Monthly Archives: January 2014

Pengumuman Pemenang Pareallel Event BJ XII Equator #2

MEMBACA EQUATOR, MENDEFINISKAN MOBILITAS

Biennale Jogja XII: Equator 2 adalah lanjutan, namun bisa pula “kebaruan” sejarah perjumpaan dengan wilayah (kultural) Arab. Indonesian Encounters the Arab Region. Tema besar, narasi besar, dan juga memori historis yang panjang. Equator dalam sebuah kisah adalah narasi tentang garis geografis, namun juga bisa menjelma menjadi kisah tentang mobilitas kultural yang penuh pertarungan kuasa ataupun kontradiksi.Tak pelak, membaca narasi perjumpaan tak bisa dibatasi oleh peristiwa atau kategori waktu. Justru perjumpaan menampilkan ketak-terbatasan imajinasi. Demikianlah, pembacaan perjumpaan akan (kultur) Arab telah menerobos dinding-dinding waktu, menghablurkan kelampauan dan kekinian. Hal ini bisa ditengok dalam kasus-kasus yang merentang dari perjumpaan awal dengan Islam sampai ironi para TKI, perempuan yang hidup dalam batas-batas harapan dan penderitaan.

Proses pembacaan-pembacaan narasi inilah yang menyebabkan “Parallel events dari Biennale Equator XII” memperoleh hak-hak kesetaraan estetik dari “Main Exhibition”.  Seperti diuarkan oleh Boris Groys (2008), otonomi seni tidak mengandaikan suatu hierarki selera yang otonom—melain­kan penghapusan setiap hierarki semacam itu dan penciptaan rezim hak-hak estetik yang setara untuk segala karya seni. Medan seni seharusnya dilihat sebagai manifestasi yang ter­kodi­fikasi secara sosial dari kesetaraan funda­mental di antara semua bentuk, obyek, dan media visual. Hanya dengan mengandaikan kesetaraan fundamental dalam estetika dapatlah setiap penilaian, setiap penyingkiran atau perangkulan, berpotensi untuk diakui sebagai hasil resapan heteronom ke dalam ranah otonom seni.

Kekuatan Parallel Events, masih mengikuti Groys, dapatlah dijejak pada narasi perjumpaan seni di luar museum,  pembebasan dari kebaruan yang dipahami sebagai pembebasan dari sejarah seni, namun  justru terserak dalam narasi-narasi rakyat, yang hidup dalam tradisi, keseharian dan hadir di luar lingkaran tertutup dunia seni yang mapan, di luar dinding museum. Di sinilah kita menemukan keagungan teks-teks “Aksara Serang dan Bilang-Bilang”, Dunia keseharian “Arab Pasar Kliwon”, “Kisah Naik Haji”, “Kegamangan buruh perempuan migran”, sampai pertunjukan “Jathilan”.

Kisah-kisah yang terentang dari Makasar sampai Gunungkidul tersebut telah merepresentasikan perjumpaan-perjumpaan dengan budaya Arab. Di setiap perjumpaan-perjumpaan itu, samar maupun eksplisit, kita bisa menemukan “proses negosiasi” dan “konflik kuasa” yang demikian dinamis, serta menampilkan mobilitas kultural yang tak berujung. Inilah, kiranya, sumber penciptaan seni yang tiada henti.

Persoalannya, bagaimanakah realitas sebagai sumber penciptaan tersebut mampu diolah, dibongkar, disusun kembali menjadi sebuah karya seni yang menarik? Atau, jika diterjemahkan lewat aspek-aspek penilaian yang meliputi teknis (kebaruan dan kreativitas), substantif (kebaruan, kreativitas dan kesesuaian tema), managerial (bersangkut dengan keberlanjutan dan pengelolaan sumber daya), serta dimensi spasial (yang bersangkut dengan publik), manakah karya yang menampilkan karya seni menarik? Tidak mudah menilainya.

Meski demikian, toh, dewan yuri, mesti memutuskan “Pemenang Terbaik Perancangan Peristiwa Seni Rupa.” Melalui perdebatan yang alot, akhirnya kami memilih dua pemenang terbaik, yang kiranya mampu memenuhi dimensi-dimensi penilaian di atas, yaitu “Colliq Pujie” dan “Pereks”. Selanjutnya, karya-karya kelompok “Knyt Somnia”, “Kaneman Forum,” “ Habitus dan Ainun,” “Deka-Exi(s),” “Kelompok Belajar 345”, “Kandang Jaran” dan “Makcik Project” sebagai kelompok yang layak untuk hadir dalam Post event katalog Biennale Jogja XII Equator #2.

Akhirnya, terima kasih atas semua partisipasinya. Selamat melanjutkan kerja-kerja kreatif.

 

Salam Seni.

Dewan Juri:

  1. Bambang Kusumo
  2. FX. Woto Wibowo (Wok The Rock)
  3. Hanindawan
  4. Heru Prasetiya
  5. Mella Jaarsma

BJXII-Lifetime Achievement Art Award 2013

Selamat malam,

Pada tahun ini pemberian penghargaan seniman LAAA( Lifetime Achievement Art Award) memasuki putaran yang ke 5. Tradisi baru yang dilakukan dalam rangka Biennale Jogja sejak 2005

Setiap kali berkait dengan pemberian ini , Pengurus Yayasan BJ bergumul untuk menjawab 2 pertanyaan besar. Dan tentunya ini menjadi pertanyaan bagi publik juga. Yaitu siapa dan mengapa….

Mengapa pemberian anugerah ini penting? Seniman dalam perjalanan karirnya seringkali digambarkan sebagai ‘menapaki jalan sunyi’. Pergumulan2 yang rinci tidaklah sepenuhnya dapat diungkap.

Sekalipun demikian orang memberikan  pengakuan bahwa pada saat ini peran profetik banyak dilakukan oleh seniman. Terlebih dikala terjadi disorientasi dalam kehidupan sosial , manakala ada kabut tebal yang melingkupi perjalanan bangsa…seniman memberikan kesaksian yang dapat menjadi suluh perenungan.

Seni menjagai keterjagaan kemanusiaan kita.

Apresiasi yang diterima sudah pasti ada dan cukup beragam bentuk serta intensitasnya. Komunikasi timbal balik antara seniman dengan masyarakat merupakan komunikasi energi yang saling menghidupi, bagian dari ekosistem budaya, bahkan realitas yang lebih luas ekosistem kehidupan.

‘Good art gives energy’ begitu kata orang.

Peran serta pencapaian panjang inilah yang ingin diberi tanda. Dan diharapkan juga menjadi inspirasi bagi banyak orang,khususnya generasi yang lebih muda.

Ada nilai keteladanan seperti : keteguhan hati, persistent, passion, konsistensi….disamping kualitas artistik dan bobot wacana yang diperjuangkan.

Semangat dan nilai2 inilah yang ingin diberi tanda.

Ada seorang seniman yang malam ini mendapatkan penghargaan LAAA. Dia sudah sangat dikenal .

Tentu saya tidak akan memaparkan argument kelayakan atas pemilihan seniman tersebut dari aspek capaian beliau dalam aras estetik atau kualitas teknik.

Pilihan artistik dan pandangan hidup bisa saja dilihat secara berbeda, namun bagaimana keteguhan seseorang bertahan dan berjuang dalam memperjuangkan sesuatu yang dianggap penting merupakan nilai yang universal.

Gambaran sikap nilai yang beliau hidupi dalam rentang yang panjang  dapat disebutkan , cuplikan/quotation dari pakar( dari tulisan Agus Burhan) dalam katalog pameran beliau belum lama ini :

Dalam Seni lukis modern Indonesia hanya sedikit seniman yang bisa mempertahankan reputasi kreatifnya terus menerus dengan mengikuti berbagai perubahan spirit zaman yang terjadi. Dari perjalanan waktu ke waktu kreativitas akan aus jika seniman kemudian terjebak pada perspektifnya yang mengukung, apalagi jika ia menjadi romantis dalam pandangan seninya. Karya seninya kemudian menjadi pengulangan yang canggih dan semakin estetik, tetapi terlepas dari spirit zaman tempat yang menghidupi. Dari proses semacam itu, banyak pemberontak seni menjadi mapan setelah zaman dan masyarakat pendukung seni menerima dan mendorongnya menjadi sebuah mitos baru. Oleh karena itu menjadi menarik untuk melihat bagaimana setelah melewati kurun waktu yang lama, seorang seniman dapat bertahan dalam reputasi kreatifnya.

Tetapi yang tetap dipertahankan dalam keterhimpitan itu adalah menyalakan kreativitas untuk melukis dan menjaga moral ideologi keseniaanya supaya tidak terpiuh oleh materi

Dia tidak memanfaatkan peluang melukis manis dan eksotis agar karyanya terserap oleh pasar. Dalam ruang sosial yang masih terbatas oleh belenggu stigma politik, ia justru mempunyai kepekaan psikologis dan pengendapan dalam membaca kondisi sosial di sekitarnya.

Dan, dengan bahagia dan bangga, saya mewakili Pengurus Yayasan BJ menyampaikan nama seniman itu : yang terhormat bapak  Djoko Pekik.

Selamat buat pencapaian panjang dalam perjalanan hidup bapak.

Yogyakarta 6 Januari 2014

Pengurus Yayasan BJ

Pengumuman Pemenang dan 10 besar Lomba Blog Biennale Jogja XII: BJ Bloghopping

Biennale Jogja XII memilih blogpost dari Kurniadi Widodo sebagai pemenang lomba blog BJXII: BJ BlogHopping. Keputusan pemilihan pemenang ini berdasarkan sejumlah kualitas yang terdapat di blog Kurniadi yaitu: 1) Penulisan yang menampilkan sudut pandangnya yang unik dan reflektif akan karya-karya seni di BJXII, juga berbagai perspektif tentang makna seni rupa itu sendiri bagi dirinya. 2) Gaya penulisan yang cerdas, personal tapi tetap mencerminkan spirit generasi baru penikmat seni rupa terkini. 3) Komunikasi visual dengan desain dan foto-foto yang merupakan respon kreatifnya terhadap karya-karya di Biennale Jogja. Kami merasa dengan semua itu, blog ini bisa menjadi sebuah contoh yang baik dan relevan dalam menunjukkan cara apresiasi generasi muda sekarang ini, yang diharapkan untuk menginspirasi yang lainnya.
Berikut ini daftar Pemenang 10 besar BJ Bloghop hasil rapat tim juri:

 

Pemenang BJ Bloghop: