Salwa Aleryani Mengunjungi Heri Pemad Art Management

oleh Robertus Rony Setiawan (Peserta Program Magang Penulisan Seni dan Kewartawanan)

Sebagai persiapan perhelatan seni Biennale Jogja XII (16 November 2013–6 Januari 2014), seniman dari negeri Jazirah Arab akan melakukan residensi di Indonesia. Salah satunya ialah Salwa Aleryani, seniman yang berasal dari Sana’a, Yaman, ini akan melakukan residensinya di Yogyakarta selama sebulan terhitung sejak Jumat (23/8). Terkait hal itu, Salwa mula-mula mengunjungi beberapa ruang seni publik, seperti studio-studio seniman dan galeri seni. Dalam kunjungan itu, Salwa menjalin perkenalan serta diskusi dengan para pegiat kesenian.

Senin (26/8) lalu misalnya, Salwa berkesempatan mengunjungi Heri Pemad Art Management (HPAM), di Soboman, Kasihan, Bantul. Bersama Koordinator Seniman dan Ruang Pamer Biennale Jogja, Rismilliana Wijayanti, Salwa berbincang-bincang dengan Satriagama Rakantaseta. Seto, begitu lelaki yang menjabat sebagai Director HPAM itu biasa disapa, berbagi seputar perkembangan seni rupa di Indonesia. Beberapa di antaranya ialah soal peran manajemen seni yang urgent dan relevan untuk regenerasi seniman. Sebagaimana diupayakan oleh HPAM, kata Seto, “Sebenarnya banyak seniman muda yang berbakat, tetapi mungkin masih belum berani memajang karyanya.”

Menanggapi hal itu, Salwa memandang bahwa pemerintah atau negara memiliki fungsi penting mendukung aktivitas berkesenian. Secara khusus di Indonesia, menurutnya, seniman-seniman di Indonesia tak sekadar dapat mencontoh seniman negara lain, tapi bahkan sebagai perintis (role model) dalam berkarya seni. Di titik itu, peran manajerial seni seperti dijalankan HPAM diperlukan demi mendorong geliat kesenian, khususnya produktivitas seniman dalam berkarya. “Selain pemberian wawasan pemanfaatan teknologi dalam seni, yang juga diperlukan adalah membina penikmat seni,” ujar Seto.

Melalui perjumpaan dan diskusi-diskusi semacam inilah, Salwa menuturkan, ia ingin membangun relasi dengan para pelaku atau seniman di Indonesia. Melalui perkenalan tersebut, Salwa mengharapkan terbukanya kesempatan kerjasama dan pertukaran ide secara mendalam antara seniman Indonesia dan Arab. Pada minggu pertama tinggal di Yogya, Salwa pun menggali ide berkesenian dengan mencermati repihan interaksi masyarakat Yogya. Setelah mengobservasi momen-momen interaksi masyarakat di ruang-ruang publik, semisal perilaku masyarakat berlalu lintas, dia mengembangkan inspirasi untuk digubah menjadi karya seni.(*)