Belajar Bahasa Waria Lewat Film

Ditulis oleh Brigitta Engla Aprianti (Peserta Program Magang Penulisan Seni dan Kewartawanan)

“Mbak, ngerti nggak sama terjemahan di film itu?” tanya Alona.

Paris is Burning menjadi film terakhir yang ditayangkan oleh Makcik Project di Oxen Free pada Selasa, 12 November 2013 pukul 16.00. Film tersebut menjadi pemantik dalam pembukaan pameran Parallel Events kelompok Makcik Project. Yang kemudian dipertontonkan adalah pemberian subtitle bahasa waria (makcik) dalam film. Bahasa makcik merupakan bahasa Indonesia yang ‘diplesetkan’. Hanya kelompok waria dan orang yang biasa berkumpul dengan waria dapat paham bahasa makcik.

“Bahasa Makcik muncul dalam percakapan sehari-hari. Dalam tiap komunitas waria, ada beberapa kosa kata yang sama dan berbeda. Tergantung dari kreativitas para waria,” ungkap Alona, salah satu waria yang berkolaborasi dalam Makcik Project. Selama pemutaran film terlihat  beberapa waria membantu penonton untuk memahami bahasa makcik. Bicara bahasa adalah bicara manusia. Bahasa pun menjadi salah satu unsur identitas dan eksistensi manusia. Waria ingin menunjukan bahwa idenitas dan eksistensi mereka tercermin melalui bahasa makcik.

Makcik Project Episode #2 diinisiasi oleh tiga seniman yaitu Ferial Afiff, Lashita Situmorang, dan Jimmy Ong serta dua komunitas yaitu X-CODE Film dan Broken Mirror Project. Proyek yang dikurasi oleh Grace Samboh ini berangkat dari pertanyaan bagaimana pekerja seni dapat memberikan kontribusi untuk wanita transgender.

Ide menonton film dicetuskan oleh Lashita Situmorang, yang sebelumnya sudah memutarkan delapan film dengan judul berbeda tiap minggunya. Film-film yang dipertontonkan selalu dalam konteks kehidupan waria. Harapannya adalah setiap film dapat menginspirasi masyarakat umum dan waria itu sendiri.

Dalam sesi ini juga diputar film berjudul Air Terjun Buanci hasil karya Wacan Management. Ide dan proses pembuatan film diproduksi sendiri oleh para waria. Mereka membuat mitos tentang air terjun yang dapat mengubah seseorang menjadi wanita seutuhnya.  Lashita ingin mengajak waria untuk keluar dari zona nyamannya dengan cara membawa mereka ke ruang-ruang publik. Mereka dibiarkan untuk duduk di mana saja selama film berlangsung. Tujuannya adalah agar waria bisa berbaur dengan masyarakat umum. “Karena pada dasarnya orang kebanyakan tidak mendiskriminasi kaum waria, tetapi para waria yang mendiskriminasi dirinya sendiri,” tambah Grace Samboh.

Pameran Makcik Project Episode #2 yang berjudul We Are All Human berlangsung mulai Rabu, 13 November hingga Selasa, 26 November 2013 di Kedai Kebun Forum. Film-film yang telah dialihbahasakan ini dapat diunduh secara gratis selama pameran berlangsung.

(Foto diambil dari http://makcikproject.tumblr.com/post/61075875614/malam-makcik-makcik-night-oxen-free-yk-has)