Sensasi Perbincangan Kontemporer Indonesia dan Yaman

Liputan kunjungan Salwa Aleryani (seniman residensi Biennale Jogja XII) ke studio Agus Suwage, oleh Ferika Yustina Hatmoko

Di hari ke delapan masa residensinya untuk Biennale Jogja XII, Kamis 29 Agustus 2013 Salwa berkesempatan mengunjungi rumah sekaligus studio milik Agus Suwage; seorang seniman kontemporer senior yang lebih banyak mengeksplorasi seni gambar (drawing). Turut serta dalam kunjungan Salwa kali ini yaitu Devie Triasari (Koordinator divisi residensi Biennale Jogja), Yolandri (Asisten Seniman), Irine Octavianti Kusuma Wardhanie (Koordinator Magang Penulisan Seni Rupa dan Kewartawanan atau PMPSK) dan Ferika Yustina Hatmoko (peserta magang PMPSK) banyak berbagi cerita mengenai dunia seni antara Yaman dan Indonesia khususnya Jogjakarta.

Obrolan-obrolan ringan yang dimulai dengan pertanyaan Agus Suwage tentang kecocokan lidah Salwa dengan masakan di Jogjakarta sampai akhirnya obrolan ini semakin menarik karena Agus Suwage menunjukkan salah satu karyanya yaitu patung berbentuk terompet dan seorang muadzin menghadap pada gaungnya dalam posisi mengangkat tangan, persis saat menyerukan adzan. Terompet ini menghasilkan suara adzan dengan lantunan yang telah dimodifikasi menjadi lebih klasik dan halus, akan tetapi tidak merubah lantunan adzan sebenarnya. Pengamatan terhadap karya ini, membawa kami pada perbincangan yang meluas, terkait islam dan budaya islam di Indonesia. Suara adzan yang digemakan oleh beberapa mesjid diwaktu yang bersamaan, menghasilkan suara yang terlalu mengaung dan frekuensinya berdentuman satu sama lain. Menurut Agus suara itu tidak nyaman didengar, hingga ia menyebutnya sebagai polusi suara.

Kesempatan kami dalam mengamati ruang kerja beliau mengarahkan pada perbincangan yang menarik dan panjang. Agus Suwage kerap kali menunjukkan hasil karyaya baik dalam bentuk karya, media, cara kerja, sampai katalog pameran tunggal maupun bersama.

“Dalam berkarya, saya sering mendaur ulang karya lama, seperti pada karya Luxury Crime, 2007-2009, Stainless Steel, Gold Plated Brass and Rice, 124 x 77 x 52 cm untuk dijadikan karya baru dengan media yang berbeda” ucap Agus Suwage.

Perbedaan kebudayaan yang cukup jauh berbeda dari kedua seniman ini, melahirkan gagasan yang baru dan menarik. Selain alasan perbedaan kebudayaan, ada kesamaan yang muncul dari mereka, yakni keduanya memiliki konsentrasi di bidang desain motif dan simbol. Kedua alasan kuat ini mengarahkan mereka melahirkan ketertarikan untuk menciptakan kombinasi motif dari simbol-simbol yang direpresentasi dari budaya islam dan barat. Dapat dikatakan dua hal yang berseberangan, akan tetapi keduanya masih dalam ranah seni rupa  kontemporer.

Perbincangan singkat, meluas dan sangat menarik ini ditutup dengan performance oleh Agus Suwage dengan memainkan gitar dan ukulele sambil mengiringi Salwa dan tim bernyanyi bersama.