Daily Archives: December 5, 2013

Hangat Ruang Pertunjukan Arabian

“Inilah yang dinamakan performance art, ada reaksi seketika dari penonton untuk bergabung di dalamnya.”

Lampu temaram yang menghiasi ruang persegi itu sekaligus menghangatkan malam yang diguyur hujan ringan. Situs Kandang Menjangan, Krapyak, Yogyakarta, yang disampul kain hitam menyerupai Kabbah, menjadi tempat bagi DEKA-EXI(S) dalam menyajikan gagasan kreatif dan mengobarkan semangat berkompetisi. DEKA-EXI(S) merupakan peserta Parallel Events Biennale Jogja XII Equator #2, beranggotakan perorangan dari berbagai disiplin ilmu dan profesi seni, yang dipertemukan kembali dalam sebuah forum ketika bersama-sama menempuh program pascasarjana seni di Yogyakarta.

Dengan sambutan dari ketua kelompok Musik Hadrah Sidoarum, Sleman, Abdul Hadi, disusul ketua DEKA-EXI(S), Triwahyudi, pameran penciptaan peristiwa seni yang berlangsung pada 17–30 November 2013 resmi dibuka. Kehadiran gambar, foto, instalasi, video, dan performance memunculkan dialog bisu yang mengusung tema “Arabian Pasar Kliwon.” Penelitian kebudayaan warga keturunan Arab Indonesia terbesar di Surakarta yang tinggal di perkampungan Pasar Kliwon ditampilkan kembali melalui seni rupa dan seni pertunjukkan.

Terpesona. Begitu ekspresi para pengunjung ketika menyaksikan performance yang dibawakan oleh Mila Rosinta Totoatmodjo dan dua pria dari komunitas seni PENJASKES, Yogyakarta, pada malam pembukaan itu. Keduanya berekspresi dalam lantunan musik rebana dari kelompok Musik Hadrah Sidoarum.

Masuk dengan memegang tiga buah hio yang lalu ditaruh di lantai, gerakan gemulai dan berirama seketika mengalir dari tubuh Mila, tatkala satu dari anggota PENJASKES masuk dalam khusyuk, juga dengan hio di tangannya. Gerakan energik dan gemulai dari Mila, dibalut mimik wajah serius dan tegas, kini kontras menemani pria tenang tapi hanyut dalam arus keterkejutan, takut, dan sesal. Enam menit kemudian, pria kedua masuk dengan lilitan kain putih menggunduk di kepala sambil memancarkan ekspresi kebingungan, kehilangan arah, dan seolah terasingkan.

Berganti medium, kini pria pertama tidak lagi memegang hio melainkan sebuah lilin. Lagi-lagi ia letakkan di lantai. Sambil berjalan dan sesekali berlari ia lewati lilin itu. Rasa bingung dan takut semakin terpancar dari raut wajah dan gerakannya. Lilin itu tampaknya membawa dampak luar biasa karena Mila tiba-tiba memancarkan kegelisahan. Kemudian, ia berlari-lari membawa mimik penyesalan. Sedangkan pria kedua masih nyaman dalam keterasingan, menghadap tembok dan merungkuk.

Menarik, ternyata Mila merespon salah satu materi pameran, yaitu janggut palsu. Ia kenakan pada pria pertama dan mereka berlarian. Mila kini mulai mengenakan janggut itu dan lagi-lagi ia kembali berlari. Mila kini memasang janggut pada pria kedua dan seperti memaksa. Hingga akhir pertunjukkan, harmonisasi terus lahir karena ketiganya hanyut terbalut suasana putih, abu-abu, dan hitam dalam lantunan irama dendang rebana yang menggebu-gebu.

“Adalah refleksi terhadap dunia hitam dan putih, dua ruang berseberangan ini kami jadikan sebagai respon dari sisi baik dan buruk kehidupan. Secara pribadi, performance ini saya niatkan sebagai bentuk penyucian diri dan rasa syukur kepada Tuhan. Awalnya kami tampil hanya berdua, tetapi pria kedua itu seketika masuk lantas ikut mengekspresikan dirinya dalam musik, ruang, dan suasana di sini. Inilah yang dinamakan performance art, ada reaksi seketika dari penonton untuk bergabung di dalamnya,” kata Mila.

 

Ditulis oleh Ferika Yustina Hatmoko (peserta Program Magang Penulisan Seni dan Kewartawanan Biennale Jogja XII)

Foto: Arief Sukardono/Dok. BJXII