Category Archives: TALK, INTERNSHIP, AWARDS

BJXII-Lifetime Achievement Art Award 2013

Selamat malam,

Pada tahun ini pemberian penghargaan seniman LAAA( Lifetime Achievement Art Award) memasuki putaran yang ke 5. Tradisi baru yang dilakukan dalam rangka Biennale Jogja sejak 2005

Setiap kali berkait dengan pemberian ini , Pengurus Yayasan BJ bergumul untuk menjawab 2 pertanyaan besar. Dan tentunya ini menjadi pertanyaan bagi publik juga. Yaitu siapa dan mengapa….

Mengapa pemberian anugerah ini penting? Seniman dalam perjalanan karirnya seringkali digambarkan sebagai ‘menapaki jalan sunyi’. Pergumulan2 yang rinci tidaklah sepenuhnya dapat diungkap.

Sekalipun demikian orang memberikan  pengakuan bahwa pada saat ini peran profetik banyak dilakukan oleh seniman. Terlebih dikala terjadi disorientasi dalam kehidupan sosial , manakala ada kabut tebal yang melingkupi perjalanan bangsa…seniman memberikan kesaksian yang dapat menjadi suluh perenungan.

Seni menjagai keterjagaan kemanusiaan kita.

Apresiasi yang diterima sudah pasti ada dan cukup beragam bentuk serta intensitasnya. Komunikasi timbal balik antara seniman dengan masyarakat merupakan komunikasi energi yang saling menghidupi, bagian dari ekosistem budaya, bahkan realitas yang lebih luas ekosistem kehidupan.

‘Good art gives energy’ begitu kata orang.

Peran serta pencapaian panjang inilah yang ingin diberi tanda. Dan diharapkan juga menjadi inspirasi bagi banyak orang,khususnya generasi yang lebih muda.

Ada nilai keteladanan seperti : keteguhan hati, persistent, passion, konsistensi….disamping kualitas artistik dan bobot wacana yang diperjuangkan.

Semangat dan nilai2 inilah yang ingin diberi tanda.

Ada seorang seniman yang malam ini mendapatkan penghargaan LAAA. Dia sudah sangat dikenal .

Tentu saya tidak akan memaparkan argument kelayakan atas pemilihan seniman tersebut dari aspek capaian beliau dalam aras estetik atau kualitas teknik.

Pilihan artistik dan pandangan hidup bisa saja dilihat secara berbeda, namun bagaimana keteguhan seseorang bertahan dan berjuang dalam memperjuangkan sesuatu yang dianggap penting merupakan nilai yang universal.

Gambaran sikap nilai yang beliau hidupi dalam rentang yang panjang  dapat disebutkan , cuplikan/quotation dari pakar( dari tulisan Agus Burhan) dalam katalog pameran beliau belum lama ini :

Dalam Seni lukis modern Indonesia hanya sedikit seniman yang bisa mempertahankan reputasi kreatifnya terus menerus dengan mengikuti berbagai perubahan spirit zaman yang terjadi. Dari perjalanan waktu ke waktu kreativitas akan aus jika seniman kemudian terjebak pada perspektifnya yang mengukung, apalagi jika ia menjadi romantis dalam pandangan seninya. Karya seninya kemudian menjadi pengulangan yang canggih dan semakin estetik, tetapi terlepas dari spirit zaman tempat yang menghidupi. Dari proses semacam itu, banyak pemberontak seni menjadi mapan setelah zaman dan masyarakat pendukung seni menerima dan mendorongnya menjadi sebuah mitos baru. Oleh karena itu menjadi menarik untuk melihat bagaimana setelah melewati kurun waktu yang lama, seorang seniman dapat bertahan dalam reputasi kreatifnya.

Tetapi yang tetap dipertahankan dalam keterhimpitan itu adalah menyalakan kreativitas untuk melukis dan menjaga moral ideologi keseniaanya supaya tidak terpiuh oleh materi

Dia tidak memanfaatkan peluang melukis manis dan eksotis agar karyanya terserap oleh pasar. Dalam ruang sosial yang masih terbatas oleh belenggu stigma politik, ia justru mempunyai kepekaan psikologis dan pengendapan dalam membaca kondisi sosial di sekitarnya.

Dan, dengan bahagia dan bangga, saya mewakili Pengurus Yayasan BJ menyampaikan nama seniman itu : yang terhormat bapak  Djoko Pekik.

Selamat buat pencapaian panjang dalam perjalanan hidup bapak.

Yogyakarta 6 Januari 2014

Pengurus Yayasan BJ

Rangkaian Acara Biennale Forum

BIENNALE FORUM

Senin, 18 November 2013, 09.00 – 17.00 WIB. Di Taman Budaya Yogyakarta

Pengampu: Agung Hujatnikajennong, Farah Wardani

Pembicara: UBIK, Dina Danish, Magdi Mostafa, Ayman Yousri, Prilla Tania, Venzha Christiawan, Hendro Wiyanto

Penanggap: Ahmad Hissou, Leeza Ahmady, Ade Darmawan, Alia Swastika

Terbuka untuk umum.

 

Biennale Forum adalah sebuah acara gabungan dari sesi pertanggungjawaban kurator BJXII, presentasi seniman yang terlibat, dan forum diskusi bersama antara seniman, kurator dan pembicara tamu yang khusus kami undang di acara ini.  Acara ini terbuka untuk umum dan dijadikan sebagai ajang untuk mempertemukan serta menjelaskan  gagasan kurator, proses artistik seniman dan pengamat kepada publik.  Ini mencakup juga membahas proses yang telah berjalan sejak program sosialisasi dan residensi seniman berlangsung di Indonesia dan kawasan Arab, dengan menampilkan beberapa seniman yang telah menjalankan proses tersebut.

 

Biennale Forum diselenggarakan dalam format forum diskusi/ obrolan bersama yang berjalan secara informal, antara pembicara dan penanggap, dengan fokus bahasan bertajuk “Dialog Dalam Perjumpaan: Lanskap Seni Rupa Indonesia dan Arab”.

Timeless Repetitions: Icono-pop and Egyptian Cinema in Contemporary Art from the Middle East

Pemutaran Film dan Diskusi bersama Nat Muller
Jumat, 6 September 2013, pukul 16.00 WIB- selesai
di IVAA (Indonesian Visual Art Archive)
Jalan Ireda, Gang Hiperkes, Dipowinatan MG I/188 A-B, Keparakan
Yogyakarta, Indonesia

Bagi para seniman kontemporer dari Timur Tengah, perfilman Mesir adalah gudang harta karun dengan berbagai citra ikonografis dan referensi populer. Mulai dari ikon layar Mesir Suad Hosni dan piramida yang selalu menarik bagi pemirsa televisi, hingga adegan kekerasan polisi di dalam film laga. Film-film Mesir adalah materi sumber utama untuk mempertanyakan isu-isu di dalam budaya populer, visual, historiografi, narasi dan representasi, termasuk juga isu-isu sosial dan politik. Presentasi ini akan membahas karya seniman-seniman Maha Maamoun, Rania Stephan, dan Raed Yassin.

Nat Muller adalah kurator dan kritikus yang tinggal di Rotterdam, Belanda, dengan ketertarikan utama pada seni media dan seni kontemporer dari Timur Tengah. Tulisannya telah dipublikasikan dalam berbagai terbitan dan merupakan kontributor tetap untuk Springerin, MetropolisM. Bersama dengan Alessandro Ludovico, Muller mengedit Mag.net Reader2: Between Paper and Pixel (2007), and Mag.net Reader3: Processual Publishing, Actual Gestures (2009), berdasarkan serangkaian debat yang diselenggarakan oleh Documenta XII. Ia merupakan kurator untuk pemutaran video dan film di berbagai festival internasional, termasuk Rotterdam’s International Film Festival, Norwegian Short Film Festival, dan Video D.U.M.B.O.

Kelas Penulisan Seni, PMPSK BJ XII

Jogja (16/07) kelas Penulisan Seni dan Kewartawanan (PMPSK) BJ XII untuk kali ini diadakan di Kedai Kebun Forum. Kelas yang dihadiri oleh 10 orang peserta magang dimulai dengan sambutan oleh Yustina Neni selaku Direktur Biennale Jogja yang menekankan mengenai pentingnya etika dalam mencari sebuah informasi. Ini penting mengingat bahwa peserta magang bisa kemudian terjun langsung untuk mempraktekkan hasil pelatihan mereka.

Kelas kemudian diisi dengan materi yang disampaikan oleh Mikke Susanto yang merupakan seorang kurator dan ahli seni sekaligus juga dosen di ISI. Pada kelas kali ini Mikke Susanto menjelaskan mengenai tugas dan tanggung jawab seoang penulis yang memiliki tanggung jawab terhadap masyarakt, karena apa-apa yang sudah dituliskan tidak dapat ditarik kembali untuk itu diperlukan banyak latihan dalam menulis dan mengolah data.

Sebelum menulis sebaiknya dibuat kerangka pikiran dulu ujar Mikke Susanto. Selain menyusun kerangka berpikir, Mikke juga menyarankan agar sebelum menulis harus melihat ‘zona’ luar yang mempengaruhi topik yang akan dijadikan tulisan. Ini diperlukan agar tulisan menjadi lebih berbobot, “tulisan pendek itu memang sulit, karena banyak hal menarik yang ingin ditulis” ujar Mikke.  Selain itu pilihan kata atau diksi pun turut mempengaruhi tulisan karena itu berkaitan dengan kenyamanan membaca. Tulisan yang bagus adalah tulisan yang tidak memiliki jarak dengan pembaca, dalam kata lain pembaca bisa menangkap tujuan atau inti tulisan tanpa merasa penulis terlalu bertele-tele.

Sebelum mengakhiri kelas, Mikke meminta peserta magang yang hadir malam itu untuk mempresentasikan hasil tulisan mereka tentang ‘botol’, dimulai dari latar belakang cerita hingga para peserta magang bisa saling memberi penilaian pada tiap tulisan.

Program magang kelas Penulisan Seni dan Kewartawanan (PMPSK) BJ XII ini berakhir pada pukul 21.30, tak lupa peserta magang diberikan tugas oleh Mikke mengenai Biennale Jogja dan peserta magang diharapkan untuk melakukan riset terlebih dulu sebelum mulai menulis.