Cerita Prilla Tania di Sharjah: Hari-hari awal dan kunjungan seniman

31 Agustus 2013

Cerita dimulai dengan telefon kamar hotel yang berdering jam 10 malam. Waktu biologis yang masih 3 jam lebih awal sudah menuntut tidur.

Di ujung lainnya seorang bapak berbicara bahasa Inggris dengan logat khas, menanyakan sebuah nama yang sulit dimengerti. Jawabanku, bukan. Tanyanya lagi, anda siapa? Kujawab, Prilla Tania. Dia memintaku mengejanya. Dia kembali bertanya. Aku lupa pertanyaannya tapi kujawab Maraya Art Center. Lalu dia menanyakan apakah aku tahu Shurooq. Kujawab “the company”. Kemudian dia bertanya lagi, “Apakah kamu bersama orang lain di sana?”.

Wah, kini aku bisa menduga kenapa dia menelefon begini larut!

Jawabanku tidak. Kemudian dia bertanya kembali apakah anda punya keluhan tentang fasilitas kamar? Kebetulan tadi aku mencoba menyalakan kompor tapi gasnya tidak keluar dan hari sebelumnya mencoba menyalakan televisi tapi ada bunyi bunga api di bagian belakangnya. Televisi sebetulnya tidak begitu masalah tapi kebetulan dia menanyakan jadi kulaporkan juga. Sesudah itu dia berkata akan mengirim seseorang. Tak kukira saat itu juga, orang tersebut tiba.

Seperti biasa lampu seluruh ruangan sudah dimatikan, tirai tertutup rapat. Tiba-tiba bel kamar berbunyi. Dalam kegelapan aku mencoba meraih pintu depan yang jaraknya tidak dekat. Seorang pria Filipina (kuduga) berdiri di depan pintu. Rasa-rasanya kulihat dia siang sebelumnya ketika aku hendak keluar kamar.

Dia ternyata dikirim bapak yang menelefon tadi. Kemudian dia memeriksa kompor gas, berhasil dinyalakan. Ternyata memang ada tombol rahasia yang harus dinyalakan dulu untuk mengalirkan gas ke kompor. Kemudian televisi, siaran yang dihiasi tarian semut berbunyi itu muncul lagi tapi tidak segenas sebelumnya. Lalu kukatakan itu bunyi yang aneh, kurasa berasal dari sambungan kabel antena. Sebagai seseorang yang sering berhadapan dengan alat-alat elektronik semacam ini tentunya aku mencoba menganalisa. Lalu dia katakan akan kembali lagi besok sore untuk mengganti pesawat televisi itu. Oke. Dia keluar. Selesai.

Nah kembali ke telefon sebelumnya. Kuduga telefon itu dilakukan karena terpampang tanda “Do Not Disturb” seharian di gagang pintu kamarku. Apakah karena itu?

Aku kurang akrab dengan budaya hotel tapi apakah itu yang menjadi persoalan? Alasanku memasang tanda itu adalah karena memang aku membutuhkan ruangan itu untuk tidak dimasuki siapapun. Dengan laptop, buku, catatan, dan kamera bergeletakan di ruangan dan tidak ingin barang-barang itu berpindah, pemikiranku yang sederhana adalah memasang tanda itu. Karena artinya tidak akan ada orang yang datang dan “mengganggu” ruangan ini. Tapi mungkin sudah jadi budaya hotel bahwa kamar harus mendapat kunjungan dari cleaning service setiap harinya. Hihihi. Ini menimbulkan ide sebuah video berjudul “automatic” yang intinya tentang “pelayanan” dari orang yang anonimus bagi kita dan dilakukan “dibelakang mata” sehingga menjadi suatu yang otomatis seperti oleh mesin atau sulap.

Hehehe. Ini video mah karya bonus. Iseng-iseng!

jalanan sharjah

Aku harus mencari cara lain untuk mengenal tempat ini. Biasanya pertama yang kulakukan adalah dengan berjalan-jalan (dengan kaki) untuk memahami wilayah dan sedikit banyak melihat kehidupan sehari-hari. Tapi di sini nampaknya itu kurang efektif. Karena jalan kaki bukan ide yang baik untuk dilakukan sepanjang hari ataupun malam. Meskipun akhirnya tetap aku lakukan juga sedikit.  Aku akan mulai mengobrol dengan teman-teman di Maraya, tentang keseharian di sini.

***

3 September 2013

Kemarin mengunjungi seniman Ebtisam Abdul Aziz dan Nasir Nasrallah di studio mereka di daerah kota lama. Ternyata daerah itu HIDUP banget. Karena di sekitar Al-Qasba sini aku merasa agak “dingin” suasananya.

Seru! Banyak saling berbagi cerita. Menarik karena keduanya tidak punya latar belakang pendidikan seni rupa. Yang satu belajar matematika dan yang lainnya belajar engineering. Dengan Ebtisam, aku banyak dapat inspirasi karena dia juga bekerja dengan macam-macam medium. Mulai dari lukisan sampai video performance. Dan dia sudah ikut banyak pameran besar. Menarik dari dia, bahwa identitasnya sebagai muslim cukup kuat tapi tidak harus muncul sebagai karya yang menonjolkan persoalan itu. Dia juga percaya dengan kerja tangan.

Dengan Nasir, kami sama-sama penggemar kertas tapi kalau dia lebih dalam bentuk buku. Dia juga bekerja dengan macam-macam medium. Ah ya, aku senang pikiran Ebti dan Nasir yang jahil dan diterapkan dalam karyanya. Sangat cocok!

Aku berharap bisa melanjutkan kerja sama dengan Nasir. Aku janji membuatkan buku dari “Toekang Saeh di Sanggar Kami” (studio kertasku di Bandung). Selain itu juga kemarin aku ikut workshop dari seniman Wafa Ibrahim (kalau tidak salah :D). Malam ini aku akan mengunjungi Ammar Al Attar.

Tadi pagi, aku mengunjungi Al-Majaz dengan Giuseppe. Kebetulan dia akan bertemu dengan graphic designer Maraya. Lalu aku masuk ke salah satu karyanya Wafa Bilal. Ruangannya adalah kamera obscura. Ini juga ada fotonya.

Sejauh ini gagasan karyaku kabur lagi. Tapi mungkin aku akan coba kosongkan gagasan dulu dan berfikir ulang sambil menyerap pengalaman sebanyak-banyaknya di sini.

(Catatan Redaktur: Saat ini, Prilla Tania sedang menjalankan residensi Maraya Art Centre, Sharjah, Uni Emirat Arab, sebagai bagian dari Proyek Residensi Biennale Jogja XII. Residensi ini berlangsung mulai dari 28 Agustus hingga 20 September 2013. Melalui seri tulisan ini, Prilla Tania akan mencatat pengalamannya selama menjalankan residensi tersebut.)