lantai, gerakan gemulai dan berirama seketika mengalir dari tubuh Mila, tatkala satu dari anggota PENJASKES masuk dalam khusyuk, juga dengan hio di tangannya. Gerakan energik dan gemulai dari Mila, dibalut mimik wajah serius dan tegas, kini kontras menemani pria tenang tapi hanyut dalam arus keterkejutan, takut, dan sesal. Enam menit kemudian, pria kedua masuk dengan lilitan kain putih menggunduk di kepala sambil memancarkan ekspresi kebingungan, kehilangan arah, dan seolah terasingkan.

Berganti medium, kini pria pertama tidak lagi memegang hio melainkan sebuah lilin. Lagi-lagi ia letakkan di lantai. Sambil berjalan dan sesekali berlari ia lewati lilin itu. Rasa bingung dan takut semakin terpancar dari raut wajah dan gerakannya. Lilin itu tampaknya membawa dampak luar biasa karena Mila tiba-tiba memancarkan kegelisahan. Kemudian, ia berlari-lari membawa mimik penyesalan. Sedangkan pria kedua masih nyaman dalam keterasingan, menghadap tembok dan merungkuk.

Menarik, ternyata Mila merespon salah satu materi pameran, yaitu janggut palsu. Ia kenakan pada pria pertama dan mereka berlarian. Mila kini mulai mengenakan janggut itu dan lagi-lagi ia kembali berlari. Mila kini memasang janggut pada pria kedua dan seperti memaksa. Hingga akhir pertunjukkan, harmonisasi terus lahir karena ketiganya hanyut terbalut suasana putih, abu-abu, dan hitam dalam lantunan irama dendang rebana yang menggebu-gebu.

“Adalah refleksi terhadap dunia hitam dan putih, dua ruang berseberangan ini kami jadikan sebagai respon dari sisi baik dan buruk kehidupan. Secara pribadi, performance ini saya niatkan sebagai bentuk penyucian diri dan rasa syukur kepada Tuhan. Awalnya kami tampil hanya berdua, tetapi pria kedua itu seketika masuk lantas ikut mengekspresikan dirinya dalam musik, ruang, dan suasana di sini. Inilah yang dinamakan performance art, ada reaksi seketika dari penonton untuk bergabung di dalamnya,” kata Mila.

 

Ditulis oleh Ferika Yustina Hatmoko (peserta Program Magang Penulisan Seni dan Kewartawanan Biennale Jogja XII)

Foto: Arief Sukardono/Dok. BJXII

Biennale Jogja XII – Jogja-NETPAC Asian Film Festival Collaboration Program

Seni rupa mempunyai kekuatan auratik yang mampu menyedot perhatian besar publik, lewat kekuatan audio-visualnya film secara strategis mampu menggerakkan massa. Akan tetapi, perkembangan seni rupa kontemporer tidak jarang menggunakan medium audio visual, tak ubahnya film, menjadikan seni rupa dan film saling beririsan di ruang “pasar” yang sama.

Biennale Jogja XII bekerjasama dengan Jogja NETPAC Asian Film Festival yang kali ini sedang menggelar helatan akbarnya, berusaha memperbincangkan tantangan seni di Indonesia dengan menilik kasus yang ada di dunia seni rupa dan film.

 

Sesi I:

Medium Film (Audio Visual) dalam Seni Kontemporer
Hari, tanggal: Jumat, 6 Desember 2013, pukul 10.00–12.00
Lokasi: Ruang Display, Taman Budaya Yogyakarta

Pembicara:
– Hafiz Rancajale (kurator/sutradara film dokumenter)
– Yosep Anggi Noen (pegiat film pendek)

Moderator : Farah Wardani (Direktur Artistik Biennale Jogja XII)

 

Sesi II:

Tantangan Pasar Seni di Indonesia: Menilik Kasus Seni Rupa dan Film
Hari, tanggal: Jumat, 6 Desember 2013, pukul 15.00–17.00
Lokasi: Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta

Pembicara:
– Amir Sidharta (Direktur Sidharta Auctioneer, Kurator/Direktur Museum UPH)
– Hanung Bramantyo (sutradara film)
– Hikmat Darmawan (kritikus film dan budaya populer)
– Garin Nugroho (sutradara film)

Moderator : Farah Wardani (Direktur Artistik Biennale Jogja XII)

 

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum, kuota terbatas bagi 50 pendaftar pertama. Pendaftaran melalui SMS/email: Hamada Adzani +6285743491867 / adzanimada@gmail.com

www.biennalejogja.org/2013 | www.jaff-filmfest.org

FB: BiennaleJogja
t: @BiennaleJogja